Terbebani Subsidi, PLN Minim Investasi

NERACA

Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menilai salah satu perusahan milik negara yang menangani lsitrik yaitu PLN masih minim dalam berinvestasi. Hal itu lantaran sebagian besar dana diperuntukan untuk subsidi listrik kepada masyarakat.

Deputi Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik, Kementerian BUMN, Iman A Putro menjelaskan bahwa subsidi hanya menutup biaya operasional saja. \\\"Subsidi untuk listrik sebesar Rp73 triliun itu hanya untuk operasional saja. Sehingga membuat PLN tidak bisa berkembang secara masif. Akibatnya PLN minim melakukan investasi dengan membangun proyek,\\\" ungkap Iman di Jakarta, Senin (11/3).

Ia menjelaskan, pada 2012 kemarin, subsidi listrik banyak diserap oleh golongan rumah tangga yaitu sebesar 47,6%. Selain itu golongan industri menengah menyerap listrik sebesar 19,68%. Dan sisanya untuk kalangan industri skala besar.

Hingga kini PLN memperkirakan beban subsidi akan terus menurun seiring kebijakan pemerintah untuk menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) di tahun ini. PLN menaikkan TTL di tahun ini khusus bagi pelanggan di atas 1.300 VA.

PT PLN (Persero) mengklaim membutuhkan dana yang besar untuk membangun sarana pembangkitan, transmisi dan distribusi tenaga listrik di Indonesia selama tahun 2012 hingga 2021. Di tahun 2013 ini saja, PLN membutuhkan US$ 649 Juta.

Sebelumnya, Direktur Utama PLN Nur Pamudji menyebut, kebutuhan investasi PLN untuk tahun ini sebesar US$ 64,9 miliar. Namun ternyata dana sebesar itu hanya mencakup proyek-proyek PLN saja dan belum mencakup dana investasi untuk proyek listrik yang diasumsikan akan dilaksanakan oleh swasta (IPP). Karena itu, Nur menyebut PLN membutuhkan dana US$ 649 juta tanpa proyek IPP. \\\"Melihat kebutuhan dana yang sangat besar tersebut, maka disadari adanya tantangan yang sangat besar dalam menyediakan dana,\\\" ujar Nur.

Untuk pembiayaan, Nur menyebut, proyek pembangkitan PLN berasal dari beberapa sumber yaitu, didanai dengan pinjaman luar negeri yang diusahakan oleh PLN dengan jaminan Pemerintah. \\\"Proyek percepatan pembangkit 10.000 MW dibiayai dari pinjaman luar dan dalam negeri yang diusahakan sendiri oleh PLN dengan garansi Pemerintah,\\\" imbuhnya.

Pamudji menambahkan, akhir-akhir ini PLN kembali berupaya memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan multilateral (IBRD, ADB) dan bilateral (JICA, AFD) untuk mendanai proyek-proyek kelistrikan yang besar seperti Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatera–Jawa dengan skema two step loan.

Proyek pumped storage Upper Cisokan senilai US$ 800 juta telah diusulkan pendanaannya ke lender multilateral. Sedangkan PLTU Indramayu 1x1.000 MW senilai US$ 2.000 juta diusulkan pendanaannya ke lender bilateral. Kebutuhan dana investasi untuk penyaluran dan distribusi masing-masing sebesar US$ 7,7 miliar dan US$ 6,7 miliar.

Sedangkan untuk Proyeksi kebutuhan investasi pembangkit, sistem penyaluran dan distribusi dalam kurun waktu 2012-2021 untuk Wilayah Operasi Indonesia Barat sebesar US$ 17,8 miliar atau rata-rata US$ 1,8 miliar per tahun. Sedangkan untuk Wilayah Operasi Indonesia Timur US$ 12,4 miliar atau rata-rata US$ 1,2 miliar \\\"Proyek penyaluran pada tahun 2012-2013 didominasi oleh transmisi yang terkait dengan proyek percepatan pembangkit,\\\" jelasnya.

Proyek 10.000 MW

PLN sendiri mempunyai program membangun 10.000 MW untuk bisa mengaliri listrik ke seluruh Indonesia. Untuk itu, PLN menargetkan pada 2014 mendatang, dipastikan proyek pembangunan pembangkit listrik 10.000 megawatt (MW) tahap I akan dirampungkan.

Menurut Manajer Senior Komunikasi Korporat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Bambang Dwiyanto, sesuai dengan Peraturan Presiden no.59 tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden no.71 tahun 2006 PLN tentang penugasan kepada PLN untuk melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang menggunakan Batubara, pihaknya diberi kesempatan untuk menyelesaikan proyek pembangunan PLTU batubara 10.000 MW tahap pertama hingga akhir Desember 2014 mendatang.

Bambang memastikan, proyek ini tidak akan gagal, karena sejak tahun 2010 telah ada beberapa pembangkit yang mulai beroperasi secara penuh. Sementara itu, tambahnya, proyek yangs edang dalam tahap penyelesaian konstruksi akan selesai dan beroperasi penuh pada tahun 2013 sebesar 1.654 MW. Sehingga dengan demikian pada tahun ini proyek FTP-1 akan beroperasi sebesar 8.592 MW, sedangkan sisanya akan beroperasi sepenuhnya pada tahun 2014 mendatang.

Sebagaimana diketahui, pada proyek ini terdiri atas pembangunan 37 PLTU dengan kapasitas total sebesar 9.887 MW di seluruh Indonesia. Pembangunan proyek tersbeut telah berjalan dan pada saat ini sudah memasuki tahap-tahap penyelesaian dengan perkembangan pada akshir 2012 yang mencapai 4.510 (8 PLTU) yang sudah beroperasi penuh mulai 2010 sebnayak 2.428 MW (8 PLTU) yang dalam tahap uji coba sejak 2011, sebnayak 2.919 MW (16 PLTU) dalam tahap penyelesaian konstruksi, 14 MW (1 PLTU) dalam tahap pelelangan belum berhasil, dan 104 MW (4 PLTU) diputus kontraknya.

Related posts