Beban Industri Mamin Kian Berat - Harga Komponen Naik

NERACA

Jakarta - Beban industri makanan dan minuman (mamin) makin berat di tahun ini. Kenaikkan harga berbagai komponen bahan baku yang ramai terjadi saat ini macam bawang merah dan bawang putih akhir-akhir ini menyusul kenaikkan upah buruh dan energi yang harus mereka tanggung.

Padahal dengan kenaikkan upah buruh dan energi sejak awal 2013 ini saja, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman bilang ada beberapa pelaku industri mamin yang menahan kenaikkan harga. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari turunnya permintaan di pasar. Meski langkah ini dipastikan akan mengurangi margin keuntungan perusahaan. \"Masih ada yang mengorbankan margin menahan kenaikkan harga karena takut terjadi distorsi pasar,\" kata Adhi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Namun dengan makin naikknya beban industri akibat ketidakstabilan harga bahan baku, ia memprediksi semua produsen mamin akan menaikkan harga pada bulan depan. Menurut Adhi, langkah mengorbankan margin sudah tidak bisa ditolelir dengan ketidakstabilan harga bahan baku ini. Dengan terus menurunkan margin maka industri ini berpotensi sakit. \"Sehingga di April saya rasa sudah naik semua hingga 10%,\" ujarnya.

Di industri mamin sendiri, margin keuntungan para produsen disebut bervariasi mulai dari 5% hingga 12%. Saat ini saja, Adhi melanjutkan kenaikkan harga mamin sudah terjadi di tingkat retail sekira 5% hingga 10%. Beberapa produk mamin yang sudah naik harga diantaranya adalah produk turunan terigu dan jus buah.

Tumbuh Stagnan

Di tempat berbeda Sekjen Gapmmi Franky memperkirakan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di 2013 akan stagnan seperti tahun ini yaitu sebesar 8%. \"Dugaan kami pertumbuhannya di 2013 masih seperti tahun ini sebesar 8% karena kami pesimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas politik yang mempengaruhi produksi pengusaha,\" kata dia.

Dia mengatakan situasi di dalam negeri tahun 2013 akan sama dengan 2012 yaitu banyak agenda politis yang dijalankan pemerintah. Hal itu, kata dia, yang menyebabkan kebijakan yang diambil cenderung populis tanpa memperhatikan kepentingan pengusaha. \"Angka moderatnya 8% di tahun depan, karena kami tidak percaya pemerintah bisa menjaga stabilitas politik dan keamanan,\" ujarnya.

Menurut dia, pertumbuhan industri dalam negeri khususnya mamin dipengaruhi stabilitas keamanan dan jaminan stabilitas keputusan terkait industri. Dia menilai 2012 tidak ada jaminan keamanan dari pemerintah sehingga mengganggu proses produksi.\"Karena tahun depan apabila dilihat dari tahun 2012 akan lebih banyak diramaikan dengan peristiwa politik,\" katanya.

Dia menjelaskan, tahun depan diperkirakan akan terjadi konsolidasi partai politik menjelang pemilu 2014 sehingga berbagai isu populis akan diusung. Hal itu menurut dia akan berujung pada pengerahan massa dan menjauhkan terhadapa hubungan industrial yang ideal.

\"Demo buruh pasti melibatkan tenaga kerja dan menyebabkan terjadinya stagnasi produksi atau bahkan penghentian produksi. Apalagi di tahun 2013 tensi politiknya akan lebih tinggi,\" katanya.

Selain itu menurut dia, kenaikan harga pangan dan melemahnya ekspor juga berperan dalam menekan pertumbuhan sektor industri makanan dan minuman. Dia mengatakan kompetitor dari negara lain yang produknya lebih murah terus berproduksi dan melebarkan pangsa pasarnya ke Indonesia.

\"Artinya akan banyak produk murah yang masuk ke pasar dalam negeri dengan kualitas bersaing. Produk impor tidak mengalami kenaikan biaya produksi sedangkan dalam negeri kebalikannya,\" ujar Franky.

Dia mengatakan, kenaikan upah yang melebihi 20% juga menjadi faktor penekan pertumbuhan industri. Franky menilai kenaikkan upah sebesar 10-15% masih layak tetapi jika lebih dari 20% akan mengganggu daya saing.

Sementara itu, Kementerian Industri optimistis industri makanan, minuman, dan tembakau mampu tumbuh 9,25% pada tahun ini dan 9,43% pada 2013. Dari sisi investasi, penanaman modal dalam negeri (PMDN) di industri makanan selama priode Januari-September tergolong tinggi, yakni mencapai Rp7,7 triliun atau tumbuh 24,3% dibandingkan dengan periode yang 2012.

\"Dari sisi nilai investasi, sektor industri makanan menjadi sektor yang paling diminati oleh investor dalam negeri selama periode 2007-2011,\" ujar Kepala Pusat Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri Harris Munandar, baru-baru ini.

Sebelumnya Dirjen Agro Industri Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi, mengatakan, impor makanan dan minuman masih cukup besar mencapai US$1,94 miliar pada 2011, dan masih adanya ketergantungan terhadap bahan baku impor yang cukup besar diantaranya, gandum 5,6 juta ton, gula 2,7 juta ton dan biji kedelai dua juta ton. “Selain itu juga, Indonesia masih mengimpor lebih dari 70% bahan baku untuk industri pengolahan susu,” ujarnya. Dia menambahkan, pangsa pasar produk makanan dan minuman yang cukup besar tersebut akan mendorong tumbuhnya permintaan bahan tambahan pangan.

Related posts