Manfaatkan Pasar Obligasi

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Jakarta – Tahun ini menjadi momen yang tepat untuk menerbitkan obligasi, di saat pertumbuhan ekonomi yang positif dan inflasi terkendali. Tak ayal banyak perseroan, khususnya sektor perbankan dan keuangangan berlomba-lomba menerbitkan obligasi. Pasalnya, investasi disektor obligasi sangat menjanjikan meraup return tinggi dibandingkan dana mengendap di perbankan.

Bagi investor yang jeli, kondisi saat ini tidak mau disia-siakan untuk mengamankan investasinya di tempat yang lebih menjanjikan. Namun jauh berbeda, bagi investor pasif yang hanya mandek berinvestasi di satu tempat saja. Ramainya, perseroan menerbitkan surat utang menjadi pilihan yang dinilai nyaman ketimbang melakukan sindikasi pinjaman di bank. Karena ekspansi pengembagan bisnis jatuhnya, adalah investasi jangka panjang dan bukan jangka pendek.

Berdasarkan data Bapepam-LK hingga pertengahan Mei 2011 ada sekitar 11 penerbitan emisi obligasi di sektor jasa dengan nilai mencapai Rp 15,21 triliun. Jumlah tersebut belum termasuk 14 penawaran surat utang lainnya.

Jauh sebelumnya, di awal tahun 2011 pengamat pasar modal melihat penerbitan surat utang (obligasi) bisa mencapai Rp 146,56 triliun. Bagaimana dengan obligasi pemerintah, tentunya di awal sudah di perkirakan mencapai Rp 192,81 triliun. Sebanyak Rp 67,32 triliun merupakan obligasi yang jatuh tempo dan mulai di buyback pemerintah.

Obligasi pemerintah jatuh tempo di 2011, tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya Rp 73,266 triliun. Pada tahun ini, surat utang pemerintah yang mature dan di-buyback diantaranya SPN dan ORI. Jumlah jatuh tempo terbesar terjadi pada bulan September 2011, dengan nilai lebih dari Rp 16 triliun.

Besarnya kapitalisasi pasar obligasi di Indonesia, baik di pemerintah ataupun korporasi menjandi peluang yang menjanjikan untuk mendongkrak roda perekonomian sebagai trickle down effect. Namun ironisnya, nilai kapitalisasi yang besar itu belum mampu menyentuh roda perekonomian kelas bawah dan hanya menguntungkan para pemodal-pemodal besar.

Sejatinya, besarnya investasi yang deras masuk ke Indonesia mampu membawa perbaikan roda ekonomi rakyat kecil dan bukan menjadi lahan subur untuk meraup keuntungan para pemodal-pemodal asing. Bila hasil tersebut tidak terealisasi, maka disparitas antara yang kaya dan miskin semakin jelas dan hanya menunggu bom waktu yang lebih buruk lagi.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, seharusnya memfasilitasi hal ini dan bukan sebaliknya keranjingan menerbitkan surat utang dengan alasan klasik menutupi defisit APBN. Bangsa yang besar bukan hidup dan bergantung dari utang tetapi mengoptimalkan sumber yang ada. Jeleknya utang yang didapat bukan untuk hal produktif tetapi dihabiskan perjalanan dinas dan gaji pegawai negeri.

BERITA TERKAIT

Presiden Apresiasi Penataan Pasar dan Keindahan Taman Kumbasari Tukad Badung - Presiden Jokowi Kembali Sambangi Pasar Badung Kota Denpasar

Presiden Apresiasi Penataan Pasar dan Keindahan Taman Kumbasari Tukad Badung Presiden Jokowi Kembali Sambangi Pasar Badung Kota Denpasar NERACA Denpasar…

AKARYN Hotel Group Sebar Sayap ke Pasar Internasional

AKARYN Hotel Group Sebar Sayap ke Pasar Internasional NERACA Jakarta - AKARYN Hotel Group, hotel butik yang mewah yang tumbuh…

Pemkab Tangerang Bangun Pasar Otomotif di Balaraja

Pemkab Tangerang Bangun Pasar Otomotif di Balaraja NERACA Tangerang - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, berencana membangun pasar khusus otomotif…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Merevisi Proyek Revitalisasi SMK

  Oleh: Annisa Utami Kusuma Negara Asisten Peneliti INDEF Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2018 untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)…

Mewaspadai Gejolak Ekonomi

Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Kebijakan AS yang kembali menyerang produk asal China…

Dari Komoditas ke Industri Pengolahan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Di dunia musikal kita selalu mendengar istilah industri. Konsep dasarnya sama yaitu…