Obat Palsu “Racuni” Industri Farmasi

NERACA

Jakarta – Di tengah pesatnya pertumbuhan pasar obat di Indonesia, sejumlah produsen produk tersebut mengalami penurunan penjualan hingga ratusan miliar rupiah. Maraknya peredaran obat palsu di pasar domestik dituding sebagai “racun” bagi industri farmasi sekaligus menjadi biang keladi merosotnya omzet penjualan obat beberapa tahun belakangan.

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, menegaskan, turunnya omzet penjualan obat-obatan, baik obat paten maupun obat generik, dikarenakan masih maraknya peredaran obat palsu di Indonesia. Menurut dia, obat palsu yang beredar di pasaran hampir tidak dapat dibedakan dengan yang asli. Itu sebabnya, lanjut dia, konsumen harus teliti dalam memilih obat-obatan tersebut.

\"Para konsumen sudah banyak yang mengetahui bahwa banyak obat-obatan palsu yang masih beredar. Hal tersebut mengakibatkan turunnya omzet penjualan bagi para produsen obat. Obat yang dijual pun termasuk murah, tetapi masih saja para penjual obat di pasaran tetap menjualnya,” ujar Tulus kepada Neraca, Rabu (20/3).

Pernyataan Tulus ini sekaligus mengkonfirmasi kinerja PT Merck Tbk (MERK), emiten farmasi asal Jerman, yang sepanjang 2012 lalu mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 53% atau menjadi Rp108 miliar dari pencapaian laba bersih tahun sebelumnya sebesar Rp231 miliar. Terjadinya penurunan laba tersebut disebabkan margin usaha perseroan yang tercatat turun drastis.

“Turunnya tingkat profitabilitas diakibatkan melemahnya margin usaha yang dicatatkan perseroan dan kondisi pasar yang kurang mendukung,” kata Presiden Direktur PT Merck Tbk, Markus Bamberger di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, meski pendapatan di 2012 mengalami peningkatan sebesar 1,2% atau menjadi Rp930 miliar dari Rp919 miliar di tahun sebelumnya, namun beban pokok penjualan mengalami peningkatan lebih tinggi dibanding pertumbuhan penjualan konsolidasi sebesar 15,8% menjadi Rp505,43 miliar dari Rp436,39 miliar di tahun 2011. Disebutkan, laba kotor menjadi Rp424,44 miliar dari sebelumnya sebesar Rp482,14 miliar.

Sementara beban usaha tercatat mengalami peningkatan menjadi Rp283,19 miliar dari beban usaha sebelumnya sebesar Rp203,51 miliar sehingga laba usaha turun menjadi Rp141,25 miliar dari laba usaha di tahun sebelumnya sebesar Rp278,63 miliar. Sedangkan laba sebelum pajak turun menjadi Rp145,91 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp283,23 miliar. Dengan demikian, total aset per Desember 2012 menjadi Rp569,43 miliar dari total aset per Desember 2011 sebesar Rp584,38 miliar.

Sementara itu Direktur Keuangan Merck, Bambang Nurcahyo mengatakan sepanjang 2012, penjualan Merck disokong oleh tiga unit bisnis yaitu bahan kimia sebesar Rp 359 miliar, Merck Serono senilai Rp 405 miliar dan kesehatan konsumen sebesar Rp 166 miliar sehingga total penjualan perseroan pada tahun sebesar Rp 930 miliar atau naik 1,18% dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 919 miliar.

Secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, Johannes Setijono mengungkapkan pasar farmasi dalam negeri masih sangat menjanjikan. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir ini alokasi dana masyarakat untuk belanja kesehatan akan semakin meningkat dengan begitu pasar farmasi pun akan berkembang. “Kalau saya merasa optimis bahwa terutama dengan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) akan terjadi peningkatan pertumbuhan pasar farmasi,” ujarnya.

Lebih jauh Johannes menuturkan, sekarang ini porsi belanja kesehatan masyarakat kurang lebih 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan nilai, belanja tersebut sudah mencapai Rp 20 triliun. Komparasi di negara lain yang pendapatan per kapita US$ 5.000 sekitar 4%. Melihat dari semakin tingginya pendapatan per kapita masyarakat Indonesia maka Johannes yakin belanja kesehatan akan kian meningkat.

Bila belanja kesehatan masyarakat semakin tinggi, kata dia, maka pasar farmasi pun semakin besar. Pasalnya, porsi belanja obat dari biaya kesehatan sekitar 30%. Sekarang ini pasar obat per PDB 0,5%. Sisanya rumah sakit dan perawatan dokter. Dia menyebutkan, pasar farmasi bisa mencapai angka US$ 5,88 miliar pada 2013 dan akan terus mengalami tren kenaikan hingga beberapa tahun ke depan.

cahyo/iwan/lia/munib

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Investasi Meningkat, Pemerintah Siapkan SDM Industri Kompeten

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dunia industri.…

Industri Makanan dan Minuman Ditaksir Tumbuh 9 Persen

NERACA Jakarta – Kemenperin memproyeksikan industri makanan dan minuman dapat tumbuh di atas 9 persen pada 2019 karena mendapatkan tambahan…

Dunia Usaha - Pemerintahan Baru Perlu Didorong Berani Berpihak Pada Industri

  NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Hisar Sirait mendorong agar pemerintahan yang akan terpilih hasil Pemilu 2019 harus berani berpihak…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia Masih Rendah

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan isu membanjirnya tenaga kerja asing…

PASAR OBLIGASI INDONESIA DIPREDIKSI MEMIKAT INVESTOR - Utang Pemerintah Meningkat 10,42% per Maret

Jakarta-Data Kementerian Keuangan mengungkapkan, posisi utang pemerintah per akhir Maret 2019 mencapai Rp4.567 triliun, atau meningkat 10,42% dibanding posisi yang…

JELANG RAMADHAN HARGA TIKET PESAWAT MASIH MAHAL - Menhub Panggil Operator Maskapai Soal Tiket

Jakarta-Harga tiket pesawat mahal saat ini masih menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Apalagi menjelang Ramadhan 2019, moda udara diprediksi masih…