UOB Indonesia Targetkan Raih Rp1 T di 2011 - Luncurkan Giro UOB

Jakarta - PT Bank UOB Indonesia (UOB) meluncurkan produk unggulan bernama Giro UOB sebagai bagian dari startegi diversifikasi produk dan peningkatan layanan terhadap nasabah. Produk giro ini memberikan tiga keuntungan serta mengedepankan kenyamanan transaksi perbankan. Menurut Director Head of Commercial Banking UOB Madi D. Lazuardi, giro ini berbeda dengan giro yang ada di perbankan lain, karena nasabah bebas (free) bertransaksi tanpa harus memikirkan biaya ekstra atau tambahan.

“Lalu suku bunga sangat kompetitif. Umumnya, suku bunga giro berkisar 0-1,5%. Kami bisa sampai 1,75%. Terakhir, hadiah dapat diambil langsung tanpa diundi. Malahan, nasabah bisa pilih sendiri hadiah lainnya,” ujar Madi di Jakarta, Senin (13/6). Madi mengklaim bahwa Giro UOB ini menawarkan tiga keunggulan sekaligus dan hanya UOB Indonesia, bank yang mengeluarkan produk giro sejenis ini di Indonesia. Untuk nasabah giro, tambah dia, tidak hanya perusahaan tetapi juga individu.

“Saldo minimal untuk perusahaan Rp 5 juta, sedangkan individu Rp 2,5 juta. Free transaksi yang kami tawarkan disini adalah untuk meraih nasabah dan meningkatkan transaksi giro. Untuk Giro UOB, kami targetkan dana raihan tahun ini berkisar Rp 700 miliar-Rp 1 trilun,” jelasnya.

Lebih lanjut Madi mengungkapkan, industri perbankan di Indonesia sangat kompetitif, sehingga perlu dibuta sebuah terobosan dalam membuat suatu produk yang terdepan serta unik, dan tentunya, berbeda dengan para kompetitor. “Giro UOB ini menjadi produk unggulan kami dalam persaingan perbankan yang ketat. Kami selangkah di depan jika dibanding produk giro bank lain,” ucap dia.

Madi juga menjelaskan, commercial banking UOB yang diluncurkan sejak 2008 lalu, nilai kreditnya hanya Rp 2,5 triliun. Namun hingga Maret 2011, meningkat 30% atau Rp 9 triliun. Kredit konsumen seperti rumah sebesar Rp 4 triliun atau 13%. Business banking turun 31% atau Rp 9,6 triliun. Corporate banking senilai Rp 7,4 triliun atau 24%. Sehingga total kredit yang diraih bank yang dahulu bernama Bank Buana ini menjadi Rp 30 triliun. “Bank kami sudah lama kuat di ritel dan memiliki 215 kantor cabang di seluruh Indonesia,” katanya.

Komposisi dana pihak ketiga (DPK) per Maret 2011 mencapai Rp 32,5 triliun. Sebesar 22% atau Rp 7,3 triliun untuk commercial banking. Sehingga persentase DPK dari Rp 7,3 triliun ini adalah 40% CASA (current account and savings account) dan 60% fix deposit. Net interest margin (NIM) berkisar 4-4,5%. “Total kredit kami harus tumbuh Rp 1 triliun sepanjang tahun ini. Ini untuk menjaga agar LDR (loan to deposite ratio) tetap di 95%,” papar Madi.

Sebagai informasi, saham mayoritas PT UOB Indonesia sebesar 98,9% dimiliki United Overseas Bank Limited, Singapura (UOB Singapore). Pada 19 Mei 2011 lalu, resmi mengganti nama menjadi PT Bank UOB Indonesia dari sebelumnya PT Bank UOB Buana. (ardi)

BERITA TERKAIT

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata - Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018 NERACA  Depok - ‎Pemerintah Kota (Pemkot) Depok setelah berhasil…

Garap Proyek Jalan Tol - Waskita Karya Raih Pembayaran Rp 1,9 Triliun

NERACA Jakarta - PT Waskita Karya Tbk (WSKT) selaku kontraktor yang menggarap proyek ruas tol Terbanggi Besar - Pematang Panggang -…

Anak Usaha Raih Pinjaman Rp Triliun - Ciputra Development Pasang Badan Jaminkan Aset

NERACA Jakarta – Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) siap jaminkan aset untuk anak usahanya. Dimana…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

Bank Muamalat Kerjasama Remitansi dengan Al Rajhi Bank Malaysia

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Al Rajhi Bank Malaysia menandatangani perjanjian kerjasama…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…