Optimis Tapi Was-Was Kejar Pertumbuhan

Terkait Asumsi Makro APBN 2012

Optimis Tapi Was-Was Kejar Pertumbuhan

Jakarta----Meski sempat terjadi debat berkepanjangan antara Pemerintah dan DPR terkait penetapan asumsi makro APBN 2012. Namun akhirnya ada titik temu dan disepakati asumsi pertumbuhan makro APBN 2012 sekitar 6,6%-7%. "Ya, tentu dengan semangat dan penuh rasa was-was. Tapi kita optimis bisa mencapai 6,6%-7% pada 2012," kata Menteri Keuangan, Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta,14/6.

Selain itu, kata Agus, juga disepakati penetapan exchange rate atau rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar US dalam asumsi makro APBN 2012 adalah Rp8.600-Rp9.100 per USD.

Lebih jauh kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, Pemerintah dan DPR sepakat menetapkan angka inflasi dalam asumsi makro APBN 2012 itu, yakni 4,0%-5,3%. Di mana sebelum melaporkan kepada DPR pemerintah mengasumsikan inflasi akan berada pada angka 3,5%-5,5% dan Bank Indonesia mengasumsikan 4,5% plus minus satu. "Ya, kami sepakat dengan angka 4,0%-5,3%," tandasnya

Menyangkut soal asumsi nilai tukar rupiah, Agus menambahkan asumsi itu akan berada pada Rp8.700-Rp9100 per USD. "Walaupun mengarah defisit, karena orang merasa impor itu murah. Tapi kami ikut dengan Bank Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya mengatakan asumsi tersebut sangat pas melihat sesuatu yang tidak pasti yang akan terjadi kedepannya. "Tepat sekali nilai tukar bukan target, itu adalah prediksi, Rp8.600-Rp9.100 per USD hemat saya bisa menjawab sesuatu yang tidak pasti saat ini," jelas Budi.

Dalam rapat tersebut, pemerintah dan DPR menetapkan exchange rate atau rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam asumsi makro APBN 2012, adapun nilai yang ditetapkan pemerintah adalah Rp8.600-Rp9.100 per USD.

Lebih lanjut Budi mengatakan rupiah ke depannya masih akan terus menguat, tetapi ada faktor ketidakpastian dalam memiikul beban negara ke depannya sehingga rupiah ini agak sulit untuk diprediksi. "Rupiah akan terus menguat sampai tahun depan bahkan, tetapi seberapa faktor fundamental negara seperti menahan defisit 2012, ini ketidakpastian," tambahnya.

Ditempat terpisah, Ketua Bidang Hubungan Internasional BPP Hipmi Adi Suryo Sulisto mengatakan kualitas SDM merupaka pilar paling penting dalam peringkat daya saing suatu negara. "Peningkatan SDM ini berkorelasi positif terhadap kemampuan inovasi anak muda terdidik. Tidak buruk-buruk amat inovasi kita memang. Namun juga kita bukan yang terbaik," katanya.

Laporan daya saing 2011 versi World Economic Forum pada 12-13 Juni 2011 menunjukkan indeks daya saing global Indonesia menempati urutan ke 44 di antara 139 negara di dunia. Indonesia berada pada peringkat ke-10 dari semua negara anggota G20.

Adi menyatakan bahwa kebijakan makroekonomi pemerintah yang mantap serta sumber daya alam yang melimpah, ukuran pasar sangat besar masih menjadi andalan utama daya saing Indonesia. "Kita punya manajemen fiskal yang bagus, sektor finansial sangat sehat dan sumber daya alam tak tertandingi," tegas Adi.

Sementara itu, sekira 100 perwakilan dari perguruan tinggi dari seluruh Tanah Air akan menandatangani deklarasi kerja sama dengan Hipmi di Bandung, Rabu (15/6/2011) besok. Penandatanganan tersebut akan disaksikan langsung oleh Wakil Presiden Boediono. Butir-butir penting dalam kesepakatan itu di antaranya yaitu Hipmi akan menjadi mitra perguruan tinggi dalam melakukan pelatihan, konsultasi, dan pendampingan bagi mahasiswa yang akan terjun ke dunia bisnis.**cahyo

Related posts