Berantas Praktik Kartel

Lonjakan harga bawang putih putih belakangan ini ternyata akibat ulah segelintir pedagang yang mengejar untung besar di tengah kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat Indonesia yang memprihatinkan saat ini.

Penyebabnya pasti permainan para pedagang. Buktinya, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian sedang mendata para importir ilegal bawang putih. Dari 531 kontainer yang ada di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, ada 464 kontainer yang tertahan dan akan diselesaikan proses perizinannya oleh 14 pemilik importir terdaftar tersebut.

Apalagi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan sejumlah indikasi kuat permainan kartel pengimpor bawang putih sehingga harga di dalam negeri menembus rekor tertinggi dalam sejarah, sedikitnya enam kali lipat harga normal.

Harga bawang mulai naik pesat sejak November 2012 dari harga normalnya antara Rp 10.000 dan Rp 15.000per kg, yang kemudian melejit mencapai kisaran Rp 60.000 hingga Rp 80.000 di di pasar lokal di Pulau Jawa saat ini.

Kenaikan harga komoditas ini tentu saja menyulitkan konsumen dan pedagang makanan mengingat bawang putih dipakai sebagai penyedap berbagai masakan yang biasa kita konsumsi atau dijual di warung masyarakat berskala usaha kecil dan mikro.

Lonjakan harga bawang putih juga memicu kenaikan harga bawang merah yang biasanya sekitar Rp 15.000 menjadi sekitar Rp 50.000 per kg. Harga cabai juga naik, tapi ini lebih disebabkan oleh dampak psikologis kenaikan harga barang sejenis berupa bumbu.

Sebenarnya produksi bawang merah dapat dipenuhi dari dalam negeri. Persoalannya lebih pada cuaca ekstrem, yang menyebabkan produksi tidak mencukupi kebutuhan. Yang membahayakan sebenarnya stok bawang putih, mengingat sekitar 95% kebutuhan dalam negeri harus diimpor.

Kita prihatin melihat fenomena seperti ini. Pasalnya, pedagang kecil yang margin keuntungannya sudah kecil akibat keterbatasan daya beli masyarakat selalu diresahkan oleh urusan komoditas pertanian. Kalangan petani sering mengeluhkan ulah segelintir pedagang pihak yang seenaknya mempermainkan harga pangan dan komoditas pertanian.

Apakah ada kemiripan fenomena kenaikan harga bawang putih dengan kenaikan harga kedelai, dan daging sapi, yang begitu menggegerkan beberapa waktu lalu?

Pada kasus kedelai impor karena pasokan dari Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan mengusul kegagalan panen. Sekiranya tidak ada invisible hand, menurut pakar ekonomi Adam Smith, seharusnya kenaikan harga komoditas kedelai di dalam negeri lebih kecil atau paling tidak sama dengan kenaikan di negara produsen (AS).

Adalah fenomena kenaikan harga daging sapi paling mirip dengan kasus bawang putih, yang bermula dari tertahannya impor di pelabuhan karena dokumen tidak lengkap. Mungkin importir berpikir dengan menyogok di pelabuhan impor bisa lancar, dibanding harus mengurus atau melengkapi dokumen yang butuh waktu dan biaya lebih mahal.

Namun di sisi lain, ada kesamaannya yaitu memanfaatkan ketidaktangguhan kondisi pertanian domestik, dan itu dipakai untuk melemahkan petani sekaligus perekonomian nasional. Praktiknya dengan berkongkalikong impor antara pedagang dan pengambil keputusan. Untuk itu kita harus berantas praktik kartel yang merugikan masyarakat Indonesia.

BERITA TERKAIT

KPK Dorong Organisasi Islam Lebih Berperan Berantas Korupsi

KPK Dorong Organisasi Islam Lebih Berperan Berantas Korupsi NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong agar organisasi-organisasi Islam untuk…

Gubernur Ajak Pers Bantu Berantas Korupsi di Banten

Gubernur Ajak Pers Bantu Berantas Korupsi di Banten NERACA Serang - Gubernur Banten Wahidin Halim mengajak wartawan dan media di…

Ciptakan Generasi Muda Qur’ani - Program Berantas Buta Al Qur’an Digelar di 77 Majid

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah, Sinar Mas Land bekerja sama dengan Forum Masjid Mushola BSD (FMMB) dan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Supremasi Hukum Tertinggi di NKRI

Proses perhitungan suara Pileg dan Pilpres 2019 sudah selesai dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengumumkan hasilnya untuk pasangan Jokowi-Ma-ruf…

Jangan Percaya Hoaks

Pada era globalisasi saat ini teknologi berkembang sangat pesat. Sebagian besar individu telah mengenal smartphone dan komputer yang terhubung dengan…

Mari Bersatu Kembali

Tidak bisa kita pungkiri bahwa sebelum digelarnya Pemilihan Umum 2019 kemarin begitu menyerap banyak tenaga dan pikiran. Dalam masa kampanye…