Likuiditas Perbankan Harus Bisa Menahan Syok Ekonomi

NERACA

Jakarta - Analis dari Perusahaan Pemeringkat Efek, PT ICRA Indonesia, menjelaskan bahwa perbankan memang harus menjaga likuiditasnya, tidak semata-mata supaya bisa tetap menyalurkan kredit berkualitas dengan baik, juga supaya bisa menjaga ketahanannya terhadap syok ekonomi (economic shock). Apalagi saat ini kondisi ekonomi global masih belum membaik.

“Kalau kita bicara likuiditas itu, kita bicara cara bagaimana bank bisa menahan segalaeconomic shock, dan itu telah dilakukanstressed testbahwa memang likuiditas juga CAR perbankan nasional saat ini masih bisa memberikan banyak bantalan dari segi likuiditas. Yang terakhir kita tahu peristiwabail outitu terjadi di tahun 2008. Nah, sejak itu terjadi, peraturan CAR, pinalti buatreserved ratiolebih ketat daripada dulu, sehingga likuiditas (saat ini) tidak terlalu banyak jadi isu,” kata Kreshna D Armand, Assistant Vice President of Financial Institutions Ratings PT ICRA Indonesia, ketika ditemui di Jakarta, kemarin.

Berdasarkanstressed testitu juga, tutur Kreshna, bahwa walaupun pertumbuhan kredit itu diperkirakan cuma 12% dan NPL di atas 10% (pada akhir 2013 ini), modaltier1 pun tidak akan drop seperti waktu krisis ekonomi tahun 1997-1998 atau 2008. Sehingga dengan begini, perbankan nasional diprediksikan masih belum akan jor-joran menambah modal. Apalagi untuk penerapan Basel III masih ada waktu transisinya.

“Basel III deadline-nya masih tahun 2019. Sementara, dengan persoalan permodalan seperti ini, bisa saja lebih banyak bank asing lagi yang masuk ke dalam negeri, tapi kan ada aturan bahwa bank asing mesti jadi PT, aturanmultiple license, aturansingle present, dan lain-lain, yang bisa mempengaruhinya juga,” tutur dia.

Sementara untuk menjaga LDR (loan to deposit ratio) yang seimbang antara kredit dan simpanan, maka perbankan juga akan menggencarkan memperoleh dana pihak ketiga (DPK) lebih banyak di tahun ini. Memang ICRA mencatat bahwa pertumbuhan deposit atau simpanan menurun di akhir 2012 dibandingkan akhir 2011, yaitu dari 19,1% di 2011 menjadi 15,8% di 2012. Sementara walaupun pertumbuhan kredit juga menurun daripada 2011, namun turunnya tidak begitu drastis, yaitu dari 24,6% di 2011 menjadi 23,1% di 2012.

“Kemarin kita baca katanya bank-bank pada rebutan deposito, untuk meningkatkan simpanannya, karena memang kita tahu pertumbuhan depositnya juga turun. Kalau dana murah pasti dikejar oleh bank-bank, karena yang kita tahu sih ada bank yang secara radikal dana murahnya itu proporsinya langsung naik dibandingkan tahun lalu. Itu seberapa vitalnya dana murah untuk suatu bank,” ucapnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) pernah mengeluarkan pendapat bahwa likuiditas perbankan nasional masih bagus di tahun 2013 ini. Bisa jadi mereka bahkan memiliki kelebihan dana likuiditas, dan ini masih cukup untuk mencapai pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 22%-24% sampai akhir tahun ini.

“Likuiditas perbankan kita itu sekarang sekitar Rp1000 triliun, sementara dia butuh untuk (pertumbuhan) kredit selama setahun ini adalah sekitar Rp550-Rp600 triliun. Jadi dia (perbankan) masih punya kelebihan uang,” ungkap Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan, ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Jadi dengan pernyataannya tersebut, Halim juga ingin menegaskan bahwa perbankan nasional itu tidak mengalami kekurangan dana apabila dilihat secara makro. “Per bank itu beda-beda caranya untuk menambah modal, tapi secara nasional likuiditas cukup. Soal apakah itu dana murah atau mahal adalah tergantung banknya (masing-masing),” imbuhnya. [ria]

Related posts