Temuan Dahlan di PLN

Temuan Dahlan di PLN

Ditantang telah menyebabkan inefisiensi di PLN sebesar Rp 37 triliun, Menteri Dahlan Iskan balik mengungkap, seharusnya ada temuan inefisiensi BPK di PLN lebih dari angka itu. Bahkan, Dahlan Iskan pun siap dipenjara jika memang keputusan membeli gas untuk menghidupkan pembangkit listrik di Muara Karang dan Muara Tawar. Pembelian gas baru itu akibat jatah gas untuk PLN dikurangi dan dialihkan ke sektor industri. Akibat pembelian gas itu, PLN mengalami inefisiensi sebesar Rp 37 triliun.

Sebelumnya, dari Laporan Hasil Pemeriksaan BPK-RI Nomor: 30/Auditama VII/PDTT/09/2011 tertanggal 16 September 2011, ditemukan adanya kebutuhan gas PLN untuk 8 unit pembangkit berbasis dual firing yang tak terpenuhi. Karena itu harus dilakukan pengoperasian pembangkit dengan solar (high speed diesel (HSD) yang jauh lebih mahal dari gas. Selisih harga itu sebesar Rp17,9 triliun pada 2009 dan Rp19,6 triliun pada 2010. Jika dijumlah menjadi Rp37,5 triliun.

Dahlan berkilah, lebih baik masuk penjara dari pada setahun listrik di Jakarta padat dan industri terhenti berproduksi. Jika itu terjadi, akan terjadi banyak pekerja pabrik yang harus di-PHK. Kasus serupa dia lakukan untuk menghidupkan listrik di Palu.

Menurut Dahlan, ada sejumlah kasus inefisiensi yang mewarnai proyek-proyek di lahan PLN. Inefisiensi itu ada yang sengaja ditempuh sebagai langkah darurat, maupun akibat penyimpangan yang berpotensi merugikan negara. Jumlahnya jauh dari angka Rp 37 triliun sebagaimana ditemukan oleh BPK. Bentuk inefisiensi lainnya antara lain proyek pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 80 MW di Senipah, sekat hulu Sungai Makaham.

Lalu, saat menjadi dirut PLN, Dahlan saya memutuskan membangun transmisi dari Tentena ke Palu lewat Poso sejauh 60 km melewati hutan dan gunung. Tahun depan transmisi tersebut harus jadi untuk mengalirkan listrik dari PLTA Poso milik Jusuf Kalla ke Kota Palu. Menurut pria yang selalu berbaju putih digulung itu, harga listrik dari PLTA Poso tergolong murah. Jika tak ada listrik di Sulteng, ekonomi kawasan itu tak tumbuh. “Berapa inefisiensi tersebut di PLN?” ujarnya.

Temuan lainnya, gas di Jambi melimpah ruah menganggur, sementara listrik di sana menggunakan tenaga penggerak pembangkit listrik dengan BBM yang mahal. Dia pun memutuskan pembangkit di Madura dipindah ke Jambi untuk menggerakkan listrik dengan tenaga gas yang lebih murah dari BBM. Madura tak bakal kekurangan pasokan listrik karena sudah disuplai dari Surabaya melalui jembatan Suromadu.

Kalau Dahlan Iskan minta KPK mengawasi proyek-proyek PLN, Ketua Panja Sektor Hulu Listrik DPR Efendi MS Simbolon juga sejalan. Dia minta agar BPK kembali mengaudit secara investigatif adanya pemborosan anggaran di tubuh PLN, kalau-kalau benar ada penyimpangan dan kerugian negara, misalnya di balik pengadaan batu bara dan rental genset. (saksono)

BERITA TERKAIT

PLN Serap Saham Baru Dua Anak Usah ARII

NERACA Jakarta –PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyerap saham baru dari dua anak usaha PT Atlas Resouces Tbk (ARII), yaitu; PT…

Upaya PLN Bebaskan Desa di Sulteng Dari Kegelapan

Sejumlah tiang dan kabel listrik yang roboh dan putus akibat gempabumi 7,4 SR yang mengguncang tiga wilayah di Provinsi Sulawesi…

Jika Presiden Tidak Turun Tangan, SP PLN Ancam Mogok Kerja - Permasalahan Di PLN

      NERACA   Jakarta - Serikat Pekerja Perusahaan Listrik Negara (SP PLN) mendesak Presiden Joko Widodo untuk turun…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Naik Turun Harga Tiket Pesawat

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (Indonesia National Carriers Association/INACA) sepakat untuk menurunkan tiket pesawat, yang sempat melambung beberapa waktu belakangan.…

Bisa Kenakan Tarif Bagasi Setelah Sosialisasi

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan pihak Lion Air dan Wings Air bisa mengenakan tarif bagasi setelah sosialisasi yang…

Harga Tinggi Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Ketua Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (Asita) Kalimantan Barat, Nugroho Henray Ekasaputra, mengatakan harga tiket pesawat yang…