Investor Diminta Cermati Potensi Gagal Bayar - Penerbitan Surat Utang

NERACA

Jakarta- Kekhawatiran terjadinya kenaikan tingkat inflasi dinilai menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan untuk berburu dana murah dari penerbitan surat utang atau obligasi di semester pertama 2013, selain likuiditas pasar yang saat ini masih tinggi.

Namun, sejauh ini investor diminta untuk mencermati potensi gagal bayar dari maraknya penerbitan obligasi korporasi tersebut, “Gagal bayar biasanya tercermin dari peringkat obligasi tersebut, semakin baik peringkat atau ratingnya, risiko gagal bayar semakin rendah. Karena itu, investor harus juga mempertimbangkan obligasi dengan peringkat yang baik minimal investment grade,”kata analis dari PT Lembaga Penilaian Harga Efek, Fakhrul Aufa di Jakarta, Selasa (12/3).

Menurutnya, semester pertama 2013 menjadi momentum terbaik untuk menerbitkan obligasi karena pada semester kedua diekspektasikan akan terjadi kenaikan tingkat inflasi atau lebih dari 0,75%. Karena itu, banyak perusahaan yang tampaknya mengejar momen tersebut untuk memperoleh tambahan dana melalui penerbitan obligasi ini.\"Dengan terjadinya kenaikan inflasi, investor akan meminta kupon yang lebih tinggi,\" ujarnya.

Jika kupon yang diminta lebih tinggi, lanjut dia, itu artinya akan membuat emiten harus membayar biaya yang lebih mahal. Karena itu, secara umum, penerbitan obligasi diperkirakan akan lebih tinggi dari tahun lalu karena suku bunga saat ini dinilai masih rendah. Bahkan nilainya diproyeksikan dapat menembus angka Rp55-60 triliun.

Selain itu, maraknya penerbitan obligasi juga didukung oleh likuiditas pasar yang masih tinggi. Imbasnya, demand terhadap penerbitan obligasi saat ini sangat baik. Di lain kesempatan, Direktur Utama Pefindo, Ronald T. Andi Kasim pernah mengatakan, peluang pertumbuhan obligasi di tahun ini masih cukup besar. Salah satunya didukung tingkat suku bunga acuan yang berada di level 5,75% dinilai masih cukup rendah.

Permintaan Besar

Di samping itu, meski terjadi peningkatan dari sisi supply belum mampu memenuhi permintaan pasar, “Penerbitan obligasi lebih erat kaitannya dengan tingkat suku bunga. Suku bunga rendah akan sangat menarik bagi perusahaan untuk menerbitkan surat utang karena dinilai akan dapat menutupi kewajiban utangnya,\" jelasnya.

Menurutnya, kekhawatiran akan kenaikan inflasi yang dapat mendorong tingkat suku bunga tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat penerbitan obligasi. Karena penerbitan obligasi merupakan keputusan masing-masing perusahaan dan mereka mungkin hanya akan melakukan adaptasi.

Pihaknya mengestimasikan, total nilai obligasi dan MTN yang akan diterbitkan pada tahun 2013 akan mencapai angka Rp80 triliun. Saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI), tengah memproses izin penerbitan obligasi pada 18 Maret 2013, selain empat perusahaan lainnya yang juga berencana menerbitkan obligasi.

Dua perusahaan yang akan memproses izin penerbitan obligasi tersebut, yaitu PT Medco Energi Internasional Tbk senilai Rp1,5 triliun dan PT Adhi Karya Tbk senilai Rp750 miliar. Adapun keempat perusahaan lainnya yang saat ini juga sedang memproses izin penerbitan obligasinya, lanjut dia, yaitu PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) senilai Rp700 miliar dan obligasi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) senilai Rp600 miliar dan sukuk Rp300 miliar. PT Sinarmas Multifinance dengan nilai emisi Rp1 triliun dan obligasi PT Toyota Astra Financial Services senilai Rp1,2 triliun. (lia)

Related posts