Tahun Ini, KTA Berpotensi Tumbuh Lebih Tinggi

NERACA

Jakarta – Analis dari Perusahaan Pemeringkat Efek, PT ICRA Indonesia, memprediksikan bahwa Kredit Tanpa Agunan (KTA) mempunyai potensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Salah satu sebabnya adalah banyak nasabah yang “lari” ke KTA, khususnya untuk pembelian kendaraan bemotor, karena Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) terkena aturan loan to value (LTV), yang mengatur pembayaran uang muka minimal 30% dari harga jual.

“Aturan LTV sempat berpengaruh ke kredit konsumsi dan (pengaruh) terbesar adalah di kepemilikan kendaraan bermotor, tapi seperti kita tahu orang Indonesia cukup kreatif ya, jadinya waktu itu syariah belum diatur, banyak yang ambil kredit di syariah. Begitu syariahnya diatur, banyak yang (lari) ke KTA,” tutur Kreshna D Armand, Assistant Vice President of Financial Institutions Ratings, ketika ditemui di Jakarta, Rabu (20/3).

Maka dari itu, tambah Kreshna, bahwa penjualan otomotif pada tahun diperkirakan masih menunjukkan tren naik, meskipun nantinya itu dibatasi oleh berbagai macam peraturan, juga ditantang oleh rencana kenaikan harga BBM. “Outlook dari bidang otomotif masih cukup bagus kan di tahun 2013 ini, disebut masih ada pertumbuhan, khususnya motor sendiri juga akan bertumbuh lebih tinggi daripada tahun lalu,” imbuhnya.

Kreshna menyebut bahwa ada kemungkinan KTA akan diatur oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun ini. “Soalnya kalau tidak (diatur) bahaya juga, sebab kalau kita lihat dari segi NPL (rasio kredit macet/non performing loan), KTA itu yang multi purpose tool-nya masih cukup rendah, tapi seperti yang kita tahu NPL itu tidak mungkin tercipta dalam semalam kan,” katanya.

Menurut dia, NPL tersebut biasanya baru akan muncul dalam jangka waktu minimal 180 hari setelah kredit diberikan kepada nasabah. Sehingga efek NPL dari KTA itu baru bisa dilihat setelah kuartal 1 2013 ini. Lalu, ketika ditanyakan mengenai pihak penyalur KTA adalah lebih banyak bank asing, Kreshna bilang bahwa itu sebenarnya usaha mereka untuk mengisi buku pinjamannya, dikarenakan penyaluran kreditnya juga terbatas hanya di beberapa sektor saja.

“Kalau itu saya lihatnya begini, seperti Citibank itu kan dilarang untuk menambah nasabah kartu kredit baru sampai Mei atau Juni tahun ini, otomatis mereka sendiri juga perlu mengompensasi keterbatasan yang mereka dapat. Ya, KTA itu salah satu cara cepat untuk memperbesar buku pinjaman (loan book) mereka. Karena itu tinggal disebar saja, karena terkadang operasionalnya juga cukup murah, seperti soal marketing-nya ataupun yang lewat sms itu tidak akan makan biaya banyak,” ungkapnya.

Kreshna juga menjelaskan bahwa pada tahun ini diprediksikan kredit investasi akan naik sedikit. Namun kalaupun itu turun maka akan turun secara gradual tidak drastis. “Jadinya tahun ini (pertumbuhan kredit investasi) masih sama, dan kredit modal kerja paling tinggi pertumbuhannya di antara jenis-jenis kredit yang lain. Kemudian di bawah itu ada kredit konsumsi, sedangkan kredit investasi akan catching up tapi tidak mungkin melebihi (kredit) konsumsi. Sementara untuk tahun ini, NPL-nya ada di sekitar 2% ya, kalau untuk turun lagi sepertinya agak sulit,” jelasnya.

ICRA Indonesia memang mengeluarkan data, berdasarkan olahan dari data BI, bahwa di akhir 2012 kredit investasi tumbuh 48,6% dari perolehan periode sama tahun 2011, kredit konsumsi tumbuh 29,5% dari periode sama 2011, dan kredit investasi tumbuh 21,8% daripada di akhir 2011.

“Kredit perbankan mencapai sekitar Rp2,71 triliun di tahun 2012, meningkat 23,1%, dimana pencapaian ini berada dalam ekspektasi ICRA Indonesia sebesar 20%-23%. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan 2011 yang tercatat 24,6%, antara lain karena penurunan tajam pada pertumbuhan pinjaman valas,” katanya.

ICRA Indonesia juga memperkirakan kualitas kredit perbankan masih akan tetap kuat seperti yang terjadi di 2012, yang mana pada akhir 2012 perbankan nasional mencatatkan rata-rata CAR sebesar 17,44%, NPL Gross sebesar 1,90%, NIM sebesar 5,48%, laba bersih Rp84,9 triliun, dan LDR 84%.

“Untuk NPL, seperti yang terbukti tahun lalu, kita pikir sulit turun lagi tapi masih bisa turun, tapi kalau dilihat dari saat ini angkanya kepala dua-lah (sekitar 2%). Naik sedikit dari 1,9% di tahun lalu, apalagi kan memang kita harus hati-hati dalam memproyeksikan sesuatu. Kemudian total kredit akan tumbuh pada kisaran 20%-22% di tahun 2013,” paparnya.

Prediksi tersebut didasarkan pada kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung sebagai akibat dari lambatnya pemulihan ekonomi global; ancaman inflasi yang bersumber dari berbagai aspek seperti meningkatnya TDL dan upah pegawai serta potensi volatilitas kepada harga makanan. Perbankan juga harus adaptasi dengan peraturan baru yang memberikan sinyal diprioritaskannya prinsip kehati-hatian di atas prinsip ekspansif.

“BOPO itu lucunya di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi, maka itu berusaha diregulasi BI lewat aturan yang perbankan itu harus menyesuaikan modal dengan BUKU (aturan multiple license). Misalnya BUKU 1-4 itu harus punya alokasi modal inti ke tiap-tiap cabang, jadi tidak bebas lagi buka cabang atau ekspansi secara agresif, sehingga otomatis mereka harus mengerem BOPO-nya. Kalau kita proyeksi, mestinya BOPO turun, dengan peraturan itu. Apalagi dalam rangka integrasi MEA 2015 itu juga BOPO perbankan kita dibandingkan negara tetangga juga trmasuk yang tinggi kan,” ucapnya.

Selain masalah BOPO yang tentu saja berkaitan dengan efisiensi perbankan, beberapa tantangan untuk sektor perbankan di 2013 dan ke depannya, yaitu mengenai pengelolaan kualitas aset, apalagi dengan didorongnya kredit ke sektor UMKM; kemudian perbankan di Indonesia secara umum harus memperkuat permodalannya, tidak hanya demi memenuhi aturan BI, tapi juga untuk mempersiapkan diri mengahadapi persaingan global.

“Iya memang itu harus tambah modal secara bertahap. Dan tujuan BI melakukan multi lisensi itu kan bertujuan konsolidasi perbankan secara natural, karena selama beberapa tahun terakhir turunnya cuma dua bank dari 122 ke 120 (bank umum). Ini trmsk yang tertinggi, karena bank di India atau Malaysia maksimal hanya 80 bank, sementara bank di Singapura yang fully capability cuma ada 33 bank,” pungkasnya. [ria]

Related posts