Epilepsi Bukan Kesurupan - Banyak Salah Persepsi

Sebagian orang sering menyalahartikan epilepsi dengan kesurupan, kerasukan, kegilaan. Epilepsi merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh pelepasan muatan listrik berlebihan dan berkala dari sekelompok sel di otak.

dr.Suryani Gunadharma,SpS (K) mengemukakan, hal ini menyebabkan penyandang epilepsi (PE) menunjukkan gejala hanya pada saat serangan, diluar serangan performa penyandang seperti keadaan kesehariannya. Inilah yang membuat penyakit ini unik, sehingga sering disalahartikan dengan kesurupan, kerasukan, kegilaan, dan lain sebagainya.

“Tanpa pengobatan yang tepat akan timbul gangguan fungsi otak yang lebih berat, hal ini akan menyebabkan semakin seringnya serangan. Hal penting yang perlu dipahami dokter dan msyarakat adalah mengenal bangkitan epilepsi dan membedakannya dengan bangkitan non epilepsi,” tuturnya.

Bangkitan epilepsi merupakan bangkitan berulang yang terjadi tanpa provokasi, tanpa sebab yang akut, misalnya trauma kepala. Di samping itu, terdapat bermacam-macam bentuk bangkitan epilepsi, tergantung bagian otak mana yang diserang, bisa berbentuk bangkitan umum (menyerang seluruh bagian otak) atau bangkitan parsial atau fokal.

Banyaknya macam bangkitan inilah yang seringkali mengakibatkan kesalahan diagnosa epilepsi yang membawa konsekuensi kesalahan pengobatan. Di samping itu, pasien kadangkala tidak dapat menceritakan bangkitan yang dialaminya dan dalam hal ini memerlukan bantuan saksi mata yang melihat kejadiannya.

Oleh karena itu, dokter harus cermat dalam mengevaluasi dan menegakkan diagnosa epilepsi. Edukasi dan sosialisasi tentang epilepsi terhadap dokter umum juga harus secara berkala dilakukan untuk menghindari kesalahan diagnosa tersebut. Apabila ditemui kasus epilepsi yang sulit diatasi, dokter harus merujuk pada dokter spesialis.

Hal ini penting mengingat jika epilepsi terdiagnosa secara dini, maka terapi epilepsi juga dapat dilakukan secara dini dan hasil yang didapatkan akan semakin baik. “Penyandang epilepsi harus patuh terhadap pengobatan dan perlu memahami bahwa pengobatan epilepsi bersifat jangka panjang,\" ungkapnya.

Selain itu, penyandang epilepsi diimbau untuk kontrol ke dokter secara teratur mengingat apabila tidak diterapi, epilepsi dapat mengakibatkan semakin luasnya area kerusakan otak yang berdampak pada menurunnya fungsi otak.

\"Masyarakat yang memiliki anggota keluarga penyandang epilepsi diharapkan dapat memotivasi mereka untuk patuh terhadap pengobatan, menjalankan pola hidup sehat serta segera membawa PE berkonsultasi ke dokter jika muncul keluhan,\" kata dia.

Self stigma dan stigma sosial merupakan masalah yang sering dialami PE dalam aktivitas mereka dalam masyarakat. Pada beberapa kasus self-stigma oleh keluarga, keluarga melakukan proteksi berlebihan yang membatasi kegiatan PE dan pada akhirnya justru meningkatkan depresi.

Di samping itu, stigma sosial juga dilakukan masyarakat pada PE yang sering mengalami kejang, misalnya di tempat kerja yang tentunya akan meningkatkan kemungkinan depresi pada PE. Oleh karena itu penting dilakukan destigmatisasi dan membangun persepsi positif terhadap PE melalui edukasi yang dilakukan secara berkesinambungan mulai dari tingkat sekolah dasar.

Related posts