Dana CSR Harus Lebih Dioptimalkan - Jaga Keberadaan Hutan Dunia

Setiap tahunnya, 2% dari hutan Indonesia menyusut. Untuk itu, optimalisasi dana CSR merupakan salah satu strategi untuk menjaga keberadaan hutan di dunia, khususnya Indonesia.

NERACA

Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan satwa liar yang hidup didalamnya terancam punah. Ini disebabkan karena global warming, pemanasan global. Sehingga fungsi hutan sebagai paru-paru dunia mulai menipis. Lagi-lagi pemanasan global ini justru disebakan oleh ulah manusia itu sendiri.

”Melakukan perusakan hutan hujan untuk kepentingan ekonomi sama halnya dengan membakar lukisan Renaisance untuk memasak makanan.” seperti itulah yang pernah diungkapkan oleh Edward O. Wilson tentang pentingnya menjaga hutan.

Sementara itu, menurut Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Penyebab terbesar terhadap masalah hutan Indonesia adalah penebangan liar. Selain itu, data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia juga menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang.

Selain itu, penyebab lainnya adalah alih fungsi hutan menjadi perkebunan, kebakaran hutan dan eksploitasi hutan secara tidak lestari seperti untuk pengembangan pemukiman, dan industri. Dari tahun ke tahun aktivitas itu terus berlangsung, sampai akhirnya pemanasan global, bencana alam, seperti longsor, banjir, dan lainnya mulai melanda.

Jika seperti ini keadaanya, lantas kemana kebanggaan yang dimiliki Indonesia sebagai hutan tropis terluas ketiga dan keanekaragman hayati tertinggi di dunia? Rasanya, bukanlah hal yang aneh jika predikat atau penghargaan yang diterima Indonesia seakan hanya berlaku beberapa tahun saja. Ya, apalagi jika bukan keadaan hutan Indonesia yang mengalami perubahan yang memprihatinkan, alias kritis.

Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari hutan. Oleh karena itu, setiap organisasi Indonesia ataupun dunia yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup selalu menghimbau untuk menyelamatkan hutan.

Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya agar target partisipasi para pihak untuk menjaga keberadaan hutan di dunia, yaitu melindungi hutan, memanfaatkan hasil hutan, dan menjadikan hutan sebagai tempat rekreasi alam untuk kesejahteraan manusia? Salah satu strategi peningkatan partisipasi para pihak tersebut, digagas melalui optimalisasi dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk kegiatan pelestarian lingkungan. Bahkan presiden SBY pernah memberi arahan perlunya peran aktif dunia usaha untuk mendukung program menanam pohon dalam rangka meningkatkan penyerapan emisi karbon.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Darori menuturkan akan menampung dana CSR dari perusahaan swasta yang berminat menyerahkan sebagian CSR mereka untuk merehabilitasi hutan melalui yayasan konservasi yang tengah dibentuk pemerintah.

\"Di Indonesia ada dana pengelolaan CSR yang nilainya hampir Rp20 triliun. Sementara dana APBN untuk rehabilitasi hutan sangat kecil, perusahaan swasta bisa menyumbang untuk ikut merehabilitasi hutan,\" ujar dia.

Seperti diketahui, penggunaan dana CSR untuk kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan sudah diamanatkan dalam beberapa peraturan, yang disebut dengan kewajiban tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau lebih dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR), yaitu UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan UU Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal serta UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, yang menyebutkan bahwa Perseroan/BUMN/ penanam modal harus berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat.

Beberapa contoh korporasi yang mengalokasikan dana CSR untuk menjaga keberadaan hutan misalnya PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Melalui Program Hutan Asuh Arjuna, HMSP menjalankan aksi tanggung jawab sosial perusahaan dengan melakukan penghijauan dan reboisasi di wilayah hutan Arjuno, Pasuruan. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2009 bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta Kelompok Tani Taman Hutan rakyat (Tahura) dan difasilitasi oleh Kaliandra Sejati Foundation.

Perusahaan Indonesia lainnya yang telah menyatakan minat merehabilitasi adalah Asian Pulp and Paper yang membuat cagar biosfer Bukit Batu di Riau. Sementara grup Artha Graha punya Tommy Winata sudah berniat menggelontorkan Rp500 miliar untuk mengembalikan lingkungan hidup harimau di Bukit Barisan. Lalu, Djarum melalui program penyisihan dana sebesar Rp10 dari setiap bungkus rokoknya.

Related posts