Ambisi Menjadi Pemimpin Pasar Regional - Semen Indonesia Rajin Akuisisi

NERACA

Jakarta- Tercatat memiliki pangsa pasar 44%, PT Semen Indonesia (SMGR) gencar melakukan pengembangan usaha di Asia Tenggara dan berharap dapat segera merealisasikan akuisisi PT Semen Baturaja.

Bahkan, pihaknya mengaku siap mengakuisisi 100% kepemilikan saham perusahaan tersebut untuk mendukung industri semen dan menguatkan posisinya di kawasan regional, “Kalau pemerintah mau jual sahamnya kita pertimbangkan. Saya berani bilang seperti ini karena ada sinergi yang kita bangun. Itu bisa saya pertanggung jawabkan ke investor.” kata Direktur Utama Semen Indonesia, Dwi Soetjipto di Jakarta, Senin (25/3).

Dengan perseroan mengakuisisi PT Semen Baturaja, menurut dia, posisi Semen Baturaja di Indonesia menjadi lebih kuat dan berkembang. Apabila akuisisi ini dapat teralisasi maka secara otomatis SMGR menjadi induk usaha perusahaan tersebut.

Oleh karena itu, apabila akusisi tersebut disetujui maka perseroan pun akan bertanggung jawab secara penuh terhadap kewajiban-kewajiban yang dimiliki oleh PT Semen Baturaja. Dengan dilakukannya akuisisi tersebut membuat Baturaja berkembang.

Disebutkan, dalam grup ini nantinya perusahaan dapat melakukan perluasannya ke beberapa daerah, seperti ke Padang. Maka secara otomatis Semen Indonesia sebagai induk.

Menurutnya, langkah ini ada baiknya dilakukan sebelum PT Semen Baturaja melaksanakan rencananya pencatatan sahamnya ke publik pada tahun ini. Hal tersebut dimaksudkan agar menjadi lebih mudah. Untuk saat ini, kata dia, perseroan sedang fokus pada pengembangan usaha di Vietnam, di mana pembangunan pabrik akan dilakukan pada tahun 2014. Kapasitas produksi yang ditargetkan sekitar satu juta ton dengan nilai investasi US$200 juta.

Dalam pengembangan usaha ini, lanjut dia, telah ada beberapa mitra yang bersedia untuk bekerja sama. “Semester pertama kami fokus di Vietnam dan mengintegrasikannya dengan Semen Indonesia. Semester kedua baru kita bicara lebih serius, saat ini ada beberapa partner.” ucapnya.

Sementara untuk ekspansi yang akan dilakukan di Papua, saat ini masih dalam tahap pengkajian dan pembuatan rencana bisnis. Kapasitas yang ditargetkan di daerah ini adalah sekitar 600 ribu ton dengan nilai investasi US$ 120 juta. Ditargetkan pembangunan dapat dilakukan paling lambat pada 2015. “Lokasinya saat ini sedang disurvei, di sekitar Sorong. Yang harus diselesaikan antara lain masalah status tanah, perizinan dan lain-lain. Kita butuh luas lahan 500 hektar,” jelasnya.

Bangun Lima Pabrik

Selain di daerah tersebut, perseroan juga sedang membangun pabrik pengemasan (packing plant), yaitu di daerah Kendari, Kalimantan Barat, Banjarmasin, Pontianak, dan Lampung. Masing-masing pabrik tersebut ditaksir menelan dana sekitar Rp120 miliar dengan kapasitas berkisar 300-500 ribu ton. Selanjutnya, perseroan juga akan menyelesaikan dua pabrik di Padang di Rembang dan kemudian akan melakukan pengembangan usaha di Myanmar dan Kamboja.

Pihaknya optimistis dapat memenuhi kebutuhan domestik yang ditaksir mencapai 30-31 juta ton dengan banyaknya rencana pembangunan pabrik baru di 2015 dan kekurangannya akan dipenuhi dari Thang Long, Vietnam. Dalam waktu panjang, pihaknya akan mengupayakan keberadaan titik-titik terminal Semen Indonesia di seluruh Asia Tenggara. Sementara untuk industri hilir, perseroan akan mengupayakan bagaimana pengamanan untuk supply batu bara.

Menurutnya, pasar bersama ASEAN akan menjadikan persaingan lebih besar. Salah satu kendala perkembangan industri yaitu dalam masalah infrastruktur, antara lain mengenao pembebasan lahan. Namun, dalam pembentukan koriodor-koridor oleh pemerintah, diharapkan akan dapat meyakinkan atau mempercepat investasi. Hal ini akan mendukung perseroan untuk menjadi pemimpin industri semen di regional.

Dijelaskan Dwi, pangsa pasar Semen Indonesia saat ini adalah sebesar 43-44%. Diproyeksikan, kebutuhan semen nasional tahun ini sebesar 60-61 juta ton. Adapun yang di-supply Semen Indonesia adalah sekitar 27-28 juta ton, atau mengalami peningkatan dibanding tahun lalu sebesar 22,6 juta ton. Pada semester pertama diperkirakan 45% dari total kebutuhan konsumsi semen domestik dapat dipenuhi perseroan. Targetnya, pada 2015, konsumsi semen akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 33 juta ton, termasuk yang ada di Vietnam.

Bagi Dividen

Sepanjang tahun 2012, kata dia, perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 20%. Pihaknya berencana akan membagikan dividen sebesar 50% dari laba yang diperoleh perseroan. “Dividen kami pertahankan seperti yang dulu, 50%. Pertimbangannya adalah dengan memperhatikan shareholding interest dan kebutuhan perusahaan untuk berkembang,” ucapnya.

Menurutnya, perseroan menganggarkan belanja modal sekitar Rp4 triliun pada 2013 yang antara lain diperuntukkan bagi pembangunan dua pabrik di Rembang dan Padang Sumatera Barat dengan kapasitas masing-masing 3 juta ton, pembangunan pabrik pengemasan, dan pengembangan ready mix. Rencananya perseroan akan gelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 30 April 2013.

Dalam laporan keuangan tahun 2012, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,93 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 24,56% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 3,96 triliun. Adapun pendapatan tercatat sebesar Rp 19,59 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 17,5% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp 16,38 triliun. (lia)

Related posts