Tantangan Gubernur BI Baru

Terpilihnya Agus DW Martowardojo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menggantikan Darmin Nasution, setidaknya akan memberikan dinamika baru dalam sejarah bank sentral di negeri ini. Pasalnya, baru pertama kali ini puncak kepemimpinan BI dipegang oleh mantan bankir. Sebelumnya Agus Marto adalah mantan dirut Bank Bumiputera, Bank Ekspor Impor Indonesia, Bank Permata dan Bank Mandiri, sebelum menjabat menteri keuangan yang terakhir.

Kepemimpinan BI sejak Jusuf Muda Dalam hingga yang terakhir Darmin Nasution, umumnya berlatar belakang makro ekonomi dan mendalami studi moneter fiskal, mengingat fungsi utama BI adalah menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah, serta mendorong kelancaran produksi dan pembangunan guna meningkatkan taraf hidup rakyat.

Bagaimanapun juga, kebijakan moneter akan memberi pengaruh yang besar terhadap tatanan ekonomi suatu bangsa. Kebijakan yang diambil otoritas moneter sangat mewarnai bagaimana perkembangan ekonomi makro yang terjadi. Kebijakan moneter menjadi kendali penting dalam perekonomian nasional.

Tentunya kita menyadari, sektor moneter bukan satu-satunya faktor penentu. Bukan pula faktor utama. Bersama-sama dengan kebijakan makro lainnya yang saling mendukung dan terkait, kebijakan moneter diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu. Berbeda dengan kebijakan bankir profesional, yang umumnya bertujuan hanya untuk kepentingan meningkatkan keuntungan bisnis bank yang dikelolanya.

Target akhir kebijakan moneter adalah suatu kondisi ekonomi makro yang ingin dicapai mencakup pertumbuhan ekonomi, pemerataan pendapatan, kesempatan kerja, kestabilan harga dan keseimbangan neraca pembayaran.

Idealnya, semua sasaran perekonomian tersebut dapat dicapai secara serempak dan optimal. Artinya, dapat mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat pengangguran dan inflasi yang rendah serta keseimbangan neraca pembayaran Indonesia yang mantap. Namun belakangan ini kita sedang menghadapi fenomena defisit kembar (twin deficit) di sisi APBN dan neraca pembayaran Indonesia, yang tentunya merupakan tantangan di depan mata bagi gubernur BI yang baru.

Selain itu, harus kita akui selama krisis ini kita kerap kali dikecewakan kenyataan bahwa harapan menuju pemulihan ekonomi banyak ditutupi kabut masalah struktural dan ketidakstabilan di bidang ekonomi, moneter, hukum, sosial, politik, dan keamanan. Namun, tidak bisa diingkari, dengan kerja keras, saling pengertian, dan kesabaran kita, semua persoalan itu mulai tersingkap.

Dari sisi eksternal, situasi ekonomi global dalam beberapa tahun belakangan ini diperkirakan akan mendorong semakin ketatnya persaingan antarnegara dan memicu proteksionisme. Dari sisi internal, berbagai permasalahan struktural, khususnya yang terkait dengan penegakan hukum, otonomi daerah, dan ketenagakerjaan, yang tahun lalu telah menyebabkan sektor riil kurang responsif terhadap perbaikan kondisi makroekonomi dan moneter, tahun ini diperkirakan masih akan membatasi pertumbuhan investasi dan ekspor.

Menghadapi tahun politik menjelang Pemilu 2014, setidaknya ancaman terhadap gangguan stabilitas nasional oleh berbagai aksi unjuk rasa yang berpotensi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional patut diwaspadai secara cermat. Karena salah satu faktor risiko yang perlu diwaspadai dampak negatifnya terhadap kestabilan nilai tukar rupiah adalah meningkatnya suhu politik menjelang pesta demokrasi rakyat tersebut. Selamat buat Gubernur BI baru!

Related posts