Penjualan Laris, Pendapatan BSD Capai Rp 3,73 Triliun - Kinclongnya Kinerja Properti

NERACA

Jakarta- PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) mencatatkan pendapatan usaha menjadi Rp3,73 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,81 triliun. Dari peningkatan pendapatan usaha tersebut, perseroan mencatat laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk per Desember 2012 meningkat sebesar 52,95% atau menjadi Rp1.28 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp840,78.

Hal tersebut di sampaikan manajemen perseroan kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta (21/3). Disebutkan, beban pokok mengalami peningkatan menjadi Rp1,35 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,02 triliun. Laba kotor meningkat menjadi Rp2,38 triliun dari perolehan laba kotor di tahun sebelumnya sebesar Rp1,78 triliun.

Demikian juga dengan laba usaha yang mengalami peningkatan sebesar Rp1,43 triliun dari laba usaha di tahun sebelumnya sebesar Rp960,55 miliar. Laba sebelum pajak tercatat meningkat menjadi Rp1,69 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp1,17 triliun. Per Desember 2012, total aset perseroan mencapai Rp16,76 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp12,78 triliun.

Belanja Modal

Sementara untuk mendukung kinerja di tahun 2013, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp2,5 triliun-3 triliun. Kata Direktur dan Corporate Secretary BSD, Hermawan Wijaya, dana belanja modal tersebut akan dipenuhi dari kas internal perseroan, “Belanja modal tersebut akan digunakan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan sisanya untuk pembebasan lahan seluas 5.000 hektar,” jelasnya.

Menurutnya, dana untuk belanja modal tahun ini, mengalami peningkatan dibanding anggaran tahun lalu sebesar Rp 2 triliun. Saat ini perseroan memiliki landbank konsolidasi seluas 6.000 hektar, dan saat ini baru digunakan 5.000 hektar.

Dalam pengembangan proyek perseroan, kata dia, pihaknya akan bekerjasama dengan pihak asing. Dengan adanya kerjasama tersebut, diharapkan dapat meningkatkan penjualan perseroan di tahun 2013, “Saat ini ada potensi investasi luar masuk ke perseroan. Pihaknya akan bekerjasama dengan dua investor asing, “ucapnya.

Dia mengungkapkan, salah satu investor asing tersebut berasal dari Hongkong yaitu Hongkong Land membentuk joint venture dengan PT Bumi Serpong Damai Tbk. Investor asal Hongkong itu membeli lahan sekitar 65-68 hektar di Bumi Serpong Damai dengan total pembelian sekitar Rp1,3 triliun-Rp1,4 triliun.

Disebutkan, dalam joint venture itu pihaknya memiliki saham sebesar 51% dan sisanya Hongkong Land. Dalam joint venture ini rencananya akan membangun perumahan di kawasan Bumi Serpong Damai, di mana proyek pembangunannya akan dilakukan pada akhir Desember 2013.

Selain Hongkong, lanjut dia, juga akan ada kerjasama dengan pihak asing lainnya, namun Hermawan belum dapat menjelaskan lebih detil mengenai hal ini. Rencananya, investor asing tersebut juga akan membeli sekitar 10 hektar lahan di kawasan Bumi Serpong Damai. Menurutnya, komposisi saham pemegang saham dalam proyek tersebut, PT Bumi Serpong Damai memiliki saham 33% dan sisa sahamnya dimiliki oleh investor asing. \"Kami akan membangun proyek mixed used dengan investor asing itu,\" ujarnya.

Saham Properti Tumbuh

Sebelumnya, analis PT Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro pernah bilang, pertumbuhan saham sektor properti sepanjang tahun ini melebihi kinerja IHSG, “Investor berekspektasi tinggi pada pertumbuhan saham-saham sektor properti seiring dengan kinerja emiten yang positif,\" katanya.

Masih berprospeknya industri properti di tahun 2013, memicu pergerakan saham sektor properti meningkat tajam dan bahkan pertumbuhannya melebihi kinerja IHSG. Berdasarkan data BEI, sektor properti mengalami pertumbuhan 11,47% sepanjang 2013. Sementara, indeks BEI tumbuh sebesar 4,03%.

Menurut Yualdo, industri properti sepanjang 2012 menjadi salah satu sektor unggulan dalam perekonomian Indonesia. Tingkat permintaan dan pasokan yang tinggi mendorong sektor itu tumbuh dipicu oleh meningkatnya daya beli konsumen dan membaiknya iklim investasi, “Sentimen positif itu berlanjut hingga awal tahun ini, oleh karena itu tidak heran indeks sektor properti tumbuh tertinggi dibandingkan sektor lainnya,\" ujarnya.

Sementara, analis BNI Securities Viviet S Putri mengatakan, ekonomi China yang mengalami pertumbuhan dapat mendorong harga komoditas dunia meningkat sehingga berdampak pada saham-saham sektor pertambangan, “Setelah tertekan hampir sepanjang 2012, saham-saham pertambangan \'rebound\' seiring mulai pulihnya permintaan batubara dari China yang notabene konsumen terbesar,\"jelasnya.(lia)

Related posts