Bisnis pun Butuh Intel - Fadjari Iriani Sophaan, Ketua Program kajian Stratejik Intelijen Pasca Sarjana UI

Fajari Iriani Sophaan Yudoyoko

Ketua Program Kajian Stratejik Intelijen Pascasarjana UI

Bisnis pun Butuh Intel

Di dunia intel-mengintel atau spionase, Indonesia, khususnya Universitas Indonesia (UI) cukup kesohor hingga di belahan Amerika sana. Pasalnya, hanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) UI saja yang mempunyai program studi tentang intelijen.

Dan, Fadjari Iriani Sophaan adalah sang arsiteknya. Dialah yang ikut mencetuskan perlunya membuka program studi tersebut untuk pascasarjana S-2. Program Kajian Strategik Intelijen (PKSI) Pasca sarjana UI itu didirikan pertengahan 2004. Ide awalnya berasal dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendroprijono.

Semula dia inginmendirikan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) di Sentul, Bogor, Jabar dan di Batam. Namun, karena ada peraturan bahwa gelar kesarjanaan hanya boleh diberikan oleh perguruan tinggi, Hendro pun merangkul Fisip UI, Fisipol UGM, dan ITB Bandung. Khusus Sekolah Intelijen Internasional, digagas bersama antara BIN dan UI.

“Dunia intelijen, ternyata tidak hanya berurusan dengan politik saja, tapi di bisnis pun juga diperlukan ilmu intelijen juga agar kegiatan bisnis kita berjalan lancar dan jualannya laku,” kata Iriani, saat mengawali percakapan dengan Neraca di kampus PPM, di Jalan Menteng Raya 9, Jakarta Pusat, Rabu (20/3) petang.

Menurut Iriani, putri keenam diplomat senior almarhum Manai Sophiaan ini di era Presiden Soekarno, kegiatan spionase di dunia bisnis tentunya harus menggunakan kaedah keilmuan, tidak boleh dilakukan secara jahat dan melanggar etika bisnis. “Kegiatan intel itu yang penting tidak ketahuan, kalau ketahuan, ya bukan intel,” ujar ibu tiga anak ini sambil tertawa.

Iriani pun bercerita bahwa dunia intelijen sudah lama digelutinya. Kebetulan, dia adalah jebolan Hubungan Internasional (UI) Fisip UI pada 1980. Lalu melanjutkan magang di HI - University of Hawaii, USA (1984) dan magang di program mata kuliah Rusia dan Eropa Timur di The Ohio State University, Columbus - OHIO, USA (1991).

Banyak cerita saat memimpin Program S2 Intelijen, karena ternyata banyak mahasiswanya yang merupakan intel-intel dari sejumlah negar, seperti Singapura, Brunai, Malaysia, dan Australia. Di antara mereka, ada yang ingin mengubah pola intelijen ala Indonesia dengan pola Amerika.

Pernah menjabat sebagai direktur di Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC). MBRC merupakan penyempurnaan dari Perpustakaan FISIP UI yang didirikan dengan dukungan Kedutaan Besar AS melalui pusat informasi Information Resource Center (IRC) dan Seksi Hubungan Masyarakat Kedutaan Besar Amerika Serikat (Public Affair Section/PAS). American Corner memberikan fasilitas berupa sumber-sumber informasi.

Untuk mengikuti program intelijen di UI, tidaklah mudah. Syaratnya, harus bisa memenuhi standar kualifikasi. Misalnya, lolos skor tes potensi akademik (TPA) sebesar 450. “Ini yang agak sulit. Banyak intel-intel dari BIN dan Kepolisian calon mahasiswa nggak bisa masuk,” ujarnya.

Kini, Iriani sedang berjuang untuk memperoleh gelar doktor di bidang intelijen. Kebetulan dialah satu-satunya ketua program studi intelijen di Asia. Sejak masa kuliah, istri Yudoyoko itu memang tergolong aktif. Pernah menjadi pengurus Senat mahasiswa Fisip UI, lalu menjadi wakil sekjen Ikatan Alumni UI (Iluni) –Fisip (1997-1999), Di organisasi kemasyarakatan, Iriani pernah tercatat sebagai ketua bidang Organisasi Putra-Putri Perintis Kemerdekaan Indonesia (P4KI) selama empat tahun pada 2006-2009.

Selama dua tahun, pada 1999-2000, perempuan kelahiran Jakarta, 11 Februari 1952 itu menjadi koordinator pengajar kelompok kerja reformasi hubungan sipil-militer di Lemhanas.

Anak Band

Pergaulannya di kalangan dosen UI yang begitu luwes, dia pun banyak berhubungan dengan para profesor seniman UI. Bersama psikolog Prof Sarlito Wirawan (saksofon), Prof Usman Chatib Warsa (vokalis), , Prof Martani Husaini (FE)., Prof Agus Sardjono (FH), dan Prof Paulus Wirotomo, merintis terbentuknya The Professor Band. “Saya jadi vokalisnya,” ujarnya.

Dia pun bercerita, banyak sudah kalangan kampus yang menanggap band tersebut. Misalnya Universitas Trisakti Jakarta, Universitas Airlangga Surabaya. Bahkan pernah menerima undangan dari duta besar RI untuk India di New Delhi dan di Kedubes RI untuk Belanda.

“Kami juga sudah ikut manggung di pentas Java Jazz,” tutur perempuan yang sudah mengenakan blus warna putih. Kebetulan, warna putih memang warna khas anggota band. Dia pun bercerita tentang ide dasar didirikannya Professor Band. Menurut dia, band adalah ajang untuk mengakrabkan hubungan dosen dan mahasiswa. Walau begitu, personel band tidak harus seorang profesor.”Tapi professor yang kami maksudkan di sini adalah sebagai professional,” kata Iriani menutup perbincangan. (saksono)

Related posts