Dari Paket Program Hingga Murahnya Harga - Persaingan TV Kabel

Dulu hanya ada satu TV kabel yang masih merajai persaingan TV kabel di Indonesia, tetapi kini muncul bermacam-macam produk TV Kabel. Kebanyakan mengandalkan paket program serta harga yang sangat murah bagi para calon pelanggannya.

NERACA

Memang, tidak ada masalah dengan TV kabel. channel kartun untuk anak-anak, channel AFC, dan Channel sports tidak menjadi masalah. channel sports yang ditawarkan pun lengkap. Mulai Tenis seri Master, Wimbledon, prancis open dan turnamen-turnamen tenis lainnya tersedia. Untuk urusan bola juga tidak kalah, Liga Inggris pun tersedia beserta liga-liga tambahan lainnya.

Tidak lama Astro memperoleh hak monopoli penyiaran Liga Inggris. Indovision tidak lagi mendapatkan hak siarnya, masalah hak monopoli penyiaran Liga Inggris yang dipegang oleh Astro. Tidak lama, masalah kedua kembali muncul adalah, Astro tidak menayangkan Liga Champion, karena hak siarnya dipegang kembali oleh Indovision.

Namun, tidak lama Liga Inggris disiarkan oleh AORA TV, sebuah TV kabel baru, yang dengar-dengar adalah pecahan dari Astro, dan hal inilah yang menjadi permasalahan bagi pengguna TV kabel, monopoli siaran unggulan menjadi suatu permasalahan yang timbul.

Saat ini diperkirakan terdapat 45 juta pesawat televisi rumah tangga di Indonesia. Dari jumlah itu, penetrasi televisi berlangganan masih kurang dari 2 persennya, yakni 700.000-800.000 televisi. Jika dihitung dengan dibulatkan, Indovision mengklaim mempunyai 400.000 pelanggan, Astro sekitar 140.000, Telkomvision 120.000-an, dan sisanya First Media (dulu Kabelvision). Dibandingkan dengan Malaysia, yang angka penetrasi televisi berbayarnya mencapai 36 persen, angka itu sangat kecil.

Perusahaan-perusahaan televisi berbayar kini persaingannya kian ketat, mereka bersaing menawarkan harga yang mereka anggap murah. Tak hanya soal harga saja, masing-masing juga beradu program terbaik dan terlengkap. Persaingan akan menyempit, tetapi makin seru kalau 15 televisi berlangganan lain yang izinnya sudah dikeluarkan Menkominfo mulai tayang. Bicara program berarti bicara content.

Lantaran sama-sama menjual saluran laris, seperti HBO, HBO Signature, AXN, ESPN, Discovery Channel, Fashion TV, E! TV, hingga Disney, stasiun televisi satelit dan kabel harus mampu menyuguhkan program atau saluran khusus yang diminati masyarakat.

Astro selama ini mengandalkan enam saluran spesialnya, antara lain Astro Ceria untuk anak-anak, Astro Aruna, dan Astro Xpresi. Sedangkan Indovision sendiri memiliki dua saluran musik, yakni MNC Entertainment dan MNC Music. Ada pula MNC News. Saluran lain bisa menjadi alternatif, yakni Vision 1 untuk olahraga, Vision 2 untuk drama, dan Vision 3 Baby TV.

TV Kabel lainnya, Telkomvision, berencana untuk bekerja sama dengan TVRI membuat tayangan yang edukatif. Tidak hanya stasiun yang gencar berpromosi. Saluran pun demikian, semisal AXN. Lewat biro Red White, AXN mempromosikan Amazing Race Asia 1 dan 2 dan baru-baru ini serial Terminator. Star World dan Channel V juga termasuk yang getol berpromosi.

Kejernihan gambar pun menjadi salah-satu tolak ukur suatu TV kabel. Setiap stasiun televisi mengklaim menggunakan satelit dengan daya jangkau luas dan tampilan gambar jernih. Telkomvision memilih satelit yang berada di zona C-band, seperti yang dipakai televisi gratis. Dengan alat decoder, Telkomvision bisa menjangkau daerah terpencil selama ada listrik atau genset.

Indovision, yang juga menggunakan decoder, memilih satelit di zona S-band, yang terletak paling dekat dengan Bumi. Adapun Astro menggunakan Ku-band, paling jernih, tetapi rentan terhadap cuaca buruk. Berbeda dengan tiga televisi tersebut, First Media, seperti disebut dalam situs resminya, menawarkan televisi kabel dengan jaringan serat optik yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, dan Bali.

Telkomvision menawarkan paket prabayar dengan sistem voucher. Penjelasan gampangnya begini, kalau bulan ini ingin menonton paket olahraga, belilah voucher Rp 65.000. Bulan depan mau nonton paket film atau family, beli voucher lagi. konsumen tetap harus membeli decoder seharga Rp1,7 juta, dengan imbalan bisa menonton saluran televisi gratis dengan gambar lebih jernih. Indovision dan Astro menawarkan hal sebaliknya. Decoder dan antena dipinjamkan, tetapi ada iuran wajib bulanan yang harus dibayar. Astro mematok biaya berlangganan paling murah Rp 150.000 per bulan.

Adapun pelanggan Indovision harus membayar Rp149.000 per bulan untuk mendapatkan paket prime. Jika ingin menambah paket a la carte, yakni paket movies, sports, dan oriental, pelanggan harus menambah biaya. Sedangkan First Media adalah paket 2 in 1, cablehome plus fastnet seharga Rp188.000 per bulan. Pelanggan bisa menonton televisi sekaligus berinternet. Tawaran nonton tivi sekaligus nge-net ini juga sedang digagas Telkomvision, yang bekerja sama dengan PT Telkom menggunakan kabel telepon.

BERITA TERKAIT

Peduli Masyarakat Kurang Mampu - ACT Bagikan Paket Makanan Untuk Pemulung

Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY melalui program Humanity Food Truck membagikan ratusan paket makanan berbuka puasa gratis kepada…

Batam Antisipasi Penularan Cacar Monyet dari Singapura

Pemerintah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mengantisipasi penularan virus cacar monyet atau monkeypox, setelah Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan penemuan penderita…

Penanaman Modal Asing - Pemerintah Bidik Investasi Industri Elektronika Hingga Rp2,3 T

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya meningkatkan investasi di sektor industri elektronika dan telematika. Tujuannya untuk memperdalam struktur manufakturnya…

BERITA LAINNYA DI TEKNOLOGI

HTSnet Sediakan layanan Internet Murah Untuk UKM

PT Hawk Teknologi Solusi (HTSnet)  menyediakan layanan internet Turbo Fiber yang ditujukan bagi Usaha Kecil Menengah (UKM) agar dapat membantu…

Software Bajakan Disebut Sulit Dibrantas di Indonesia

Maraknya penggunaan software tidak berlisensi atau bajakan untuk kebutuhan bisnis maupun perorangan sudah semakin meresahkan. Berdasarkan data dari BSA I…

Jelang Pilpres, 771 Konten Hoax Warnai Dunia Maya

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo)mengidentifikasi 771 hoax pada periode Agustus 2018 hingga Februari 2019 di jagat maya, paling banyak berkaitan…