MI Jagokan Sektor Konsumsi dan Infrastruktur - Tempati 90% Kapitalisasi Pasar

NERACA

Jakarta- Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mematahkan beberapa analisis sebelumnya dengan mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah di atas level 4.800 dinilai banyak didukung oleh kinerja saham dari sektor berbasiskan konsumsi dan infrastruktur.

Oleh karena itu, tidak heran jika manajer investasi (MI) lebih confident untuk menempatkan portofolio investasinya pada kedua sektor tersebut untuk mendukung kinerja produk investasinya seperti reksa dana, “Kami berfokus pada perusahaan dengan pertumbuhan kuat dan diuntungkan dari keadaan domestik Indonesia. Karena itu, portofolio kami akan menitikberatkan pada sektor berbasiskan domestik, di antaranya infrastruktur dan konsumsi,”kata Head of Investment CIMB Principal Asset Management (CPAM), Fadlul Imansyah di Jakarta, Rabu (13/3).

Menurutnya, sektor infrastuktur berputar di saham konstruksi, semen dan properti, sedangkan sektor konsumsi diputar di saham konsumsi dan perbankan. Kedua sektor tersebut dinilai hampir menempati 90% dari kapitalisasi pasar modal. Karena itu, hal ini juga menjadi pertimbangan perusahaan untuk menempatkan portofolio produk reksa dana saham terbarunya pada kedua sektor tersebut.

Dia menilai, kedua sektor tersebut tidak terpengaruh secara signifikan atas terjadinya ketidakpastian global. Dalam hal ini sektor infrastruktur akan diuntungkan dari aliran dana asing dan adanya proyek MP3I pemerintah.

Sementara untuk sektor konsumsi, akan diuntungkan dari struktur demografi Indonesia, terlebih dengan terjadinya peningkatan pendapatan kelas menangah. Jumlah investasi domestik dan asing yang masuk pun, lanjut dia masih tetap besar. Hal ini tercermin dari komposisi impor Indonesia, di mana pembelian barang modal meningkat.

Kata Fadlul, adanya momen pemilu juga tidak seharusnya menjadi kekhawatiran, karena secara historis pasar cenderung rally sebelum pemilu. Karena itu, pihaknya optimistis pada pertumbuhan investasi dan berharap pertumbuhan ekonomi akan berada di atas 6%.

Meski demikian, hal yang perlu dicermati yaitu perkembangan ekonomi global yang masih tidak menentu, antara lain kontraksi di Uni Eropa dan kelanjutan pertumbuhan ekonomi di Cina. CPAM sendiri menargetkan indeks mencapai 5000 pada akhir tahun ini, dengan pertumbuhan 15% EPS.

Tidak hanya CIMB Asset Management yang menaruh optimisme pada sektor konsumsi dan infrastruktur, PT BNP Paribas sebelumnya juga mengatakan, sektor konsumsi dan infrastruktur memiliki perform yang cukup bagus meski beberapa saham menujukkan valuasi cukup tinggi. Rencananya, perusahaan juga akan menerbitkan reksa dana saham terbarunya pada kuartal ketiga tahun ini.

Menurutnya, pergerakan pasar saham yang bertumbuh cukup agresif mencapai 13% di awal kuartal tahun ini dikarenakan derasnya dana asing. Karena itu, volatilitas diperkirakan akan cukup tinggi akibat belum jelasnya kondisi global. \"Indonesia potensi naiknya masih ada. Namun waspada volatilitas akan cukup tinggi karena secara global belum ada perubahan yang cukup signifikan. Market saat ini masih tergantung dari arus dana asing,\" kata Presiden Direktur PT BNP Paribas, Vivian Secakusuma. (lia)

Related posts