70% Saham Dyandra Diborong Asing - Yakin Oversubscribed 7 Kali

NERACA

Jakarta- Menyambut pencatatan sahamnya di lantai bursa pekan depan, PT Dyandra International Tbk mengaku sebesar 70% dari saham yang ditawarkan ke publik dalam masa penawaran saham perdananya telah dibeli oleh investor asing. \\\"Penawaran saham sejak roadshow di luar negeri, sebesar 70% saham sudah diambil asing, sisanya lokal,\\\" kata Direktur Dyandra Media International Tbk, Danny Budiharto, di Jakarta, Selasa (19/3).

Menurutnya, dari ketiga negara yang disambangi perseroan, Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur, investor asal Hongkong dan Singapura tercatat memiliki minat yang cukup tinggi. Investor dari kedua negara tersebut pun dinilai memiliki kualitas sangat baik, yang memiliki beberapa perusahaan di negaranya. Sementara untuk komposisi investor di dalam negeri, sekitar 15-20% merupakan investor ritel, dan selebihnya adalah investor institusi.

Dia menilai, melihat antusiasme investor selama masa penawaran saham perdana, perseroan optimistis dapat mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 7 kali. Pasalnya, sampai dengan hari terakhir masa penawaran telah mencapai lebih dari 100%. Terlebih perseroan menawarkan penjualan sahamnya di harga Rp350 per lembar saham. Angka tersebut, merupakan rentang harga tengah dari harga yang direncanakan sebelumnya di kisaran Rp315-415 per lembar saham.

Menurutnya, harga tersebut menjadi pertimbangan pihak manajemen untuk memberikan ruang kepada investor untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik di pasar. Padahal jika ditawarkan pada harga Rp415 pun, perseroan memprediksikan akan dapat mencatatkan kelebihan permintaan sekitar 3-4 kali. \\\"Harga 350 dimaksudkan untuk memberikan room kepada investor untuk mendapatkan gain lebih besar.\\\" ujarnya.

Antusiasme investor, lanjut dia, salah satunya didukung oleh bisnis usaha perseroan yang terintegrasi yang bergerak di industri MICE, baik sebagai penyelenggara acara, penyedia ruang pameran dan pertemuan sampai dengan pembangunan hotel yang dimaksudkan dapat menjadi penunjang bisnis yang dijalankan.

Realisasi Target

Tahun ini saja pihaknya mencatat ada sebanyak lima hotel baru, antara lain hotel Amaris di Nusa Dua, Bali, hotel Amaris dan Santika Pancoran, dan hotel Santika Kelapa Gading dengan nilai investasi per kamar sekitar Rp300-400 juta per kamar. Pada tahun 2014, perseroan dapat merealisasikan targetnya sebanyak 11 hotel dengan 3.000 unit kamar.

Sementara untuk ruang pameran dan pertemuan, kata dia, terdapat di Surabaya, Medan, Bali, Makassar, dan BSD City, Tangerang. Untuk yang berlokasi di Bali, saat ini masih dalam pembangunan tahap dua, di atas lahan 25.000 hektar dan diperkirakan selesai sebelum penyelenggaraan APEC pada bulan Oktober 2013. Adapun ruang pameran yang berlokasi di BSD City, Tangerang diperkirakan akan dapat diselesaikan pada pertengahan tahun, sedang untuk yang berlokasi di Makassar baru akan dimulai pembangunannya pada minggu depan.

Sekadar catatan, dalam pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO), perseroan yang bergerak pada industri MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) ini berencana melepas 1.28 miliar saham baru atau 30% dari modal disetor. Sebagai penjamin pelaksana emisi saham, perseroan telah menunjuk Mandiri Sekuritas dan OSK Nusandana Securities Indonesia.

Rencananya, dana yang diperoleh dari hasil IPO sekitar 67% akan digunakan untuk pengembangan usaha dalam bentuk penyertaan modal pada entitas anak. Sekitar 24% untuk pelunasan pokok utang bank sehubungan dengan proyek-proyek yang sudah dilaksanakan perusahaan, dan 9% akan digunakan sebagai modal kerja.

Related posts