Kejar Produksi 9,5 Juta Ton, KKP Pasang 4 Strategi - Perikanan Budidaya

NERACA

Bandung - Kementerian Kelautan dan Perikannan (KKP) menargetkan produksi perikanan budidaya pada 2013 sebesar 13,09 juta ton. Untuk mencapai target tersebut, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto akan menerapkan 4 strategi dalam mencapai target tersebut.

\"Pada 2012, kita berhasil memproduksi perikanan budidaya sebesar 9,4 juta ton. Pada tahun ini, kita menargetkan 13,09 juta ton. Maka kita akan menarapkan 4 strategi untuk dapat mencapainya,\" kata Slamet ketika ditemui di Bandung, Jumat (8/3).

Ia menjelaskan bahwa 5 startegi tersebut antara lain menyiapkan induk-induk ikan unggul. Ada beberapa program KKP seperti Gerakan Penggunaan Induk Unggul (GAUL), sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik). \"Dengan menggunakan induk-induk ikan unggul maka akan dihasilkan benih ikan yang unggul dan bermutu. Dengan menggunakan benih ikan yang daya hidup tinggi, cepat tumbuh, dan bebas penyakit maka produksi akan naik 20%,\" katanya.

Strategi ke dua, kata Slamet, pemanfaatan teknologi untuk budidaya ikan secara intensif, efisien, dan menguntungkan. Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi bioflok dengan probiotik sehingga bisa menekan biaya pakan sampai 80%. \"Itu karena probiotik mampu menyeimbangkan ekosistem, meminimalisir NH3 ,dan menumbuhkan pakan alami di ekosistem tersebut, \" terang Slamet.

Selain itu, strategi ke tiga adalah mengintegrasikan komoditas yang berbeda misalnya antara perikanan dan pertanian atau dikenal dengan minapadi. Ia menjelaskan minapadi mensinergikan antara padi dengan ikan nila, mas, gurame atau udang galah. \"Kami menargetkan untuk pengembangan minapadi adalah daerah yang memiliki irigasi permanen dan daerahnya yang tidak kering sepanjang tahun, \" ujarnya.

Diakui oleh Slamet, bahwa budidaya Udang Galah dan Padi atau dikenal dengan UGADI di Banjarnegara telah berjalan sukses. Hal itu bisa dilihat dari produksinya dari 1 hektar lahan berhasil memproduksi 1,5 ton udang galah dan 7 ton padi. Bahkan, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan telah menyatakan dukungan terhadap program ini dan akan dituangkan dalam suatu MOU.

Menurut Slamet, strategi ke empat adalah memanfaatkan perairan umum seperti waduk, sungai dan rawa untuk budidaya perikanan. Namun demikian, kata dia, yang menjadi perhatian pemerintah bukanlah hanya budidaya semata, tetapi juga pelestariannya agar budidaya perikanan tetap berkelanjutan. \"Kami berharap dengan konsep pengembangan perikanan budidaya berbasis ekonomi biru, keberlanjutan usaha perikanan budidaya akan terjamin,\" imbuhnya.

Sebelumnya, Slamet mengatakan komoditas rumput laut yang paling dijagokan untuk mencapai produksi perikanan budidaya yakni 7,5 juta ton. Slamet optimistis target tersebut dapat dilampaui,mengingat sejak 2010, pencapaiannya selalu melebihi target. \"Tahun 2011, produksi rumput laut mencapai 5,1 juta ton atau 147,5% dari target.Begitu juga tahun lalu, mencapai 6,2 juta ton atau melampaui 121,6 dari target,\" terang Slamet.

Selain rumput laut, menurut Slamet, komoditas perikanan budidaya lain yang menjadi tumpuan produksi diantaranya komoditas cat fish seperti patin dan lele sebesar 7,5 juta ton. Kemudian, nila 1,105 juta ton, bandeng 604.000 ton dan udang 608.00. Adapun komoditas lain seperti ikan mas yakni ditargetkan sebesar 325.000 ton, gurame 46.600 ton, kakap 7.500 ton dan kerapu 15.000 ton. \"Di luar 10 komoditas perikanan diatas sebesar 1,03 juta ton,\" terangnya.

Minim Investor

Di tengah gencarnya KKP dalam menggenjot produksi perikanan di Indonesia, namun sayangnya investor masih belum banyak melirik usaha perikanan tersebut. Bahkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto menilai sektor perikanan kurang mendapat perhatian investor. Hal ini terlihat dari investasi sektor perikanan yang masih rendah meski Indonesia sebagai negara maritim. \"Sebagai negara maritim, Indonesia belum mampu memberdayakan sumber daya laut secara maksimal,\" katanya.

Menurut dia, investasi di Indonesia masih berorientasi di darat, sehingga sektor kelautan dan perikanan masih kurang mendapat perhatian dari investor. Perlu upaya keras dari pemerintah maupun pelaku usaha untuk menarik investasi kelautan dan perikanan.

Ke depan, ia melanjutkan, untuk mengembangkan sektor ini, perlu ada investasi yang bersifat terpadu. Alasannya, masalah perikanan mempunyai spektrum yang luas, dari hulu ke hilir. “Masalah investasi yang dihadapi seperti kemampuan penangkapan, penyimpanan dan pengawetan, pengemasan, pengangkutan, hingga ke pemasaran,” jelasnya.

Rendahnya investasi ini, kata Suryo, ternyata berbanding lurus dengan rendahnya konsumsi ikan di Indonesia. Konsumsi ikan di Indonesia masih sangat rendah, yaitu sekitar 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini di bawah standar minimum yang ditetapkan FAO sebesar 30 kilogram per kapita per tahun. \"Dengan target 30 kilogram ini, akan diperlukan konsumsi sebesar 7,5 juta ton,\" katanya.

Related posts