Siasat Licik Importir Minta Tambahan Kuota - LONJAKAN HARGA BAWANG PUTIH

NERACA

Jakarta – Kenaikan harga bawang putih yang secara tak lazim dianggap sebagai siasat licik para importir besar untuk meminta tambahan kuota impor, sekaligus dalam waktu bersamaan bisa menangguk untung berlipat-lipat dari kegiatan penimbunan yang mereka lakukan di sejumlah tempat penyimpanan.

\"Importir besar sengaja menahan bawang putih disuatu tempat penyimpanan dengan tujuan memperoleh keuntungan yang berlipat dan menyiasati pemerintah agar mereka mendapatkan tambahan kuota impor,\" tegas Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada Neraca, Selasa (12/3).

Karena itu, Ngadiran mengaku tidak percaya dengan pernyataan pemerintah yang mengungkapkan bahwa meroketnya harga bawang putih karena gagalnya panen di tahun ini yang disebabkan oleh faktor cuaca.

Namun, dia lebih percaya bahwa, gejolak harga bawang putih saat ini lebih disebabkan adanya permainan para importir besar. Bahkan, lebih jauh lagi Ngadiran mencurigai, meroketnya harga bawang putih yang sangat tidak wajar tidak lepas dari campur tangan kartel produk hortikultura tersebut. “Ini bisa dilihat dari kenaikan harga di sejumlah daerah bisa sama dengan daerah lain,” jelasnya.

Terkait hal ini, dia juga menyalahkan Kementerian Pertanian. Menurut dia, negara telah memberikan anggaran yang besar untuk mengembangkan pertanian di Indonesia, tetapi sia-sia jika ujung-ujungnya terus melakukan impor. “Mereka itu kerjanya apa? Sektor pertanian tidak ada yang berjalan dengan baik, semuanya impor,” cetusnya.

Di samping itu, meroketnya harga bawang putih karena keterlambatan pemerintah untuk penerbitan rekomendasi impor produk hortikuktura (RIPH). Permasalahan ini terjadi karena ketergantungan pasokan bawang putih masih sangat tinggi. Ngadiran juga mengritik tajam kebijakan tata niaga bawang. Beberapa tahun lalu, menurut dia, impor bawang putih hanya 20%, sementara pasokan dari petani dalam negeri 80%. “Kalau sekarang malah kebalikannya,” bebernya.

Seperti diketahui, harga bawang putih di pasaran domestik sudah hampir menembus Rp 40.000/kg. Bahkan di beberapa tempat di Jabodetabek harganya sudah melambung hingga Rp 50.000/kg. Padahal harga normalnya tak lebih dari Rp 14.000/kg.

Ketergantungan Impor

Pengamat dan ahli pangan Bustanul Arifin menuturkan meskipun memang sebagian besar bawang putih didatangkan dengan cara impor, namun tetap tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia akan bawang. Dijelaskannya, Indonesia bisa melepas ketergantungan impor bawang dari negara lain apabila pemerintah serius menanganinya.

Bustanul juga menyarankan pemerintah harus mengelola dengan baik mengenai tata niaga bawang sehingga harganya menjadi stabil. “Kebijakan yang tepat dari pemerintah adalah bisa mengurangi ketergantungan impor bawang sehingga harga bawang tidak terpengaruh terhadap harga pasar di dunia,” ungkapnya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Sri Agustina menjelaskan, melonjaknya harga bawang putih membuat pemerintah akan melakukan impor bawang putih sebesar 29.136 ton. \"Penyebab kenaikan harga ini kan supplier kurang dan ada problem cuaca. Sekarang sudah keluar, Dirjen Perdagangan Luar Negeri kemarin sudah tanda tangan persetujuan impor untuk 16 perusahaan. Harapan kita bisa mendatangkan pasokan 29.136 ton,\" ujarnya, kemarin.

Menurut Sri, dengan membuka kran impor untuk komoditas bawang putih diharapkan bisa menurunkan harga. Pasalnya beberapa daerah telah mengalami kenaikan batas normal. Dia juga menduga kenaikan harga lantaran lambatnya RIPH. Menurut dia, kuota bawang putih yang bisa didatangkan ke-16 perusahaan itu mencakup 23% alokasi impor tahun ini sebesar 160.000 ton. Dari informasi Kemendag, pihak Kementan saat ini masih mengurus RIPH tambahan untuk 26 perusahaan lain. \"Kalau SPI 26 perusahaan itu ditandatangani Senin (pekan depan) akan ada 64.400 ton bawang putih yang kita pasok ke pasar,\" ungkapnya.

Importasi bawang putih ini rata-rata berasal dari China dan India. Masa pengiriman maksimal dua pekan dari saat SPI dikeluarkan. Meski bawang impor itu baru bisa sampai di Tanah Air paling cepat pertengahan Maret, Sri tidak khawatir, karena cadangan pedagang grosir di Pasar Induk seperti Kramat Jati masih aman. \"Teman-teman (pedagang) mereka stoknya untuk satu minggu masih ada,\" katanya.

iwan/mohar/bari/munib

Related posts