Jaringan Pipa Gas Perlu Penataan - PGN Memonopoli Akses

NERACA

Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai peningkatan kebutuhan gas di sektor industri harus didukung dengan penataan open access jaringan pipa gas oleh pemerintah untuk memperlancar distribusi bahan bakar gas ke sektor industri.

\"Kebutuhan gas makin lama makin meningkat. Kami harapkan Kemenperin, Kementerian ESDM untuk menata regulasi open access,\" ujar Anggota Komisi VII DPR Bobby Rizaldi dalam Seminar Open Access di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (13/3).

Hambatan distribusi gas terjadi akibat belum adanya pengaturan open access. Misalnya, pipa gas milik Perusahaan Gas Negara (PGN) yang dimonopoli oleh PGN dan tidak bisa digunakan oleh industri dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang juga memerlukan gas.

\"Kita lihat PGN kinerjanya baik, tetapi adanya tendensi monopoli baik transporter dan distributor, ada sinyalemen terhambatnya sektor listrik, listrik di beberapa tempat terkendala infrastruktur (gas). Ada satu fungsi jalur tersebut bukan jalur transportasi, tapi alat negosiasi niaga,\" jelas dia.

Akibat terkendala infrastruktur pipa gas yang belum terbuka aksesnya ini, lanjut dia, industri nasional dan PLN tersendat karena kekurangan sumber energi. \"Ini membuat bukan hanya sektor listrik yang lesu, tapi industri juga,\" katanya.

Sementara itu, Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengungkapkan kalau pasokan gas dalam negeri menjadi kunci sukses sektor industri. Pasalnya, ada 19 sektor industri dalam negeri yang sangat membutuhkan pasokan gas dari dalam negeri.

\"Ketersediaan pasokan gas, jadi kunci manufaktur, industri andalan, keramik, kaca logam tekstil dan 19 sektor yang bergantung pada ketersediaan gas,\" ujar Panggah.

Panggah menjelaskan saat ini pembangunan berdaya saing tinggi dan berkesinambungan di dalam faktor industri bergantung kepada dua faktor yaitu ketersediaan bahan baku dan energi. Dalam pelaksanaannya gas bumi sangat strategis sebagai bahan baku sekaligus menjadi sumber daya energi. \"Pemanfaatan gas bumi juga sejalan dengan pemerintah mendorong meningkatnya nilai tambah dalam negeri,\" jelas Panggah.

Industri Berkembang

Menurut dia, jika gas bumi bisa diproduksi dan dikelola dengan baik, maka sektor industri juga akan berkembang. Kementerian Perindustrian menargetkan peningkatan di sektor industri sebesar 7,14 % dari bantuan industri migas. \"Dengan membaiknya industri migas dan investasi, maka peningkatan bisa mencapai 7,14 %,\" kata dia.

Namun, Panggah menilai target tersebut sangat tinggi. Pasalnya, saat ini sektor industri migas belum didukung oleh infrastruktur yang ada.\"Meski diprediksi cukup tinggi sektor industri belum didukung infrastruktur dan biaya investasi yang tinggi, kita juga masih berhadapan daya saing industri,\" pungkas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Panggah juga berharap strategi ketahanan energi nasional dapat meniru Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) Jepang dengan menyatukan kebijakan dalam satu Kementerian. \"Saya baru mengerti Jepang salah satu kementeriaannya yaitu METI itu dari sektor industri, perdagangan, dan energi menjadi satu. Itu cukup futuristik menurut saya,\" terang Panggah.

Panggah menjelaskan, di zaman dahulu, Indonesia pernah melakukan hal demikian di mana sektor industri dan pertambangan dikawal oleh satu kementerian. \"Dulu kita pernah bersatu dalam satu kementerian. Namanya dulu Perdatam. Menurut saya ini strategis yang bagus ya. Berpikirnya futuristik,\" kata dia.

Menurut dia, dengan memproyeksikan program seperti METI, diperkirakan kebijakan dalam mengoptimalkan ketahanan energi dapat dimanfaatkan dengan baik. Adapun implikasinya juga bakal memberikan efek stimulan positif bagi pembangunan ekonomi Indonesia.\"Kalau bangun ekonomi kuat memang seharusnya disatukan. Karena sesungguhnya kita kuat dari segi sumber daya alam (SDA). Ini bisa dimanfaatkan kalau seperti itu dijalankan,\" jelas dia.

Pasokan Energi

Panggah menambahkan, persoalan sektor industri saat ini adalah minimnya pasokan energi bagi bahan baku ataupun sumber energi. Diharapkan dengan permasalahan ini seluruh stakeholder bersatu dengan bersinergi satu dengan yang lainnya. \"Industri bergantung dengan pasokan gas. Ini perlu dicari jalan keluarnya. Gas merupakan suatu energi yang vital bagi industri,\" jelas dia.

Menurut situs resmi METI Jepang, kebijakan energi menjadi salah satu departemen dalam METI yaitu Departemen Sumber Daya Alam dan Energy (Agency for Natural Resources and Energy). Sekedar informasi, pasokan gas yang cukup dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi di 2012 yakni 6,2%. Ini terbukti karena pertumbuhan sektor industri pengolahan khususnya sub sektor industri non migas mencatat pertumbuhan sebesar 6,4%.

Industri non migas dengan memberikan kontribusi sebesar 20,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dengan nilai itu menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB nasional di bandingkan sektor-sektor lainnya,Akan tetapi, pada beberapa tahun lalu, kontribusi sektor industri non migas pernah capai sebesar 28%. \"Kalau mau perkuat struktur ekonomi, kontribusi industri non migas harus 40% sehingga bisa disebut negara industri, Diharapkan pada 2013 pertumbuhan industri non migas bisa mencapai 7,14%.

Related posts