Asumsi Keliru Gejolak Politik Pengaruhi Pasar Modal

NERACA

Jakarta- Otoritas PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai momen perpolitikan yang diklaim dapat mengganjal pertumbuhan pasar modal hanya menjadi isu yang dibesar-besarkan. Pasalnya, secara historis pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dalam kondisi baik pada periode tersebut.

Kata Direktur Utama BEI Ito Warsito, stabilitas politik terjaga itu baik dan pihaknya belajar dari pertumbuhan ekonomi, tahun 2009, “Kala itu, pertumbuhan ekonomi kita tetap baik. Indeks kita tumbuh hampir 87%. Itu tahun pemilu, tahun politik. Jadi, kalau berasumsi bahwa tahun politik pasar modal penuh ketidakpastian, itu menggunakan asumsi yang keliru,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia menceritakan, pada tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat masih lebih baik dibanding negara lain dan dapat mengalami pertumbuhan sekitar 4,5%. Jadi, kata dia, apabila ada anggapan pada tahun 2013-2014 pasar modal Indonesia akan mengalami penurunan, hal tersebut merupakan asumsi yang keliru.

Oleh karena itu, jika ada calon emiten yang dikatakan membatalkan IPO di tahun ini pun dan memilih di tahun depan akibat ketidakstabilan politik tersebut, hal tersebut juga bukan hal yang tepat. “Masyarakat kita sudah lebih matang. Investor kita jauh lebih matang, jauh lebih bisa memilah-milah mana yang isu, atau masalah yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi, ataupun penurunan kinerja emiten.” jelasnya.

Kata Ito, pihaknya optimistis target pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) sebanyak 30 emiten di tahun ini akan tercapai. Terlebih pada tahun 1994, pasar modal Indonesia mampu mencatatkan sebanyak 47 emiten. “Kalau target 30, itu di bawah rekor. Jadi kalau dikatakan sudah jenuh, itu salah lagi karena sejarah membuktikan pernah 47 emiten.”tandasnya.

Sementara terkait pertumbuhan IHSG tahun ini, di mana nilai transaksi perdagangan telah mengalami peningkatan dari target sebelumnya atau lebih dari Rp5,5 triliun, sejauh ini pihaknya belum ada rencana untuk merevisi target. Pasalnya, bagaimanapun kondisi pasar bersifat fluktuatif. “Sekarang masih bulan Maret. Ada masa masa ramai, sepi, dan masih panjang.” ucapnya.

Terkait fluktuasi pasar, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah mengatakan, pada semester pertama tahun 2013 akan menjadi masa bulan madu bagi pasar saham. Sementara di semester kedua, pasar akan mulai beranjak volatile dikarenakan mendekati momentum pemilu, terlebih di tahun 2014.

Oleh karena itu, dia memproyeksikan pasar saham akan lebih berjalan mulus dibandingkan tahun depan. ”Investor asing di semester kedua sudah mulai mengerem, terlebih di 2014 di mana kondisinya sama dengan 2004 di mana kita tidak dapat memprediksikan siapa pemimpinnya. Ini membuat market suatu volatilitas yang tinggi.” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Mewaspadai Politisasi Agama di Tahun Politik

Oleh : Ricky Renaldi, Pengamat Sosial Politik Gerakan politik berpotensi muncul apabila terdapat gerakan massa, tidak hanya dalam gerakan jalan…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…