Indeks Menguat, Stock Split Jadi Incaran Emiten

NERACA

Jakarta- Guna menjangkau investor ritel dan terjadinya transaksi agar lebih besar menjadi daya tarik emiten untuk melakukan pemecahan nilai nominal saham (stock split). Tidak heran jika beberapa emiten berniat melakukan aksi korporasi tersebut. Catat saja, PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA), salah satu produsen keramik merencanakan pemecahan nilai nominal saham dengan rasio 1:4. Oleh karena itu, untuk memuluskan rencana tersebut, perseroan akan meminta persetujuan para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 28 Maret 2013.

Stock split pernah dilakukan PT Astra International Tbk (ASII). Pasca dilakukannya stock split, volume transaksi saham ASII tercatat semakin meningkat dan likuid.Volatilitas saham ASII yang semakin tinggi saat itu dinilai karena meluasnya basis investor ritel. Adapun rasio saham ASII saat melakukan stock split yaitu 1:10, di mana harga ASII yang semula berkisar Rp 60.000-Rp 70.000 per saham, setelah stock split menjadi Rp 6.000-an per saham.

“Volatilitas mencerminkan bahwa saham itu aktif diperdagangkan. Saham yang aktif seperti ini lebih disukai asing, selain itu beragamnya basis investor bisa menahan penurunan yang dalam,” jelas Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang.

Namun, menurut analis saham Willy Sanjaya, aksi stock split ini perlu dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan dan fundamental emiten Pasalnya jika fundamental emiten kurang bagus dan kondisi pasar tidak mendukung, stock split bisa saja memicu penurunan harga saham ke bawah harga split-nya. “Hukum harga di pasar tidak ada yang bisa mengikat bahwa pasti harga saham tidak akan turun dan pasti harga suatu saham tidak akan naik,” ucapnya. “Tapi, bahwa harga saham itu fluktuatif, itu pasti. Tanpa stock split pun, saham bisa fluktuatif.” ujarnya.

Deputi Bidang Pengawasan Pasar Modal I OJK, Robinson Simbolon sebelumnya mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan ketentuan terkait pemecahan nilai saham (stock split) atas saham-saham yang harganya tercatat cukup tinggi dalam jangka waktu yang lama. “Saat ini tidak ada kewajiban, mungkin bisa jadi pertimbangan untuk saham yang berada di harga Rp100-200 ribu.” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut dilakukan agar jumlah saham emiten tersebut bisa lebih banyak di pasar dan secara tidak langsung dapat dijangkau oleh lebih banyak investor. Sejauh ini stocksplit menjadi kebijakan perusahaan.Karena itu, hal ini akan masuk dalam pertimbangan OJK ke depan.

Beberapa perusahaan yang saat ini tercatat sudah cukup mahal, atau lebih dari Rp100 ribu per lembar, antara lain PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI), dan PT Merch Sharp Dohme Pharma Tbk (MERK). “Usulan itu perlu kami pertimbangkan, agar jumlah sahamnya dapat lebih banyak. Kami memang menunggu mereka (manajemen emiten) untuk melakukan stock split,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Mitigasi Risiko - Emiten Terapkan Standar Akutansi Baru

NERACA Jakarta – Emiten Indonesia harus bersiap untuk mulai menerapkan standar akuntansi baru pada 1 Januari 2020 mendatang. Untuk itu,…

Bank Jadi Incaran Asing

Minat tinggi investor asing mengincar kepemilikan sejumlah bank lokal belakangan ini patut menjadi perhatian kita semua. Pasalnya, pada tahun ini…

IHSG MENGUAT

Karyawan melintas di depan layar pergerakan saham di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (29/4/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,38…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pefindo Raih Mandat Obligasi Rp 52,675 Triliun

Pasar obligasi pasca pilpres masih marak. Pasalnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia atau Pefindo mencatat sebanyak 47 emiten mengajukan mandat pemeringkatan…

GEMA Kantungi Kontrak Rp 475 Miliar

Hingga April 2019, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) berhasil mengantongi kontrak senilai Rp475 miliar. Sekretaris Perusahaan Gema Grahasarana, Ferlina Sutandi…

PJAA Siap Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - Emiten pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) memiliki tenggat obligasi jatuh tempo senilai Rp350 miliar. Perseroan…