Modal Asing Ancam IKM Otomotif

NERACA

Jakarta - Semakin berkembangnya industri otomotif di dalam negeri nampaknya menjadi salah satu perhatian para investor asing yang bergerak di bidang komponen otomotif. Namun banyaknya investor asing atau para pemodal besar yang ikut bermain di sektor komponen otomotif dikhawatirkan dapat menggilas perkembangan industri kecil dan menengah (IKM).

Anggota DPR Komisi VI Ferrary Roemawi mengharapkan agar IKM otomotif dalam negeri tidak tergilas oleh investor asing yang bermodal besar. Oleh karena itu pemerintah harus segera mencermati besarnya investor asing dengan modal besar. “Seharusnya pemerintah segera melakukan pelatihan dan training kepada para pelaku IKM guna meningkatkan kemampuan, kecakapan dan keterampilan para palaku industri kecil dan menengah dalam memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan usaha,\" paparnya kepada Neraca, Kamis (21/3).

Lebih jauh lagi, Ferrary memaparkan dengan adanya pelatihan kepada para pelaku IKM otomotif lokal dapat bersaing sehingga perusahaan lokal yang menyerap banyak tenaga kerja itu terancam akan gulung tikar. Yang tak kalah penting, ujar Ferrary, komponen otomotif harus menggunakan kandungan lokal diatas 70%.

Sebelumnya Ketua Koperasi Industri Komponen Otomotif Indonesia (Kikko),M.Kosasih memaparkan, kalau saat ini IKM komponen terus mendukung industri otomotif dengan terus meningkatkan produk dan kualitasnya kendati dengan beban biaya produksi yang lebih besar bekalangan ini. \"Kami berusaha terus meningkatkan kerja sama dengan industri otomotif kendati memangalami beban biaya produksi yang semakin tinggi akibat penaikan upah minimum dan harga bahan baku yang semakin tinggi,\" katanya.

Menurut dia, penaikan biaya produksi komponen otomotif yang semakin tinggi menyebabkan produsen komponen anggota Kikko harus merelakan margin keuntungannya semakin kecil dengan harapan agar usahanya tetap bisa berjalan dengan lancar.

Sebab, imbuhnya, para pngusaha produsen komponen otomotif berkomitmen untuk mempertahankan usahanya agar tetap beroperasi, terutama dengan mempertimbangkan banyak karyawan yang bekerja mencari nafkah untuk keluarga mereka.

Pertumbuhan Rendah

Sementara itu, Dirjen IKM Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah mengungkapkan pertumbuhan IKM komponen dinilai masih rendah. Alhasil, barang impor pun membanjiri pasar dalam negeri.

Dirjen Euis mengatakan, pertumbuhan sektor otomotif dalam negeri sangat tinggi, sementara jumlah supplier komponen otomotif lokal masih rendah. \"Harusnya pertumbuhan otomotif dibarengi dengan peningkatan jumlah supplier komponennya,\" ujar Euis saat dialog peluang dan tantangan IKM komponen otomotif di Indonesia.

Menurut dia, industri komponen otomotif di Indonesia masih tertinggal jauh di negara Asia lainnya seperti Thailand. Jumlah industri komponen otomotif lokal hanya 14 persen dari yang dimiliki Negeri Gajah Putin itu. Padahal, industri komponen otomotif di Indonesia sudah ada sejaktahun 1979.

Euis menyatakan, ada beberapa kendala dalam pengembangan IKM komponen otomotif lokal. Di antaranya masih memiliki keterbatasan kemampuan untuk memenuhi persyaratan Quality, Cost and Delivery atau QCD, kemampuan SDM dan beberapa teknologi kunci juga belum dimiliki.

Akibat beberapa kendala itu kondisi yang terjadi saat ini sebagian besar komponen otomotif yang beredar di pasaran masih produk impor. \"Ke depan kita ingin kondisi itu terbalik, kita harus bisa memasok hampir keseluruhan produk komponen dan sub komponen otomotif,\" jelasnya.

Euis mengatakan, beberapa upaya yang dilakukan Kemenperin untuk mendorong perkembangan industri komponen otomotif Indonesia, di \"antaranya in\'emfasrlitasi pelatihan dan standardisasi. Perkembangan volume pasar dari 2005 hingga 2010 terus mengalami peningkatan, baik untuk komponen motor maupun mobil.

\"Perkembangan penyerapan pasar dari industri komponen otomotif itu terus mengalami peningkatan baik komponen otomotif yang akan dikirim untuk industri perakitan mobil atau motor, Original Equipment Manufacture (OEM) maupun komponen yang akan dijual ke langsung ke pasar,\" terangnya.

Ketua Dewan Penasihat Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA) Pipin Machrufin mengatakan, sebagai wujud komitmennya dalam pengembangan industri komponen otomotif dalam negeri, pihaknya akan menyalurkan komponen hasil karya industri komponen otomotif Indonesia ke seluruh bengkel anggota HBBA. \"Kita akan menyalurkan seluruh jenis komponen otomotif hasil karya industri lokal yang tergabung dalam KIKO ke seluruh bengkel HBBA di Indonesia yang berjumlah 127 bengkel,\" ujar Pipin.

Di tempat berbeda,Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Bambang Sujagat, selama ini bahan baku otomotif masih bergantung pada pasokan impor. \"Ini menjadi pertanyaan besar karena sumber daya kita sebetulnya melimpah,” kata dia.

Bambang mencontohkan industri baja nasional sebetulnya sanggup memenuhi kebutuhan bahan baku kendaraan bermotor, tapi banyak pihak yang sangsi atas kemampuan ini. Ia pun curiga hal itu dikendalikan pihak tertentu agar industri komponen lokal bergantung pada bahan baku impor. \"Karena itu kami meminta pemerintah menertibkan pasokan bahan baku impor,\" ujarnya.

Selain kendala bahan baku, kata Bambang, hambatan lain yang dihadapi industri komponen skala kecil dan menengah ialah akses pendanaan bank yang rendah. Produsen komponen lokal pun kerap dihambat suku bunga kredit yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Thailand.

Dari sisi pemasaran produsen suku cadang pun tak leluasa mendistribusikan produknya kepada konsumen. \"Industri ini dianggap tak penting, padahal sesungguhnya amat terkait dengan keberlangsungan sektor otomotif,\" kata dia.

Related posts