Jeritan Rakyat Kian Merdu

Harga tiga komoditas yang menarik perhatian masyarakat yaitu daging sapi, bawang putih dan bawang merah, kini terasa lebih menyengat. Pasalnya, kenaikan harga komoditas tersebut sudah tidak wajar lagi. Pertama, kenaikan harga daging sapi yang melejit mencapai Rp 90.000-Rp 100.000 per kg. Kedua, konsumen terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam lagi, terutama untuk membeli bawang merah dan bawang putih. Harga bawang merah pada Januari hingga minggu pertama Februari masih di bawah Rp 20 ribu per kg, sekarang melesat hingga Rp 50 ribu, sedangkan harga bawang putih Rp 70 ribu.

Terus terang dalam kondisi demikian, sebagian besar rakyat Indonesia menjerit di tengah kondisi perekonomian mereka rata-rata belum membaik. Bayangkan, bila Anda pada posisi sebagai konsumen? Pada saat harga bawang merah mencapai Rp 50 ribu per kg, kalau Anda berpendapatan tetap, mau tidak mau harus menurunkan volume pembelian karena uang belanja tetap. Jika harga meningkat hingga 200%, Anda pasti membeli pada tingkat minimal, bahkan menghentikan pembelian.

Tidak hanya itu. Anda tentu tetap membeli bawang merah pada volume normal meski harga meningkat karena menganggap masih dalam batas kewajaran, terutama di saat menyadari tingkat substitusi bawang merah oleh komoditas lain sangat rendah. Artinya, konsumen masih menganggap bawang merah masih sulit tergantikan.

Dari gambaran itu, ternyata sulit menemukan keseimbangan harga yang ’’adil’’, yaitu yang dapat menguntungkan pedagang tapi masih bisa terjangkau konsumen. Definisi harga “adil” adalah harga yang berada pada keseimbangan, yaitu titik pertemuan antara kekuatan penawaran dan kekuatan permintaan.

Lantas siapa yang berani mengambil inisiatif mewujudkan harga yang “adil”, pedagang atau konsumen? Pedagang tentu tak berani menjual pada tingkat harga konsumen jika itu berisiko membangkrutkan dirinya. Adapun konsumen pasti mengurangi volume pembelian, dan mengembalikan ke volume asal pada saat harga mencapai keseimbangan atau memenuhi harapan mereka.

Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah merasa tak tahan melihat harga bawang yang naik tinggi dan membuat masyarakat makin sulit. Para menteri diminta untuk segera menyelesaikan kenaikan harga bawang merah dan bawang putih yang terjadi.

\"Hanya tiga komoditas yang mengalami kenaikan tidak wajar, selesaikan, jangan tidur kalau perlu sampai selesai. Rakyat memerlukan kepastian, solusi apa yang dilakukan kementerian terkait, lembaga terkait. Saya mendengarnya dalam talkshow, dalam seminar, bukan itu. Kerja nyata, duduk bersama dengan kementerian terkait lalu solusinya apa,\" tegas SBY saat membuka sidang kabinet terbatas didampingi Wakil Presiden Boediono dan dihadiri para menteri di Jakarta, Kamis (14/3).

SBY sendiri mengakui mengikuti perkembangan harga tiga komoditas tersebut lewat media. Sampai saat ini, ternyata belum ada langkah serius dan nyata dari pemerintah.

Kita tentu mengapresiasi pernyataan SBY. Bagaimanapun, presiden sudah meminta jajaran menteri terkait untuk segera turun tangan mengatasi gejolak harga hortikultura tersebut. Namun SBY kecewa melihat antarinstitusi saling lempar tanggung jawab. Ini tentu preseden buruk di jajaran kementerian dan lembaga (K/L) saat ini yang terlihat tidak mampu berkoordinasi dengan baik. \"Saya malah dengar seperti saling menyalahkan dari satu kementerian dan kementerian lain. Ini buruk, yang benar adalah segera atasi masalah itu, duduk bersama, bicara dengan daerah, gubernur, bupati, walikota, dan kemudian stabilisasi yang dilakukan bisa atasi masalah ini,\" ujar Kepala Negara.

Jelas, peringatan SBY diperuntukkan bagi menteri teknis yang bertanggung jawab atas tata niaga tiga komoditas tersebut. Sudah pasti, kinerja menteri yang bersangkutan dipertaruhkan di tengah jeritan rakyat yang kian merdu belakangan ini.

Related posts