Penjualan United Tractor Terus Terkoreksi - Februari Turun 40,76%

NERACA

Jakarta – Berlalunya masa keemasan sektor komoditas, menjadi beban bagi bisnis alat berat yang sebagian besar pasar penjualannya disektor tambang dan kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Setidaknya, kondisi inilah yang dialami PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mencatatkan penjualan alat berat turun 40,76% menjadi 821 unit hingga Februari 2013 dari periode sama sebelumnya 1.386 unit.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan, pada Februari 2013, perseroan menjual 421 unit alat berat dibandingkan periode sama sebelumnya 769 unit. Pangsa pasar perseroan mencapai 43% hingga Februari 2013.

Sementara itu, overbudden removal naik menjadi 127,4 juta ton hingga Februari 2013 dari periode sama sebelumnya 121,9 juta ton. Penjualan batu bara perseroan mencapai 845 ribu ton hingga Februari 2013 dari periode sama sebelumnya 1,11 juta ton.

Menurut analis dari CIMB Principal Asset Management, Fadlul Imansyah, masih terkoreksinya sektor komoditas berimbas pada sektor alat berat. Oleh karena itu, investor perlu mewaspadai kondisi ini kedepan. Pasalnya, sektor tersebut diproyeksikan masih negatif.

Sebagai informasi, United Tractor mencatatkan penurunan laba setelah pajak sepanjang tahun 2012 sebesar 2,05% menjadi Rp5,77 triliun dari periode sama sebelumnya Rp5,90 triliun. Tidak hanya itu, penjualan alat berat di tahun 2012 juga turun hanya mencapai 6.202 unit dibandingkan tahun 2011 sekitar 8.467 unit.

Direktur Keuangan PT United Tractors Tbk, Gidion Hasan pernah bilang, penurunan laba dan penjualan ini adalah dampak dari penurunan harga komoditas. Sementara bulan Juanari 2013, perseroan mencatatkan penjualan alat berat mencapai 410 unit atau naik 96,17% dari 209 unit pada Desember 2012, “Peningkatan month on month atau bulanan karena pada Desember pelaku usaha memilih penundanaan. Baru pada awal tahun memulai aksi pembelian,\"katanya.

Menurutnya, penjualan alat berat pada Januari 2013 turun secara tahunan, dimana pada Januari 2012, penjualan alat berat mencapai 617 unit, didominasi dari sektor pertambangan.

Kendati demikian, Gideon memprediksikan penjualan sepanjang 2013 akan relatif lebih baik, didorong harga batu bara. Tercatat, penjualan alat berat pada 2012 itu didominasi sektor pertambangan sekitar 54%, sektor agro 24%, sektor konstruksi 16% dan sektor kehutanan 6%.

Untuk 2013, Gidion memperkirakan, penjualan sparepart akan mencapai 10%-15%. Hal itu dikarenakan pemilik alat berat lebih memilih penggantian daripada membeli alat berat baru. Sedangkan stripping ratio diperkirakan turun 5%. (bani)

BERITA TERKAIT

Pengangguran di Banten Turun Jadi 8,52 Persen

Pengangguran di Banten Turun Jadi 8,52 Persen NERACA Serang - Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Banten pada Agustus 2018…

Seberapa Sustain Penguatan Rupiah Lewat Penjualan Obligasi?

Oleh: Djony Edward Tren penguatan rupiah yang super cepat masih menyimpan misteri. Begitu derasnya dana asing masuk dicurigai sebagai hot…

United Tractors Serap Belanja Modal 65%

NERACA Jakarta – Selain pencapaian kinerja yang cukup apik, di kuartal tiga 2018, PT United Tractors Tbk (UNTR) telah merealisasikan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Keadilan Akan Batasi Ruang Genderuwo Ekonomi

Istilah genderuwo mendadak viral setelah dicetuskan Presiden Jokowi untuk menyebut politikus yang kerjanya hanya menakut-nakuti masyarakat, pandai memengaruhi dan tidak…

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…