Sentimen Negatif Berlanjut, Posisi IHSG Belum Aman

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah 16,498 poin (0,34%) ke level 4.802,826. Sementara Indeks LQ45 ditutup terkoreksi 1,528 poin (0,19%) ke level 820,221. Aksi ambil untung investor menjadi pemicu melemahnya indeks BEI awal pekan kemarin.

Investor memanfaatkan kenaikan yang terjadi di akhir pekan lalu dengan melakukan akumulasi jual. Kondisi tersebut membuat laju Indeks hari ini tak berdaya dan terkoreksi, meski tidak dalam.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih akan terus terkoreksi seiring aksi jual yang berlanjut. Indeks sendiri diperkirakan akan berada di level 4.798-4.800. Kata analis PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, pasar masih mendapat sentimen negatif dari Eropa menyusul pungutan pajak deposito bank di Siprus yang dianggap mengganggu stabilitas euro dan telah membuat euro terjatuh ke level terendah di tahun 2013.

Kendatipun demikian, dirinya tetap menyakin, IHSG masih diatas zona aman, “ebab, indeks tutup jauh di atas support 4.744-4.750. Kalau mau posisi spekulatif, sepertinya masih aman,” ungkap dia.

Tercatat pada perdagangan kemarin, saham-saham konsumer dan agrikultur berupaya menahan indeks kembali ke zona hijau, namun apa daya koreksi yang diderita saham-saham bank kelas berat sudah terlalu dalam, sehingga IHSG gagal keluar dari zona merah.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 148.990 kali pada volume 6,054 miliar lembar saham senilai Rp 5,818 triliun. Sebanyak 79 saham naik, sisanya 179 saham turun, dan 98 saham stagnan.

Tercatat bursa-bursa di Asia menutup perdagangan awal pekan dengan suram, kompak melemah di zona merah. Koreksinya sangat dalam, rata-rata lebih dari satu persen menyusul anjloknya bursa global akhir pekan lalu.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Tiga Raksa (TGKA) naik Rp 300 ke Rp 3.700, Nippon Indosari (ROTI) naik Rp 300 ke Rp 7.350, Astra Agro (AALI) naik Rp 300 ke Rp 18.250, dan Indofood (INDF) naik Rp 250 ke Rp 7.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 2.000 ke Rp 150.000, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 900 ke Rp 39.450, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 48.450, dan Mayora (MYOR) turun Rp 500 ke Rp 27.000.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI juga ditutup melemah 4,022 poin (0,08%) ke level 4.815,302. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,174 poin (0,02%) ke level 821,923. Saham-saham bank kelas berat jadi target aksi ambil untung. Indeks sektor finansial melemah cukup dalam sampai hampir mendekati satu persen. Posisi indeks yang sudah cukup tinggi dimanfaatkan investor untuk lakukan aksi profit taking. Sepanjang pekan lalu indeks sudah terkena tekanan jual pasca cetak rekor tertingginya di perdagangan Jumat dua pekan lalu.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 87.281 kali pada volume 3,625 miliar lembar saham senilai Rp 2,98 triliun. Sebanyak 86 saham naik, sisanya 144 saham turun, dan 101 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 500 ke Rp 5.200, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 500 ke Rp 77.900, Tiga Raksa (TGKA) naik Rp 300 ke Rp 3.700, AKR (AKRA) naik Rp 225 ke Rp 5.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Merck (MERK) turun Rp 2.000 ke Rp 150.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 800 ke Rp 48.450, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 650 ke Rp 39.700, dan Nipres (NIPS) turun Rp 350 ke Rp 5.550.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka melemah 7,16 poin atau 0,15% ke posisi 4.812,16. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,79 poin (0,22%) ke level 819,96, “Indeks BEI dibuka melemah seiring bursa Asia terimbas aksi ambil untung,\" kata analis Samuel Sekuritas, Benedictus Agung.

Dia mengemukakan pelemahan rupiah salah satunya dipicu juga dari pelemahan rupiah dengan didorong oleh pelemahan dari sektor konsumer, properti, perbankan, dan otomotif. \"Rupiah melemah ke level Rp9.700-an per dolar AS, dan merupakan pelemahan dalam tiga hari berturut-turut,\" katanya.

Dia menambahkan kabar dari Siprus yang mendapatkan dana talangan atau bailout US$ 13 miliar dan perpanjangan jatuh tempo utang \"bailout\" Irlandia dan Portugal juga tidak dapat menghindarkan bursa Eropa terhadap aksi ambil untung.

Bursa regional di antaranya indeks Hang Seng, Senin awal pekan dibuka melemah 421,82 poin (1,87%) ke level 22.111,29, indeks Nikkei-225 naik 179,76 poin (1,45%) ke level 12.560,95, Straits Times melemah 6,55 poin (0,20%) ke posisi 3.286,05. (bani)

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Kontribusi Manufaktur Capai 20%, RI Duduki Posisi ke-5 Dunia

NERACA Jakarta – Industri manufaktur memegang peranan penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, industri manufaktur mampu memberikan kontribusi kepada…

Pefindo Pangkas Outlook APLN Jadi Negatif

NERACA Jakarta – Melorotnya performance kinerja keuangan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) di 2018, rupanya berbuntut rating atau outlook…

Pesta Demokrasi Aman dan Damai

Sedikitnya 195 juta warga telah melaksanakan kewajibannya memilih sekitar 245 ribu caleg dari seluruh tingkatan dan dua pasangan calon presiden…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…