22 Perusahaan Nasional Ekspansi ke Liberia - Perkuat Hubungan Dagang

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menjelaskan bahwa hingga kini telah ada 22 perusahaan nasional yang telah ekspansi ke Liberia. Dengan demikian, ia menyebutkan bahwa hubungan dagang antar kedua negara dinilai cukup baik. \"Sekitar 22 yang sudah punya pabrik dan kantor di sana. Seperti mie instant, permen, makanan, sabun, macam macamlah,\" ucap Gita di Jakarta, Senin (25/3).

Dalam perdagangan komoditas, salah satu perusahaan Sinarmas Grup yang telah membuka lahan di Leberia. Bahkan, lanjut dia, pemerintah Liberia telah memberikan hak konsesi lahan seluas 220.000 hektar. Golden Agri Resources (GAR) berinvestasi pada perusahaan Liberia bernama The Verdant Gund LP, suatu private equity fund memiliki Golden Veroleuium. GAR juga memiliki beberapa anak perusahaan termasuk PT Sinar Mas Agro Resources And Tekhnology (SMART).

SMART suatu perusahaan produsen barang konsumen berbasis kelapa sawit dengan total luasan lahan sebesar 138.931 hektar pada 30 September 2012. Perusahaan memiliki operasi terintegrasi dan berfokus pada minyak makan dan lemak nabati dari kelapa sawit. \"Mudah mudahan yang lain bisa mengikuti Sinar Mas. sudah ada yang menyatakan niatnya,\" jelas Gita.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti melihat, potensi pasar non konvensional atau selain Eropa dan Amerika, cukup baik. Pasar Amerika Latin dengan populasi penduduk 400 juta, total perdagangan saat ini US$ 1 triliun. Eropa Timur dengan 200 juta penduduk, total perdagangan US$ 2,3 triliun. Afrika yang memiliki 150 juta penduduk, total perdagangan US$ 300 miliar. Sedangkan Asia Tengah total perdagangan mencapai US$ 150 miliar.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengharapkan, para anggota Kadin Indonesia untuk mencari dan menemukan peluang bisnis di negara lain. Para pelaku usaha nasional bisa memanfaatkan berbagai kesepakatan bilateral di bidang ekonomi antara Indonesia dan negara lain. \"Pelaku usaha Indonesia jangan hanya menjadi macan kandang,\" ujar Presiden.

Belakangan ini, sejumlah perusahaan swasta dan BUMN mulai gencar melakukan ekspansi ke luar negeri. Indofood, misalnya, akan berinvestasi di Ukraina dan mempertimbangkan untuk masuk ke Serbia dan Turki.

Sementara PT Pertamina merupakan salah satu BUMN yang terlihat aktif berekspansi ke luar negeri. BUMN migas itu berniat untuk membeli 32 persen saham Petrodelta S.A, Venezuela milik Harvest Natural Resources. Pertamin juga tengah mengincar ladang minyak di Aljazair dan Irak. Di sektor telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), juga berambisi menguasai jaringan telekomunikasi di Asia. Saat ini, Telkom telah memiliki anak perusahaan di Singapura dan Hong Kong dengan bendera PT Telkom Indonesia Internasional.

Dorong Ekspansi

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri nasional harus mulai ekspansi ke luar negeri dan tidak hanya defensif menghadapi era globalisasi. \"Saat ini, karakteristik industri di dalam negeri rata-rata mengalokasikan 60%-70% hasil produksinya untuk pasar dalam negeri dan 30% untuk pasar ekspor. Hal ini menjadikan basis industri di Indonesia cukup aman dari kondisi global karena tidak memiliki ketergantungan ekspor,\" kata Direktur Jenderal Industri Kerja Sama Internasional Kemenperin, Agus Tjahajana.

Masuknya industri nasional ke wilayah regional, menurut Agus, merupakan langkah globalisasi industri. \"Dengan ekspansi ke luar negeri, pengembangan produk tidak hanya terpusat di dalam negeri,\" ujarnya.

Beberapa sektor industri yang berpotensi ekspansif ke kawasan regional, lanjut Agus, harus memiliki ketersediaan bahan baku cukup besar di dalam negeri, seperti industri berbasis agro, garmen dan semen. \"Untuk industri berbasis agro, posisi Indonesia cukup kuat sebab tidak banyak pemain dari luar negeri yang mampu bersaing di sektor tersebut,\" paparnya.

Agus menambahkan, industri yang berencana ekspansi ke kawasan regional harus berhitung secara cermat agar langkah yang dilakukan tetap menguntungkan dari sisi bisnis. \"Dalam mengembangkan bisnisnya di luar, pelaku industri dapat ikut bersama-sama dengan jaringan pemerintah sebagai langkah membuka pasar atau bisa juga melakukan kolaborasi,\" tandasnya.

Guna melindungi pengusaha yang ada di luar negeri, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berjanji akan meningkatkan jaminan perlindungan hukum bagi para pengusaha Indonesia yang berinvestasi di luar negeri. Jaminan ini sangat penting agar investor asal Indonesia tidak dirugikan di negeri lain. \"Kita harus berikan jaminan di negara yang besangkutan bahwa mereka akan diperlakukan dengan baik seandainya ada pelanggaran yang dilakukan mitranya, atau perubahan situasi di negara itu. Harus ada proteksinya,\" jelas Deputi Bidang Promosi BKPM Himawan Hariyoga.

Himawan menambahkan, pihaknya tengah mengusahakan revisi perjanjian-perjanjian bilateral di bidang investasi untuk meningkatkan perlindungan terhadap investasi Indonesia di luar negeri. Sebagian besar perjanjian investasi sudah dibuat lama sekali sehingga perlu penyesuaian dengan situasi saat ini.

Related posts