Investor Tidak Ambil Pusing Soal Bubble Obligasi - Prediki ADB Tidak Mendasar

NERACA

Jakarta – Prediksi Asian Development Bank (ADB) bakal terjadinya bubble pasar obligasi di Asia dan termasuk di Indonesia, rupanya disikapi dingin oleh pelaku pasar. Pasalnya, proyeksi tersebut dinilai jauh dari gambaran kondisi Indonesia saat ini.

Analis dari Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, kebenaran prediski ADB masih dipertanyakan benar atau tidaknya karena hanya melihat dari wilayah tertentu saja, “Apa yang disampaikan ADB soal mewaspadai bubble pasar obligasi tidak terlalu memusingkan karena tidak mendasar, “katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (19/3).

Menurutnya, bubble bisa terjadi karena permintaan yang tidak didukung supply yang memadai. Karena itu, obligasi itu banyak pihak yang menerbitkan dan banyak kapabilitas yang dijanjikan.

Dia menegaskan, pasar obligasi di dalam negeri sejauh ini masih sehat karena masih didukung oleh kemampuan pembayaran. Tidak hanya itu, setiap penerbitan obligasi harus mendapatkan izin penerbitan dari otoritas dengan sangat selektif.

Maka merespon prediksi ABD tersebut, kata Reza, ada baiknya bagi investor untuk tetap waspadai bila terjadi kemungkinan buruk, “Investor harus meneliti obligasi yang bakal diterbitkan, mulai dari laporan keuangan hingga penyerapan di pasar,”ungkapnya.

Sebagai informasi, Bank Pembangunan Asia (ADB) mengingatkan peningkatan arus modal pada pasar obligasi lokal di beberapa negara berkembang Asia Timur dapat mendorong risiko terjadinya gelembung (bubble), walaupun hal tersebut menunjukkan adanya minat investor terhadap kawasan ini, “Kawasan ini lebih tangguh dibandingkan dulu, namun pemerintah harus berhati-hati terhadap pembalikan arus modal yang dapat menyebabkan bubble, apabila perekonomian di AS dan Eropa mulai membaik,\" kata Ekonom Senior ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Thiam Hee Ng, dalam keterangan pers kemarin.

Sejak 1990, investor swasta telah menanamkan modal di kawasan Asia Timur, karena suku bunga rendah dan pertumbuhan ekonomi yang melambat di negara maju. Kondisi tersebut makin meningkat hingga akhir tahun lalu. Kawasan negara berkembang di Asia Timur dalam laporan ini mencakup Indonesia, Cina, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

ADB mencatat pada akhir 2012, pasar obligasi di negara Asia Timur mencakup dana senilai US$ 6,5 triliun atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2011 yang hanya tercatat US$ 5,7 triliun. Situasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 12,1%. Hal yang sama terlihat dari pasar obligasi korporasi yang mengalami peningkatan hingga 18,6% atau sebesar US$ 2,3 triliun.

Thiam mencontohkan kondisi di pasar obligasi Indonesia, di mana kepemilikan obligasi pemerintah sebesar 33% dikuasai oleh investor luar negeri hingga akhir 2012. Bandingkan dengan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Malaysia yang mencapai 28,5% pada akhir September 2012. \"Pasar obligasi lokal Indonesia meningkat pada triwulan IV 2012 sebesar 9,7% dibandingkan kondisi tahun lalu atau meningkat 3,3% dibandingkan akhir September 2012,\" ujarnya. (Sylke)

BERITA TERKAIT

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…