Laba Tergerus, Merck Tetap Bagikan Dividen - Nilainya Sebesar Rp 80 Miliar

NERACA

Jakarta- Perusahaan farmasi asal Jerman, PT Merck Tbk (MERK) berencana membagikan dividen sebesar Rp80 miliar dari sebagian laba bersih 2012 kepada pemegang saham.

Direktur Keuangan Merck Bambang Nur Cahyo mengatakan, modal kerja yang akan digunakan tahun ini merupakan sisa laba bersih, setelah dibagi untuk dividen, “Modal kerja itu hanya akan dipergunakan bila perseroan memang membutuhkan dana untuk hal-hal yang mendadak,\"katanya di Jakarta, Rabu (20/3).

Selain itu, dia juga mengungkapkan, pendapatan perseroan sepanjang tahun 2012 tumbuh sebesar Rp930 miliar atau meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar Rp919 miliar. Disebutkan, divisi Merck Serono memberikan kontribusi sebesar 43%, divisi Bahan Kimia menghasilkan 39% dan divisi Kesehatan Konsumen sebesar 18%.

Selain itu, pada 2012, penjualan bahan kimia perseroan meningkat menjadi Rp359 miliar atau naik sebesar 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan divisi Serono, total penjualan menurun menjadi Rp405 miliar di 2012, di mana pada tahun sebelumnya tercatat mencapai Rp419 miliar.

Di sisi lain, penurunan pendapatan juga terjadi di divisi Kesehatan Konsumen. Kendati demikian, pemasukan total divisi ini hanya mencapai Rp166 miliar di 2012, dari Rp180 miliar di tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, performance buruk kinerja perseroan juga terlihat dari perolehan laba yang turun hingga 53,2% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 231 miliar menjadi Rp 108 miliar ditahun 2012.

Kata Presiden Direktur Merck, Markus Bamberger, turunnya laba anak usaha Grup Merck ini akibat tergerusnya marjin usaha, “Menurunnya tingkat profitabilitas akibat pelemahan marjin usaha dan kondisi pasar yang kurang mendukung,\" ungkapnya.

Markus menambahkan, beban pokok penjualan yang naik lebih tinggi dibanding pertumbuhan penjualan konsolidasi sebesar 15,82% menjadi Rp505,43 miliar juga menjadi pemicu penurunan laba perseroan.

Tidak hanya itu, penurunan kinerja perseroan di 2012 diakibatkan penjualan aset yang berlokasi di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD). Pasalnya, penjualan dilakukan karena aset-aset tersebut memang ada yang kurang optimal. (lia)

Related posts