Lain Jokowi, Lain Dahlan Iskan

Lain Jokowi, Lain Dahlan Iskan

Oleh Bani Saksono

Wartawan harian Ekonomi Neraca

Masih ingatkah, saat Walikota Surakarta Joko Widodo meresmikan Rajawali Esemka mobil karya SMKN 2 Surakarta, sebagai mobil dinasnya, menggantikan mobil Toyota Camry-nya, pada 2 Januari 2012? Sang Rajawali pun diberi baju nomor dinas AD 1 A.

Dan Jokowi sendirilah yang mengantarkan SUV (sport utility vehicle) Rajawali pergi ke Jakarta untuk mengetes kepiawaiannya. Kini mobil itu sudah lolos uji kelayakan jalan, termasuk uji emisi. Jadi secara tak langsung, Rajawali-lah yang mengantarkan tuannya naik tahta, dari walikota Surakarta menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Kalangan media massa pun mengapresiasi. Betapa tidak, mobil itu digadang-gadang bakal menjadi mobil asli putera Indonesia dengan harga yang murah, sekitar Rp 75 juta- Rp 95 juta, jauh di bawah mobil ‘nasional’ lainnya dari merek Toyota, Suzuki, Honda, Mazda, Nissan, dan merek impor lainnya. Murah untuk mobil berpenumpang 7 orang yang bersilinder 4, dengan mesin 1.500c, sistem DOHC injection, dan bertenaga maksimum 76 kW pada 5.500 rpm, dn torsi puncak mencapai 147 Nm pada 4.000 rpm.

Tak lama kemudian, ide kreatif mengangkat Esemka ke kancah nasional itu ditiru Menteri BUMN Dahlan Iskan. Enam bulan dua minggu kemudian, yaitu pada 16 Juli 2012, Dahlan pun mencoba mobil listrik karya Dasep Ahmadi, warga Depok, Jawa Barat. Dari pabriknya, PT Sarimas Ahmadi Pratama diDesa Jatimulya, Cilodong, Depok, Dahlan pun menjajal mobil berwarna hijau pupus itu ke kantornya. Apes, belum sampai di kantornya di Jalan Medan Merdeka Selatan, mobil itu mogok, karena kehabisan tenaga. Batereinya kosong.

Apes kedua, saat Dahlan mencoba lagi mobil listrik ke Sarangan, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, pada 5 Januari 2013. Mobil listrik ‘Tucuxi’ rancangan Danet Suryatama yang dikendarainya hancur saat menabrak tebing jalan di sekitar Palosan, Magetan, Jatim. Beruntung, Dahlan yang ketika itu ditemani seorang perancang teknologi mobil bernama Ricky, selamat dari musibah itu. Uniknya, mobil itu baru saja diruwat, yaitu acara ritual orang Jawa untuk memohon keselamatan bersama dalang Ki Manteb Sudarsono di Solo.

Tak jelas, apakah mobil bikinan Dasep Ahmadi itu sudah menjalani tes kelayakan dan lulus. Namun, yang akan kita tunggu adalah benarkah Dahlan Iskan serius memberi jalan hidup bagi mobil-mobil nasional ciptaan putra bangsa sendiri? Atau hanya mencari popularitas, hingga seperti Jokowi yang digadang-gadang bakal menjadi pemimpin nasional.

Persamaannya, kedua tokoh itu sama-sama berangkat sebagai pengusaha. Jokowi pengusaha mebel. Sedangkan, Dahlan pengusaha media dan industri listrik. Bedanya, sebagai pengusaha, Jokowi tak pernah menikmati proyek pemerintah. Berbeda dengan Dahlan, dia banyak menikmati proyek yang dibiayai uang negara itu melalui perusahaan pembangkit listrik swasta PT Prima Electric Power dan PT Cahaya Fajar Kaltim. Proyek lainnya yang dinikmati adalah proyek sambungan komunikasi bawah laut dengan serat optik ribuan kilometer panjangnya.

Kalaupun Jokowi bakal mulus menjadi pemimpin nasional tanpa terjerat kasus hukum, upaya Dahlan membangun jejak kesuksesan dan kepopuleran menjadi tokoh nasional hendaknya tidak tersandung kasus hukum. ()

Related posts