Meniru Mhmmad Yunus dan Grameen Bank

Meniru Muhammad Yunus dan Grameen Bank

Saat berpidato di Balai Senat Universitas Gadjah mada (UGM) Yogyakarta, Oktober 2012 lalu, peraih Nobel Perdamaian 2006 Prof Muhammad Yunus menyatakan, Indonesia bisa menerapkan pola pemberdayaan usaha mikro (microfinance) seperti yang sudah dilakukan oleh Grameen Bank di Bangladesh.

Grameen Bank yang dirintis Yunus bertujuan untuk membuat sistem perbankan yang adil, pro rakyat miskin, dan pro perempuan. Bahkan, sistem Grameen Bank telah digunakan oleh ratusan institusi di berbagai negara untuk menanggulangi kemiskinan, yaitu dalam bentuk pemberian kredit tanpa jaminan.

\"Inilah saatnya untuk menanggulangi kemiskinan yang ada di banyak negara melalui Grameen Bank, karena sistem perbankan konvensional cenderung tidak adil, tidak pro rakyat miskin, dan tidak pro perempuan,\" kata Yunus dalam kuliah umum di kampus UGM tersebut.

Dia menjelaskan, ketika itu, telah berdiri 2.431 cabang dari Grameen Bank yang menyediakan kredit bagi 7,2 juta rakyat miskin di 78.659 desa di Bangladesh. Proyek itu dimulai sejak 1976, dan bank itu sendiri baru berdiri pada 1983. Untuk menunjang aktivitasnya, Yunus pun mengembangkan usaha dengan mendirikan sejumlah perusahaan dengan bendera Grameen.

Di antara anak perusahaan itu adalah Grameen Phone yakni sebuah perusahaan komunikasi, Grameen Cybernet sebagai penyedia layanan internet, Grameen Software Company, dan belasan perusahaan lain yang menggunakan sistem Grameen.

Namun, perjuangan Yunus dengan bendera Grameen pupus setelah perselisihannya dengan rezim pemerintahan PM Sheikh Hasina pada 2007. Dia dicopot dari jabatannya sebagai dirut. Menurut Muzammel Huq, direktur utama Grameen Bank, Bank Sentral Bangladesh mengatakan Profesor Yunus melanggar undang-undang pensiun hingga 60 tahun. Sedangkan saat itu unus sudah berusia 70 tahun. Sebelumnya, dia direhabilitasi dari tuduhan penggelapan.

Langkah besar Yunus pun diapresiasi di banyak negara. Mary Robinson mendirikan Friend of the Grameen. Berkah kerja Grameen, ekonomi Bangladesh telah tumbuh hingga 8% per tahun. Banyak pihak menjalin kemitraan dengan Yunus. Di antaranya dengan Danone, menciptakan skema perusahaan kelompok tidak mampu.

Mengadopsi Grameen

Gayung bersambut. Di antara pihak yang mengadopsi konsep Grameen Bank dengan kredit usaha mikronya adalah Bakrie Micro Finance (BMF). Program itu diluncurkan di Desa Kalangsari, Karawang, Jawa Barat, oleh Aburizal Bakrie pada 15 Desember 2010.

“BMF memberikan kredit tanpa agunan untuk masyarakat miskin atau pra-sejahtera. Kredit ini akan digunakan oleh masyarakat kecil untuk membangun usaha yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup mereka,” kata Ical, sapaan Aburizal.

Modal yang dipinjamkan BMF sebesar US$100 atau setara dengan Rp 1 juta per orang. Angsurannya Rp 25 ribu/minggu. Dana yang dikembalikan digulirkan lagi kepada nasabah lain yang membutuhkan. Jika nasabah pertama ternyata rajin dalam mengangsur, dan masih membutuhkan pinjaman itu, BMF bahkan meningkatkan jumlah kredit yang dikucurkan

Sebelum diresmikan, BMF sudah bisa menggaet 1.000 nasabah. Di tahun pertama, yaitu pada 2011, BMF telah mengalokasikan dananya sebanyak 100 miliar/tahun. Menurut Aburizal, program BMF melengkapi program pemerintah yang sudah ada, seperti kredit usaha rakyat (KUR). Dia berharap, perusahaan besar lainnya juga mau melakukan hal yang sama.

Pola kerja yang dilakukan BMF adalah tidak hanya membantu permodalan, tapi juga memberikan bimbingan, pelatihan, dan pemberdayaan perempuan. Agar tepat sasaran, pihak Bakrie pun mewajibkan nasabahnya agar tidak sekali-kali menggunakan kreditnya untuk belanja konsumtif, tapi harus produktif.

Jurus Kemenkop

Rupanya, program KUR yang sebagai upaya mengembangkan kredit mikro mendapat apresiasi dari dunia internasional. Indonesia mendapat penghargaan dari Global Microcredit Summit Campaign (GMSC) karena dinilai sukses mengucurkan KUR. Menurut Menteri Koperasi dan UKM Syarif Hasan, penghargaan itu dberikan pada International Microfinance Conference (IMCC) Oktober lalu di Bali.

\"Pemerintah berhasil dalam penerapan pembiayaan mikro melalui kredit usaha rakyat (KUR), hal ini harus disosialisasikan kepada dunia internasional,\" kata Menkop. Selain memberikan kredit atau dana bergulir, Kementerian Koperasi dan UKM juga memberikan bantuan promosi di dalam dan luar negeri. (saksono)

Related posts