Hadapi Persaingan Bisnis, Indocement Gencar Bangun Pabrik - Targetkan Pangsa Pasar 30% Lebih

NERACA

Jakarta- Menyusul pembangunan pabrik baru di wilayah Citeureup, PT Indocement Tugal Perkasa Tbk (INTP) akan kembali membangun dua pabrik semen (brownfield) dengan kapasitas produksi 5 juta ton per tahun, \"Saat ini dalam tahap akhir studi kelayakan untuk membangun dua pabrik semen baru (greenfield) masing-masing berkapasitas produksi sekurang-kurangnya 2,5 juta ton per tahun,”kata Direktur Keuangan Indocement Tugal Perkasa, Tju Lie Sukanto di Jakarta, Rabu (14/3).

Menurutnya, hal tersebut seiring dengan langkah perseroan untuk menambah kapasitas produksi dan menghadapi persaingan bisnis semen dewasa ini. Terlebih perseroan berupaya untuk mempertahankan kinerjanya dan pangsa pasar di atas 30%.

Rencananya, kedua pabrik tersebut akan dibangun di wilayah Jawa Tengah dan satu lainnya di luar pulau Jawa. Sementara pembangunan pabrik Citeureup yang berkapasitas 4,4 juta ton, lanjut dia, akan dimulai pembangunannya pada tahun ini.

Keseluruhan nilai pabrik tersebut diperkirakan menelan dana sekitar Rp5,5-6,5 triliun yang bersumber dari internal kas perseroan. Diharapkan pembangunan pabrik tersebut dapat diselesaikan pada kuartal ketiga 2015. Saat ini, perseroan telah melakukan pemindahan gudang, termasuk menandatangani perjanjian awal mengenai jasa penyediaan peralatan, konstruksi, dan pelaksanaan dengan Grup Sinoma sebagai bagian dari pembangunan pabrik ini.

Pertumbuhan Bisnis

Pihaknya menilai, permintaan domestik masih akan bertumbuh positif, terlebih dengan adanya pembangunan infrastruktur oleh pemerintah maupun pihak swasta. Salah satunya, dari pembangunan apartemen dan hotel.

Oleh karena itu, pihaknya memproyeksikan permintaan nasional mengalami pertumbuhan sekitar 7-8%. Meskipun demikian, perseroan belum dapat merinci mengenai target kinerja di tahun ini. Pasalnya, hal tersebut tidak hanya didasarkan pada permasalahan produksi, namun juga ditunjang oleh variabel lainnya, seperti kesiapan infrastruktur, pelabuhan.

Yang jelas, pada tahun 2012, penjualan semen di pasar domestik mengalami peningkatan menjadi 32% atau sebanyak 17,9 juta ton dibandingkan 2011 sebesar 31,5% atau sejumlah 15,4 juta ton. Hal tersebut ditopang oleh pertumbuhan infrastruktur yang cukup tinggi, khususnya di Pulau Jawa. “Untuk di luar Jawa saat ini, pertumbuhan konsumsi terbesar berada di Pulau Kalimantan sebesar 14 persen. Sementara di Pulau Jawa pertumbuhan konsumsi domestik terbesar masih berada di Jawa Timur, sebesar 23 persen,” paparnya.

Salah satu perkembangan yang signifikan pada tahun 2012, pihaknya mencatat perseroan lebih fokus pada bidang beton siap pakai (RMC). Melalui penerapan strategi harga yang sangat kompetitif, perseroan telah meningkatkan penjualan RMC sebesar 44,8% dari 2,4 juta meter kubik menjadi 3,5 juta meter kubik.

Dia mengatakan, untuk mendukung kinerja perseroan ke depan, pihaknya menganggarkan belanja modal sebesar US$260-320 juta. Namun, nilai tersebut diperkirakan masih akan mengalami peningkatan dengan melihat perkembangan kinerja dan operasional yang dibutuhkan perseroan. “Belanja modal sekitar US$ 260-320 juta dolar, tetapi kalau progress-nya lancar bisa besar lagi.” ujarnya.

Kinerja Perseroan

Sepanjang tahun 2012, perseroan membukukan peningkatan laba bersih sebesar 32,3% atau menjadi Rp4,763 triliun dari perolehan laba tahun lalu sebesar Rp3,601 triliun. Disebutkan, perolehan laba bersih tersebut dipengaruhi oleh peningkatan permintaan pasar yang disertai dengan peningkatan kapasitas produksi yang tumbuh sebesar Rp17,290 triliun atau naik 24,5% dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp13,887 triliun. Faktor lain yang juga mengakibatkan kenaikan pendapatan, yaitu kenaikan harga jual rata-rata semen domestik hingga 7% per ton.

Dia juga mengungkapkan, terjadinya kenaikan biaya logistik yang mengikuti kenaikan volume penjualan dan meningkatnya tarif distribusi dinilai telah mengerek beban usaha naik sebesar 20,7% menjadi Rp2,424 triliun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2 triliun. Namun, laba usaha naik 33% menjadi Rp5,876 triliun dibandingkan tahun sebelumnya dan marjin laba usaha menguat dari 31,8% menjadi 34% pada tahun 2012. (lia)

Related posts