Penguatan IHSG Awal Pekan Masih Tertahan

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham akhir pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup terkoreksi 74 poin atas maraknya aksi jual di seluruh lapisan saham. Aksi jual ini dipicu oleh banyaknya sentimen negatif yang beredar di pasar global dan regional.

Kata analis e-Trading Securities, Andrew Argado, secara teknikal penurunan IHSG BEI Jum’at akhir pekan menembus batas level bawah di 4.750 poin sehingga diperkirakan ke depannya kembali mengalami pelemahan, “Diperkirakan, indeks BEI Senin awal pekan masih akan terkoerksi. Dimana hal itu terlihat dari beberapa indikator teknikal yang menghasilkan sinyal pelemahan yang masih akan berlanjut,\" katanya di Jakarta kemarin.

Dia menambahkan, pada perdagangan saham akhir pekan ini tercatat pelaku pasar asing melakukan jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp441 miliar dengan saham yang paling banyak dijual diantaranya bank Rakyat indonesia (BBRI), Semen gresik (SMGR), United Tractor (UNTR), Indofood Sukses Makmur (INDF), dan Alam Sutera Realty (ASRI).

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan akan bergerak di kisaran 4.650-4.850 poin. Beberapa saham-saham yang dapat diperhatikan, yakni Ciputra Surya (CTRS), Matahari Putra Prima (MPPA), Surya Citra Media (SCMA).

Sebagai informasi, indeks BEI Jum’at akhir pekan kemarin ditutup anjlok 79,507 poin (1,66%) ke level 4.723,159. Sementara Indeks LQ45 ditutup terjun 17,273 poin (2,12%) ke level 798,859. Seluruh indeks sektoral jatuh ke zona merah gara-gara tekanan jual yang semakin marak jelang penutupan perdagangan. Investor asing dan domestik ramai-ramai lepas saham.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 186,04 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 183.653 kali pada volume 7,12 miliar lembar saham senilai Rp 7,583 triliun. Sebanyak 61 saham naik, sisanya 221 saham turun, dan 74 saham stagnan.

Bursa-bursa dia Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan rata-rata melemah gara-gara sentimen negatif krisis Republik Siprus di Uni Eropa. Pasar saham China jadi satu-satunya bursa yang menguat menyusul positifnya data manufaktur setempat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Bank Danamon (BDMN) naik Rp 350 ke Rp 6.350, Siantar Top (STTP) naik Rp 240 ke Rp 1.230, Surya Citra (SCMA) naik Rp 225 ke Rp 2.800, dan Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 200 ke Rp 6.100.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 1.750 ke Rp 33.300, United Tractor (UNTR) turun Rp 1.050 ke Rp 17.300, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.050 ke Rp 46.100, dan Mayora (MYOR) turun Rp 1.000 ke Rp 26.000.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup turun 6,101 poin (0,13%) ke level 4.796,565. Sementara Indeks LQ45 melemah 2,980 poin (0,37%) ke level 813,152. Saham-saham unggulan lagi-lagi jadi target aksi jual. Beberapa saham lapis dua masih menjadi penopang bursa meski sia-sia karena tekanan jual masih sangat tinggi.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi mencapai 90.858 kali pada volume 3,437 miliar lembar saham senilai Rp 3,2 triliun. Sebanyak 109 saham naik, sisanya 115 saham turun, dan 114 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 550 ke Rp 79.500, Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 450 ke Rp 6.350, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 250 ke Rp 14.050, dan (DVLA) naik Rp 225 ke Rp 2.250.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 900 ke Rp 34.150, United Tractor (UNTR) turun Rp 650 ke Rp 17.700, Nipress (NIPS) turun Rp 500 ke Rp 5.500, dan Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 350 ke Rp 17.150.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun tipis 3.48 poin (0,07%) ke level 4,799.19. Sedangkan Indeks LQ45 juga dibuka turun tipis 0.88 poin (0,11%) ke level 815.26. Penurunan ini beriringan dengan bursa Asia lainnya terutama bursa Jepang yang terkoreksi sekitar 1.2% seiring penguatan nilai tukar Yen.

Sementara itu, harga minyak dunia juga turut terkoreksi sekitar 1.1% ke level US$ 92.4 per barel sementara harga metal dunia bergerak relatif mixed. Indeks sendiri, sempat diperkirakan bergerak mixed terbatas seiring pergerakan bursa global.

Beberapa sektor yang kemarin ditutup turun dari level tertingginya diperkirakan akan kembali terkoreksi seperti sektor property, construction, banking dan mining.“Support indeks berada di level 4,750,” kata Analis Samuel Sekuritas Indonesia Adrianus Bias, dalam riset.

BERITA TERKAIT

Gandeng Perusahaan Tiongkok - Kresna Berambisi Terdepan Garap Bisnis Starup

NERACA Jakarta-Sibuk membawa beberapa anak usahanya go public dan juga sukses mengembangkan bisnis digitalnya, PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN)…

Bangun Kompleks Petrokimia - Chandra Asri Petrochemical Dapat Tax Holiday

NERACA Jakarta – Sebagai komitmen patuh terhadap pajak, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mendapatkan keringanan pajak atau tax holiday…

Ekspansi Bisnis di Kongo - 10 Perusahaan Indonesia Garap Proyek Strategis

NERACA Jakarta – Membidik potensi pasar luar negeri dalam pengembangan bisnisnya, The Sandi Group (TSG) Global Holdings bersama entitas bisnisnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WanaArtha Life Ambil Bagian di WEF Annual Meeting 2020

PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha atau yang lebih dikenal dengan WanaArtha Life kembali ambil bagian di World Economic Forum Annual…

Tambah Fasilitas Produksi Gas - Sale Raya Targetkan Dana IPO US$ 100 Juta

NERACA Jakarta — Menggeliatnya industri minyak dan tambang (migas) dimanfaatkan langsung PT Sele Raya untuk mencari permodalan di pasar modal…

Danai Belanja Modal - Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development…