Awas, Jebakan Kelas Menengah

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang disebut-sebut menjadi salah satu berkinerja terbaik di kawasan Asia bahkan di dunia dalam beberapa tahun belakangan ini, patut diwaspadai menghadapi sejumlah tantangan untuk mencapai sebuah tahapan ekonomi yang berpendapatan menengah ke atas.

Pasalnya, tantangan Indonesia dalam mentransformasi industrinya perlu memperbaiki kekurangan dalam infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, hingga memperkuat pemerintahan daerah. Karena negeri ini tidak bisa bertahan dengan kondisi ekonomi yang sekarang ini sekalipun cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,9% dalam lima tahun terakhir.

Adalah Bank Pembangunan Asia (ADB) yang melihat, sebuah kesalahan dalam melakukan perubahan bisa membuat Indonesia terjebak dalam perangkap kelas menengah (a middle income trap), yaitu kondisi negara dengan ekonomi kelas menengah tidak lagi bisa bersaing dengan negara berpenghasilan rendah, yang buruk dalam hal sumber daya manusia, teknologi, dan infrastruktur sehingga sulit untuk mencapai status negara maju berpenghasilan tinggi.

Apalagi jika dikaitkan dengan “mimpi” target Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terkuat ketujuh di dunia pada 2030, apakah akan menjadi kenyataan nanti? Ini perlu kajian lebih mendalam lagi terhadap struktur perekonomian di Indonesia.

Bahkan Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui bahwa negeri ini masih butuh penguatan infrastruktur, ketahanan pangan dan sistem perlindungan sosial, agar pembangunan makin produktif. Persoalannya, salah satu indikasi pembengkakan jumlah kelas menengah yang signifikan dari 81 juta orang (2002) menjadi hampir 150-an juta orang pada 2012 dinilai belum produktif. “Jumlah kelas menengah di Indonesia semakin membengkak sebab bertambah 7 juta per tahun, namun masih konsumtif,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Bagaimanapun, jumlah kelas menengah sekarang mencapai 131 juta orang atau 56,5% dari total penduduk Indonesia. Kategori kelas menengah, menurut versi Bank Dunia, adalah mereka yang membelanjakan uangnya antara US$2 hingga US$20 per hari. Jadi, Indonesia jangan terlena dengan kondisi seperti ini.

Bila menyimak pengalaman dari 101 negara berpendapatan menengah pada 1960, ternyata hanya 13 negara yang kini berhasil menjadi negara maju. Selebihnya terperangkap dalam jebakan kelas menengah, alias tidak maju-maju. Apakah Indonesia ingin mengalami nasib seperti itu?

Kondisi middle income trap adalah sebuah keadaan kondisi negara berpendapatan menengah (middle-income countries) yang “terjebak” di posisinya dan tidak bisa melakukan lompatan lebih jauh untuk meningkat menjadi negara maju.

Karena menurut ADB, ada tiga faktor yang menyebabkan sebuah negara terperangkap dalam jebakan kelas menengah. Yaitu negara yang gagal dalam memberikan perlindungan sosial, gagal dalam membangun infrastruktur, dan gagal membangun kemandirian pangan.

Hatta mengakui ada 70 juta orang Indonesia yang berada dalam posisi rentan menjadi miskin jika program perlindungan sosial gagal dijalankan. Untuk itu, program kredit usaha rakyat (KUR) dan program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) Mandiri, merupakan upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan ke depan.

Jadi, jalan keluar Indonesia supaya lolos dari jeratan middle income trap, adalah mendorong pemberdayaan golongan masyarakat menengah ke hal-hal yang produktif dan mempercepat laju pembangunan infrastruktur serta memperkuat ketahanan pangan di dalam negeri. Semoga!

Related posts