Angkutan Penghubung Rumah, kantor, atau Sekolah - Bus Transjakarta

Mengapa masih banyak warga masyarakat yang belum menggunakan bus Transjakarta sebagai sarana transportasi dari rumah ke kantor atau sekolah, atau ke mal? Boleh jadi, bus itu melintasi kantor atau sekolah anak kita. Namun, tidak melewati perumahan tempat kita tinggal. Karenanya, orang masih mengandalkan mobil pribadi untuk membawa kita langsung ke tempat tujuan tanpa harus berganti-ganti naik turun kendaraan.

Naik kendaraan pribadi juga dinilai masih lebih manusiawi dan murah dibandingkan dengan mereka yang harus naik angkutan umum. “Saya dari rumah ke kantor di kawasan Menteng, lebih irit naik mobil dari pada angkutan umum, cukup premium Rp 50 ribu bisa dua hari,” tutur Tantowi, warga Kelurahan Sukatan, Kecamatan Tapos, Depok.

Dia pun membandingkan ongkos transport seorang tetangganya yang juga bekerja di kawasan Menteng. Mereka tak bisa jalan bersama-sama karena kebetulan jam kerjanya berbeda. Sang tetangga sekurangnya membutuhkan ongkos sehari Rp 37 ribu sehari dan harus berganti angkutan tiga kali. Pertama, naik ojek, sambung angkutan antar kota, bus Transjakarta, dan terakhir PPD.

Para pakar dan praktisi transportasi menyarankan perlunya diadakan angkutan feeder(pengumpan) yang menghubungkan rumah dengan jalur busway atau angkutan umum missal lainnya, termasuk kereta KRL). Direktur Indonesia Institut for Tranportation and Development Program (ITDP) Yoga Adiwinanto pun mengusulkan agar Pemprov DKI mengadakan angkutan (feeder) dari perumahan ke jalur busway. Jika perlu disinergikan dalam satu sistem. Jika sistem angkutan tersebut sudah terintegrasi, kata Joga, tidak ada lagi angkot yang ngetem dan berebut penumpang. Tidak adalagi pengemis dan pengamen masuk angkot. Aman.

Sebab, sopir angkutan mendapat gaji tetap, bahkan dengan mengantungi sertifikat lulus mengemudi dari Transjakarta, dia akan memperoleh benefit lebih, seperti asuransi kecelakaan dan kesehatan, juga bea siswa pendidikan Untuk membayar operator pemilik angkot, manajemen akan membayar biaya operasional berdasarkan kilometer jalan, dalam keadaan kosong maupun penuh.

“Keuntungan operator angkot yang terintegrasi dengan sistem busway, antara lain investasi armada dapat dengan jaminan kontrak dengan Transjakarta, mendapat fasilitas bunga ringan, maupun kemudahan mengurus perizinan, termasuk STNK, KIU, KIR, dan sebagainya,” kata Joga.

Sebagai tahap awal, ITDP pun mengusulkan sejumlah trayek angkutan bus kecil bergabung dengan manajemen Transjakarta. Di antaranya, Metromini S75 (Pasar Minggu – Blok M) dan S640 (Pasar Minggu- Tanah Abang). Lalu Kopaja P20 (Lebak Bulus – Senen), S66 (Blok M – Manggarai), S620 (Manggarai- Blok M), S612 (Manggarai – Ragunan), dan T57 (Blok M- Kampung Rambutan).

“Dengan rute-rute itu, kapasitas lajur Transjakarta akan meningkat hingga 140%, karena bus kecil itu dipebolehkan masuk jalur busway dan berhenti di haltenya, dan penumpang Transjakarta akan bertambah 50 ribu setiap hari,” kata dia lagi. (saksono)

Related posts