Laba Bank Jabar Banten Tumbuh 23,19%

NERACA

Jakarta – Jika laba PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) di tahun 2012 turun 15,74% menjadi Rp724,63 miliar dari periode sama sebelumnya Rp860,23 miliar, berbeda dengan perolehan laba PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). Pasalnya, perseroan meraih kenaikan laba bersih per Desember 2012 sebesar 23,95% menjadi Rp1,19 triliun, dibandingkan 2011 sebesar Rp962,26 miliar.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (13/3). Selain itu, PT Bank Jabar Banten Tbk juga mencatatkan kenaikan pendapatan mencapai Rp6,78 triliun naik dari pendapatan bunga di tahun sebelumnya Rp5,97 triliun.

Sementara laba operasional naik menjadi Rp1,42 triliun, YoY dari sebesar Rp1,27 triliun. Laba sebelum pajak diraih sebesar Rp1,51 triliun naik dari laba sebelum pajak di tahun sebelumnya Rp1,32 triliun. Adapun total aset per Desember 2012 mencapai Rp70,84 triliun naik dari total aset per Desember 2011 yang Rp54,45 triliun.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bank Jabar Banten Tbk Bien Subiantoro pernah menyampaikan, rasio kredit bermasalah (NPL) perseroan naik dan utamanya di segmen komersial lantaran sebelumnya perseroan tidak memiliki divisi khusus menilai risiko kredit yang disalurkan.“NPL komersial itu bilateral yang belum jelas. NPL naik, makanya ditanggalin persis (persetujuan dan mulai macetnya). Kita ada divisi baru credit risk review. Ini sebagai strategi menekan NPL,” ujarnya.

Secara keseluruhan, total kredit perseroan (bank only) mencapai Rp35,22 triliun per akhir tahun 2012, meningkat 30,5% dibanding Rp26,99 triliun pada akhir 2011. Adapun NPL gross tercatat sebesar 2,1% per akhir 2012, naik dari 1,2% pada akhir 2011. “Jadi, memang setelah ada divisi credit risk review ini jarang terjadi kredit macet seperti sebelumnya. Ada kredit koperasi bina usaha, itu masih lancar, ada 5 bank lain yang membiayai. Di mikro naik, itu kebanyakan yang program KUR (kredit usaha rakyat),” imbuh Bien.

Dari sisi segmentasi kredit, tercatat kredit konsumer memiliki NPL cenderung terjaga di level 0,13%. Sementara dari akhir 2011 ke akhir 2012, NPL di segmen mikro naik dari 2,6% menjadi 4,1%, kredit komersial juga naik dari 4,8% menjadi 7,3%. Sedangkan kredit pemilikan rumah (KPR) naik dari 2,6% menjadi 2,8%. (bani)

BERITA TERKAIT

Gandeng Perusahaan Tiongkok - Kresna Berambisi Terdepan Garap Bisnis Starup

NERACA Jakarta-Sibuk membawa beberapa anak usahanya go public dan juga sukses mengembangkan bisnis digitalnya, PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN)…

Bangun Kompleks Petrokimia - Chandra Asri Petrochemical Dapat Tax Holiday

NERACA Jakarta – Sebagai komitmen patuh terhadap pajak, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) mendapatkan keringanan pajak atau tax holiday…

Ekspansi Bisnis di Kongo - 10 Perusahaan Indonesia Garap Proyek Strategis

NERACA Jakarta – Membidik potensi pasar luar negeri dalam pengembangan bisnisnya, The Sandi Group (TSG) Global Holdings bersama entitas bisnisnya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tambah Fasilitas Produksi Gas - Sale Raya Targetkan Dana IPO US$ 100 Juta

NERACA Jakarta — Menggeliatnya industri minyak dan tambang (migas) dimanfaatkan langsung PT Sele Raya untuk mencari permodalan di pasar modal…

Danai Belanja Modal - Smartfren Kantungi Pinjaman Rp 3,10 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan bisnisnya, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), melalui PT Smart Telecom meraih kredit dari China Development…

Selesaikan Lilitan Utang - MYRX Tawarkan Aset dan Konversi Saham

NERACA Jakarta – Menyampaikan itikad baik untuk melunasi utang akibat gagal bayar atas pinjaman individu, PT Hanson International Tbk (MYRX)…