Prediksi ADB

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Prediksi Asian Development Bank (ADB) bakal terjadinya bubble pasar obligasi di Asia dan termasuk di Indonesia, rupanya disikapi beragam oleh pelaku pasar. Ada yang merasa panik dan ketakutan, namun ada pula yang menyiskapi dingin proyeksi tersebut. Kondisi ini, sangat beralasan karena tiap tahunnya pertumbuhan obligasi di Indonesia terus tumbuh.

Pertumbuhan surat berharga ini, tidak bisa lepas akibat dipicu pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tumbuh positif dan juga kupon bunga yang ditawarkan cukup tinggi. Mungkin inilah yang menjadi alasan investor asing memilih investasi obligasi di Indonesia ketimbang di negaranya sendiri yang justru sebaliknya negatif.

Melesatnya kepemilikan investor asing di portofolio obligasi di Indonesia, menjadi kekhawatiran ADB bila potensi bubble akan terjadi jika terjadi pembalikan dana asing ke negaranya secara besar-besaran. Berdasarkan data ADB, pada akhir 2012, pasar obligasi di negara Asia Timur mencakup dana senilai US$ 6,5 triliun atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2011 yang hanya tercatat US$ 5,7 triliun. Situasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 12,1%. Hal yang sama terlihat dari pasar obligasi korporasi yang mengalami peningkatan hingga 18,6% atau sebesar US$ 2,3 triliun.

Sementara kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia, sebesar 33% dikuasai oleh investor luar negeri hingga akhir 2012. Bandingkan dengan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Malaysia yang mencapai 28,5% pada akhir September 2012. Dengan pertimbangan itulah, pasar obligasi dalam negeri mempunyai potensi bubble.

Merespon kekhawatiran ADB soal prediksinya bakal terjadi bubble obligasi, seharusnya disikapi dengan kajian yang matang tanpa harus ditelan mentah-mentah. Karena, apa yang disampaikan belum tentu keseluruhannya benar tentang kondisi terkini pasar obligasi dalam negeri.

Bukan kali pertama, lembaga keuangan internasional itu memberikan prediksi tentang ekonomi Indonesia dan dunia investasinya. Umumnya, apa yang disampaikan lebih banyak kabar buruknya dibandingkan kabar baiknya. Namun toh, semua prediksi tersebut lebih banyak melesetnya dari kebenaran yang di perkirakan sebelumnya.

Intinya, semua lembaga asing sah-sah saja memberikan prediksi soal ekonomi Indonesia tetapi yang tahu isi perutnya adalah pemerintah dan rakyat Indonesia. Terlebih yang namanya prediksi yang disampaikan lembaga tentunya tidak bisa lepas dari intervensi dan kepentingan busuk negara asing yang ingin menguasai perekomian Indonesia dari hulu sampai hilir. Apalagi, saat ini tingkat konsumsi masyarakat Indonesia tumbuh positif akan menjadi peluang pasar yang menjanjikan bila mempunyai akses atau menguasai pasar di Indonesia.

Kembali soal potensi bubble obligasi dalam negeri, alangkah eloknya jika kita juga harus mewaspadai dengan memperkuat investor domestik. Karena dengan memperkuat investor domestik akan mampu menjadi kunci dari derasnya dana asing dari pasar modal dan obligasi ketimbang sebaliknya mengandalkan dana asing tapi tidak berkualitas.

BERITA TERKAIT

Pelaku Global Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2%

    NERACA   Jakarta - Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menyebutkan kalangan pelaku ekonomi global memproyeksikan ekonomi Indonesia…

The Fed Prediksi Tak Ada Kenaikan Suku Bunga

      NERACA   Washington - Federal Reserve AS atau The Fed kemungkinan akan membiarkan suku bunga tidak berubah…

PENURUNAN PREDIKSI PERTUMBUHAN EKONOMI GLOBAL - Prasetyantoko: Berdampak Negatif bagi Indonesia

Jakarta-Rektor Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko menilai, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh The International Monetary Fund (IMF) menjadi 3,3%…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Teknologi dan Industri di Satu Sistem

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Teknologi dan Industri dalam kesehariannya adalah kosakata netral. Tetapi begitu saling bersenyawa menyatu…

Damai 22 Mei

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahapan pesta demokrasi akan mencapai klimaksnya pada 22…

Pembiayaan "Back to Back" Syariah

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Di lembaga keuangan syariah ternyata dijumpai istilah pembiayaan "back to back" yaitu pinjaman yang…