Ditopang Grup Bisnis, Penjualan Indofood Capai Rp 50 Triliun

NERACA

Jakarta- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan penjualan bersih tahun 2012 sebesar Rp50,06 triliun atau meningkat sebesar 10,4% dari penjualan bersih tahun lalu yang hanya mencapai Rp45,33 triliun.

Pencapaian tersebut ditopang oleh meningkatnya volume penjualan pada beberapa perusahaan yang termasuk dalam grup perseroan, utamanya untuk volume penjualan tepung terigu, “Meskipun harga CPO melemah, kami dapat menghasilkan kinerja yang baik pada 2012, dan kembali mencatatkan rekor kinerja selama 8 tahun berturut-turut. Kami terus berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan kegiatan usaha kami dengan mempercepat inovasi berbagai produk baru, serta memperluas portfolio bisnis kami.” kata Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Anthoni Salim, dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (19/3).

Menurutnya, sebesar 43% penjualan perseroan terbesar dikontribusikan dari grup produk konsumen bermerek (CBP), diikuti Bogasari, Agribisnis dan Distribusi yang masing-masing memberikan kontribusi sekitar 25%, 24%, dan 8%. Dalam catatan kinerjanya, grup CBP yang terdiri dari divisi mie instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan dan nutrisi dan makanan khusus membukukan pertumbuhan total nilai penjualan sebesar 12,1%. Sementara Bogasari naik sebesar 8% disebabkan kenaikan volume penjualan tepung terigu.

Meskipun harga komoditas mengalami penurunan, kata dia, grup Agribisnis pun dapat mencatatkan pertumbuhan total nilai penjualan sebesar 10,2%, terutama didorong oleh kenaikan volume penjualan produk kelapa sawit, produk minyak goreng ke pihak eksternal dan gula. Grup distribusi juga mencatatkan kenaikan total nilai penjualan sebesar 12,7% yang didukung oleh pertumbuhan penjualan grup CBP.

Namun, sepanjang tahun 2012, perseroan mencatat, marjin laba bersih mengalami penurunan menjadi 6,5% dari 6,8%. Core profit naik 3,5% menjadi Rp3,27 triliun dari Rp3,16 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bruto naik 7,8% menjadi Rp13,57 triliun pada 2012 dibandingkan Rp12,58 triliun pada 2011. Marjin laba bruto turun menjadi 27,1% dari 27,8%. Hal itu karena turunnya kinerja grup Agribisnis sebagai akibatnya turunnya harga jual rata-rata CPO dan karet.

Sementara laba usaha naik 0,3% menjadi Rp6,87 triliun dari Rp6,85 triliun dan marjin laba usaha turun menjadi 13,7% dari 15,1%. Hal tersebut terjadi akibat kenaikan beban penjualan dan distribusi serta beban umum dan administrasi. (lia)

BERITA TERKAIT

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kantungi Empat Proyek Baru - TOTL Pede Target Kontrak Baru Capai Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Mengandalkan proyek-proyek pembangunan gedung dan infrastruktur lainnya, tidak menjadi kekhawatiran bagi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)…

Saat Ini Momentum Tepat Starup Go Public

Maraknya beberapa perusahaan starup yang mencatatkan saham perdananya di pasar modal, menjadi sentimen positif bagi perusahaan starup lainnya untuk mengikuti…

IPO Almazia Ditaksir Oversubscribed 3 Kali

NERACA Jakarta – Jelang pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, PT Sinarmas Sekuritas selaku penjamin emisi penawaran umum saham perdana…