PENGAMAT PERBANKKAN UNPAD, ALDRIN HERWANY Bank Pilih Posisi Aman Mengucurkan KUR

Bandung - Jika perbankan memilih aman dengan tidak mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah tindakan yang wajar. Sebab mereka tidak bisa sembarangan mengucurkan kredit kepada masyarakat kendati skema tanpa anggunan yang ditetapkan pemerintah sudah memiliki payung hukum. Justru dilema yang dihadapi dunia perbankan adalah masih tumpang tindihkanya aturan di Bank Indonesia (BI).

NERACA

“Payung hukum buatan pemerintah “tabrakan” dengan UU Perbankan, Peraturan Bank Indonesia dan implementasi manajemen resiko. Kalau instrument ini belum diperbaiki, ya sampai tahun kuda pun program KUR ini tidak akan sukses,” ujar pengamat perbankan Universitas Padjajaran Aldrin Herwany menjawab NeracaRabu (15/6) terkait keluhan masyarakat terhadap sulitnya memperoleh pinjaman dari program KUR.

Belum lama ini puluhan warga yang tergabung Forum Komunikasi Kemitraan Koprasi dan UMKM Sumedang melakukan dialog dengan pihak perbankan di Sumedang yang difasilitasi oleh Komisi B DPRD Sumedang serta Dinas Koperasi dan UMKM Sumedang. Dalam dialog itu anggota forum menuding ke enam bank yang ditunjuk pemerintah sebagai penyalur KUR, bertindak di luar ketentuan pemberian KUR yang ditetapkan pemerintah. Keenam bank itu yakni Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BRI, BNI, BPN, dan BJB.

“Bank bank itu tetap meminta agunan kepada warga yang mengajukan KUR. Padahal dalam ketentuannya penyaluran KUR dilakukan tanpa agunan,” ujar Oman Hidayat, Sekretaris Forum.

Karena sulit mendapatkan KUR, imbuhnya, akhirnya banyak pelaku usaha mikro yang memilih rentenir dengan bunga 25 % per bulan yang dibayar harian. Padahal KUR itu adalah murni program pemerintah dan jika ada kredit macet, pemerintah menjaminnya.

Dia juga menambahkan, pihak Bank justru terkesan menggantung nasib nasabah. Mereka yang telah mengajukan KUR sempat di survey oleh pihak Bank, tapi sudah 4 bulan lebih tidak ada jawaban.

Menurut Aldrin, jika ingin menyalurkan KUR kepada masyarakat tanpa agunan maka hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah Undang-Undang perbankan terkait kredit. Misalnya, dengan mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang klausulnya berikan KUR adalah kredittanpa jaminan.

“Kasihan kan di satu sisi perbankan ditekan, sementara di sisi lain mereka punya constraint tidak bisa sembarangan memberikan kredit tanpa agunan. Kalau keinginan pengucuran dana itu dipaksanakan, justru pihak bank bisa disalahkan,” lanjut Aldrin.

Sementara itu Peneliti Ekonomi Madya Kelompok Kajian Ekonomi Bank Indonesia Bandung Naek Tigor Sinaga mengakui bahwa perbankan dalam mengucurkan kredit terhadap masyarakat cukup hati-hati. Begitu pun dalam program KUR. Kehati-hatian ini karena terkait dengan resiko yang akan dihadapai pihak perbankan itu sendiri.

“Sebab, dana yang di kucurkan oleh bank itu kan juga ada dana pihak ketiga yang harus ikut dipertanggungjawabkan. Katakanlah, ketika terjadi kredit macet, 80 persen pemerintah akan meng-cover, 20 % lagi kan bank yang harus menanggung. Disini dilematisnya, kecuali 100 persen dana yang akan digulirkan itu dari pemerintah dengan aturan yang dibuat, mungkin bisa menyalurkannya tanpa ada beban,” kata Tigor.

Mengenaiagunan, Tigor meminta semua pihak untuk memahami bahwa uang yang dipinjamkan dalam program KUR bukan uang pemerintah, melainkan uang milik masyarakat. Pemerintah hanya menyediakan sejumlah uang untuk menjamin jika ada kredit yang macet.

Tigor menjelaskan, dalam persyaratan di adendum III Memorandum of Understanding (MoU)KUR disebutkan bahwa untuk pinjaman di atas Rp 20 juta, memang harus ada agunan tambahan untuk meminimalisirrisiko. Khusus untuk UKM pertanian, kelautan, dan perikanan, kehutanan, serta industri kecil, jumlah penjaminan dari pemerintah hanya delapan puluh persen.

“Artinya, bank harus menanggung dua puluh persen dari kredit yang macet. Oleh karena itu, bank kemudian meminta agunan lebih karena prinsip kehati-hatian saja,” katanya.

BERITA TERKAIT

Utang Negara Masih Aman

Menyimak ancaman krisis global belakangan ini, ada baiknya kita melihat kondisi sejumlah negara lain yang kondisinya tidak lebih baik dari…

Bank Dunia Minta Pemerintah Dorong Masyarakat Melek Teknologi

    NERACA   Jakarta - Bank Dunia meminta kepada pemerintah Indonesia agar terus mendorong masyarakat untuk melek teknologi (digital…

Bank Jateng Syariah Hibahkan Bus ke Undip

      NERACA   Semarang - Bank Jateng Syariah menghibahkan masing -masing satu unit bus maupun mobil Mitsubishi Pajero…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengakui jika fasilitas khusus untuk…

Padi Organik jadi Sektor Unggulan, Petani Dilatih Metode System of Rice Intensification

Padi Organik jadi Sektor Unggulan, Petani Dilatih Metode System of Rice Intensification NERACA Jakarta - Dalam menjalankan program tanggung jawab…

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen NERACA  Jakarta - Grup Lippo terus melebarkan ekspansi usaha. Tak lama…