Industri Nasional “Gugup” Sambut AEC 2015 - Biaya Logistik dan Infrastruktur Jadi Kendala

NERACA

Bandung - Pemerintah boleh saja berbesar hati dan bangga dengan pertumbuhan industri yang terbilang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun biaya logistik yang terlampau mahal serta buruknya infrastruktur membuat industri nasional “gugup” menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

“Kami merasa gugup untuk menghadapi implementasi AEC 2015 yang waktunya kurang dari 2 tahun. Dari total populasi penduduk Asean sebanyak 600 juta, penduduk di Indonesia mencapai 250 juta. Kalau tidak siap, Indonesia hanya akan menjadi pasar saja,” terang Menteri Perindustrian, MS Hidayat ketika ditanya bagaimana kesiapan industri nasional dalam menghadapi implementasi AEC 2015 saat acara Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Bandung, akhir pekan lalu.

Dalam hitungan pemerintah, sektor industri nasional ikut memacu pertumbuhan perekonomian Indonesia. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sektor industri pengolahan migas pada 2012 lalu tumbuh 5,7% dan industri pengolahan non-migas meningkat 6,4% dan memberikan kontribusi sebesar 20,8 % dari total pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Namun tantangan global sudah ada didepan mata. AEC 2015 akan menjadi tantangan sekaligus peluang Indonesia dalam waktu dekat. Kekhawatiran pemerintah, menurut Hidayat, dipicu dengan masih mahalnya biaya logistik serta minimnya pembangunan infrastruktur di dalam negeri yang membuat daya saing industri nasional masih kalah dibandingkan negara kompetitor di kawasan Asean. “Di Indonesia biaya logistik saat ini rata-rata masih 16% dari total biaya produksi. Sedangkan normalnya maksimal hanya 9% sampai dengan 10%, jika tidak diperbaiki nanti Indonesia hanya menjadi penonton,” paparnya.

Sembilan Prioritas

Dari sisi industri sendiri, lanjut Hidayat, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat sektor-sektor industri unggulan yang diharapkan bisa menjadi penyelamat Indonesia saat pemberlakuan AEC 2015. “Ada sembilan komoditas industri nasional yang menjadi prioritas untuk memasuki AEC 2015 yang daya saingnya masih relatif lebih tinggi dari negara-negara Asean lainnya,” ujarnya.

Sembilan komoditas tersebut di antaranya, produk berbasis agro seperti (CPO, kakao, karet), ikan dan produk olahannya, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, kulit dan barang kulit, furnitur, makanan dan minuman, pupuk dan petrokimia, mesin dan peralatannya, serta logam dasar, besi dan baja.

Hidayat menambahkan, pihaknya terus memperkuat penguasaan pasar dalam negeri untuk tujuh cabang industri yang berpotensi terganggu dalam implementasi AEC 2015 mendatang.“Ada tujuh cabang industri yang perlu ditingkatkan daya saingnya untuk mengamankan pasar dalam negeri terhadap produk sejenis dari negara Asean lainnya. Tujuh cabang tersebut meliputi otomotif, elektronik, semen, pakaian jadi, alas kaki, makanan dan minuman serta furnitur,” tandasnya.

Peningkatan Daya Saing

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Kerjasama Industri Internasional Agus Tjahajana mengutarakan,sejumlah langkah peningkatan daya saing harus dilakukan dalam meningkatkan daya dukung iklim industri menghadapi AEC 2015. Langkah peningkatan daya saing dimaksud antara lain melalui penurunan biaya modal, biaya energi, dan biaya logistik.

\"Peningkatan daya saing ini harus dilakukan baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang,\" kata Agus. Selain itu juga adanya jaminan pasokan bahan baku, pengawasan impor untuk meredam produk ilegal, dan optimalisasi peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

\"Dalam jangka panjang, perlu juga dilakukan peningkatan faktor pendukung industri, membangun kemampuan sumber daya manusia, dan pembangunan riset serta pengembangan industri,\" kata Agus.

Berdasarkan data Global Competitiveness Report 2011-2012, peringkat Indonesia masih di bawah negara-negara ASEAN lainnya, yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura.Mengutip data dari Sekretariat ASEAN, sebagian besar perdagangan negara-negara anggota ASEAN selama ini dilakukan dengan negara-negara non-ASEAN. Kondisi tersebut menggambarkan belum sepenuhnya termanfaatkan potensi perdagangan di antara sesama negara anggota ASEAN.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengutarakan seharusnya Pemerintah harus fokus pembenahan dan penciptaan daya saing industri nasional dalam rangka AEC 2015, \"Indonesia yang mewakili 50% pasar ASEAN akan menjadi sasaran empuk bagi produsen di ASEAN. Daya saing di bidang perbankan, infrastruktur, birokrasi, dan standar kompetensi merupakan persoalan-persoalan klasik yang harus dibenahi pemerintah,\" kata Franky.

Menurut Franky, industri nasional dinilai sudah siap menghadapi AEC 2015 yang tidak terbatas oleh tarif. \"Sektor otomotif, tekstil terutama garmen, perikanan, kayu, karet, elektronik, berbasis agro khususnya kelapa sawit, bahkan IT Indonesia bisa siap dan bersaing,\" katanya.

Yang rentan adalah sektor jasa pariwisata, kesehatan dan logistik.Untuk sektor makanan dan minuman, menurut dia, Indonesia masih percaya diri karena menguasai pasar yang besar, \"Tapi tanpa peningkatan daya saing, bisa saja penetrasi pasar terancam oleh industri makanan dan minuman negara ASEAN lainnya. Saingan utama Indonesia adalah Thailand, Malaysia, dan Singapura,\" katanya.

Sedangkan Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Chris Kanter mengatakan, kesiapan sektor logistik nasional tergantung pada ketersediaan infrastruktur yang memenuhi sesuai kapasitas, \"Selama ini, daya muat jalur angkutan barang ke Tanjung Priok yang seharusnya bisa empat hingga lima kali sehari, hanya bisa satu kali. Hal tersebut membuat biaya logistik membengkak dan ini tentu akan menurunkan daya saing,\" katanya.

Related posts