Lippo Kembali ke Dunia Bank

Lippo Kembali ke Dunia Bank

Lippo di zaman dulu adalah stempel sebuah bank nasional yang dirintis oleh keluarga Mochtar Riady. Pada 3 Juni 2008, Bank Lippo melakkan merger dengan Bank Niaga. Hasil merger memberikan nama baru, yaitu Bank CIMB Niaga. Nama Lippo hilang dari peredaran.

Nazir Razak, Group Chief Executive CIMB Group mengungkapkan proses merger Bank Niaga dan Lippo merupakan dampak dari diterapkannya aturan kepemilikan tunggal (single presence policy/spp) yang ditetapkan Bank Indonesia.

Ketentuan SPP mewajibkan kepemilikan tunggal bagi pemegang saham pengendali di lebih dari satu bank. oleh karena itu, Khazanah Berhad selaku pemilik Bank Niaga dan Lippo memutuskan untuk melakukan merger.

Sebelum merger, Khazanah memiliki 93% saham bank Lippo melalui Santubong Investment BV dan Greatville Pte Ltd. Sedangkan di Bank Niaga sebesar 62,41% melalui CIMB Group penyedia jasa keuangan terbesar kedua di Malaysia milik Bumiputera-Commerce Holding Berhad (BCHB).

Proses merger dilakukan dengan pembelian 51% saham Bank Lippo oleh CIMB group dari Santubong ventures, anak usaha Khazanah Berhad, dengan nilai Rp 5,9 triliun. Selanjutnya, Khazanah akan mendapat 207,1 juta lembar saham baru di Bumiputera-Commerce Holding Berhad (BCHB), anak perusahaan CIMB Group. Setelah merger, CIMB dan Khazanah masing-masing menguasai saham sebesar 58,7% dan 18,7%. Kini, 100% saham CIMB Niaga parker di Malaysia.

Tak berkibar di dunia perbankan, ternyata tak nyaman bagi Grup Lippo. Dua tahun kemudian, pada 2010, grup Lippo membeli Nobu National Bank (Bank National Nobu) atau Bank Nobu. Bank kecil itu hanya memiliki satu kantor pusat dan tak membuka cabang di mana-mana, kecuali di Jalan Jembatan Lima Barat, Jakarta Barat.

Bank Nobu dulunya bernama Bank Alfindo Sejahtera. Presiden Direktur Grup Lippo Theo L Sambuaga mengungkapkan, ada dua alasan mengapa membeli Bank Nobu. Pertama, bank itu butuh modal, kedua Lippo melihat bank itu punya prospek bagus. Kini, kantor pusat Bank Nobu di Gedung Granada atau Plaza Semanggi.

Membangun Bank Nobu, Lippo tak mau sendirian, tapi menggandeng Yanthony Nio, CEO Bank Pikko. Lippo melalui PT Kharisma Buana Nusantara (KBN) memiliki 60% saham seharga Rp 60 miliar, sedangkan Yanthony 40%.

Menurut Theo, yang juga politisi senior Partai Golkar, nantinya Bank Nobu akan menjadi perusahaan publik, menyusun anak perusahaan Lippo lainnya.

Semula, Bank Alfindo adalah milik Alfi GUnawan, yang juga pemilik perusahaan air minum minela Ades melalui PT Gunawan Sejahtera.

Pada tahun 2007, bank tersebut berada pada urutan terakhir yang memenuhi batas permodalan sebesar Rp 80 miliar sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI).

Mochtar Riady memang pemain lama di dunia perbankan Indonesia. Pada 1954, Mochtar tercatat sebagai salah seorang direktur di Bank Kemakmuran. Pada 1989, taipan itu terpilih menjadi presiden direktur di Bank Perniagaan. Nama Bank Lippo merupakan hasil merger antara Bank Perniagaan dengan Bank Umum Asia.

Seluruh sahamnya di bank Lippo terpaksa dilepas akibat rekapitulasi aset pada 1999. Pada RUPS Bank Lippo Tbk pda 2005, Mochtar resmi meninggalkan Lippo dan keluar dari dunia perbankan.

Kini Mochtar ingin lahir lagi sebagai bankir ulung melalui bank Nobu. (saksono)

Related posts