Lifting 900 Ribu Bph Tak Realistis - Pemerintah Akan Revisi Target Produksi Minyak

NERACA

Jakarta - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini meminta kepada pemerintah untuk realistis dalam menargetkan lifting minyak. Ia mengaku target lifting minyak sebesar 900.000 barel per hari (bph) tidak realistis.

\"Tahun ini 830.000 tercapai, pemerintah apabila Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) nya ingin tidak diganggu pakailah data yang realistis,\" ujar Rudi di Jakarta, Senin (25/3).

Saat ini, kata dia, pemerintah sedang mempertimbangkan akan menurunkan target lifting minyak pada tahun ini yang mencapai 840.000 bph. Perubahan ini, nantinya akan dilakukan saat proses APBN Perubahan. \"Dalam APBN-P kira-kira Kementerian Keuangan pakai data tengah yaitu 840.000 bph,\" ungkap Rudi.

Rudi menambahkan, tahun ini sektor energi memiliki kendala dan peluang yang harus dimanfaatkan yakni tantangan mewujudkan adalah zero decline. Hal ini dikarenakan dalam 15 tahun sampai 20 tahun belakangan ini produksi terus mengalami kinerja minus. Pada 2012 terjadi 6% penurunan alamiah. \"Pada 2012 minyak hanya 92% dari target, gas 91%, BOE 91%. Kenapa tidak pernah tercapai? Karena mungkin targetnya salah,\" tuturnya.

Tidak hanya masalah lifting saja yang jauh dari target, namun kondisi lainnya adalah cadangan minyak Indonesia yang terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Hal tersebut diperparah dengan minimnya realisasi pengeboran yang justru membuat kondisi produksi sumber energi seperti minyak tidak signifikan. \"Cadangan minyak kita makin lama kian turun. Artinya, kekhawatiran pada sumber energi ini masih cukup besar,\" ujarnya.

Eksplorasi Minim

Rudi menambahkan, kondisi ini ditambah dengan masih minimnya realisasi target eksplorasi atau pengeboran sumur baru sehingga tantangan untuk melakukan zero decline merupakan tindakan pragmatis yang saat ini bisa dilakukan. Pada tahun lalu, target sumur baru yang berjumlah 250 hanya terealisasi berkisar 80 sumur. \"Dari jumlah itu pun hanya 51 sumur yang ditemukan discover,\" tegas dia.

Menurut Rudi, implikasi rendahnya realisasi pengeboran karena tingginya resiko ekplorasi di sektor migas. Kalaupun cadangan ditemukan saat pengeboran hasilnya juga tidak terlalu signifikan. \"Ibarat kita punya bak mandi. Kondisi saat ini bak mandinya itu isinya tinggal sedikit akibatnya mau mandi juga airnya kurang. Kondisi sumur migas kita dapat dikatakan lagi seperti itu,\" kata dia.

Rudi menambahkan, untuk menggenjot dan memaksimalkan produksi minyak, setidaknya para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) perlu menemukan sumur minyak yang baru. \"Setiap barel minyak yang ditemukan, maka kita perlu menemukan barel yang baru. Ini untuk menggenjot cadangan minyak,\" jelas dia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, mengatakan, dalam APBN 2013, pemerintah menetapkan asumsi lifting minyak sebesar 900.000 barel per hari. Tapi, \"Kalau memang (tidak tercapai) dan memang harus direvisi, itu berarti harus (diubah) melalui APBNP,\" ujarnya.

Menurut Hatta, perubahan asumsi ini otomatis bakal berdampak pada postur APBN. Karena itu, perubahan target lifting minyak tak bisa dilakukan di tengah jalan tanpa APBNP. Selain itu, menurut Hatta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) harus realistis dalam menetapkan target lifting minyak. Tujuannya untuk mengurangi risiko asumsi meleset, sehingga postur APBN bisa terjaga.

Perusahaan yang bakal merevisi produksi tahun ini antara lain PT Chevron Pacific Indonesia. Perusahaan ini memangkas target produksi dari 330.000 barel per hari di 2012 meryadi 32.7.000 barel per hari tahun ini. Selain itu, Pertamina EP juga bakal mengurangi produksi minyak mentah, dari sebelumnya 130.000 barel per hari tahun lalu, menjadi 121.000 barel per hari.

Direktur Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Kementerian Keuangan, Askolani, menjelaskan, pemerintah belum menghitung dampak jika realisasi lifting minyak mentah tahun ini meleset. \"Saat ini terlalu dini. Mungkin, sekitar April-Mei baru akan dihitung ulang,\" ujarnya.

Askolani bilang, pemerintah masih terus mencermati kondisi makro ke depan. Belajar dari pengalaman tahun lalu, realisasi lifting minyak memang lebih rendah dari target di APBN 2012. Hanya saja, lifting minyak yang rendah itu masih bisa dikompensasi oleh pelemahan kurs rupiah dan harga minyak yang lebih tinggi dari asumsi di APBN.

Meski begitu, ada faktor lain yang perlu dicermati, yakni potensi pembengkakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dalam APBN 2013, pemerintah menetapkan kuota BBM bersubsidi sebesar 46 juta kilo liter. Namun, dalam hitungan terakhir, konsumsi BBM bersubsidi diperkirakan bisa membengkak jadi 50 juta kilo liter. Untuk mengantisipasi kondisi ini, Hatta berharap, pengendalian dengan sistem teknologi bisa segera dijalankan.

Related posts