Indonesia Siap Pasok Udang di Pasar Global - Produsen Dunia Tengah Terjangkit Virus

NERACA

Indramayu - Beberapa negara produsen udang seperti China, Thailand, Vietnam dan Malaysia menghadapi masalah besar yaitu sebagian besar tambaknya terjangkit virus Early Mortality Sindrome (EMS) sehingga menyebabkan kematian masal pada udang. Dengan begitu, hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk bisa menggantikan posisi negara-negara yang terkena virus tersebut. Maka dari itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutarjo mengatakan bahwa tahun 2013 adalah tahun udang.

\"Beberapa produsen udang sedang terjangkit virus. Maka dari itu, hal ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk bisa memenuhi permintaan pasar dunia yang terbilang cukup besar. Bagusnya adalah Indonesia terbebas dari virus tersebut,\" ungkap Sharif dalam acara panen raya udang Vaname di Desa Singaraja, Kecamatan Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (9/3).

Ia menjelaskan bahwa produksi udang secara nasional telah menunjukan angka yang terus meningkat. Di 2011 produksi udang nasional mencapai 400.385 ton dan pada 2012 produksi meningkat menjadi 457.600 ton. Menurut dia, keberhasilan ini didorong dengan penguasaan teknologi yang semakin baik dan kesadaran masyarakat dalam menerapkan cara-cara budidaya ikan yang sudah lebih baik. Adanya peningkatan produksi juga telah memberikan tambahan devisa kepada negara.

Namun sayang, keluh Sharif, dari total lahan sebesar 1,6 juta hektar yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya, baru dimanfaatkan sekitar 400 ribu hektar saja. \"Maka tekad kami adalah agar masyarakat bisa sama-sama ikut membudidayakan udang. Baik perusahaan swasta, perusahaan negara ataupun perseorangan untuk bisa bekerjasama untuk membudidayakan ikan maupun udang. Karena keuntungannya juga cukup menggiurkan lantaran pasar selalu terbuka,\" katanya.

Menurut Sharif, Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam hal budidaya udang. Pasalnya dalam satu musim, per hektar mampu memproduksi sebesar 40 ton. Sedangkan di China, lanjut dia, karena di negeri tirai bambu tersebut ada musim dingin maka hanya bisa memproduksi 8-10 ton pertahun.

Ditemui ditempat yang sama, Presiden Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Kurniawan menjelaskan bahwa pada tahun 2012, Indonesia telah berhasil mengekspor udang ke Amerika Serikat sebesar 74 ribu ton, Jepang sebesar 35 ribu ton, dan Eropa sebesar 15 ribu ton. \"Padahal kebutuhan pasar ekspor mencapai 3,9 juta ton. Terlebih dengan beberapa produsen udang terkena virus. Maka dari itu, ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas udang Indonesia,\" lanjutnya.

Menurut Thomas, dari nilai total ekspor pada 2012 yang mencapai US$3,9 miliar, US$1,5 miliar adalah produk perikanan. \"Kedepannya dengan beberapa strategi yang diterapkan oleh pemerintah dalam meningkatkan produksi udang nasional, kami berharap akan semakin banyak penerimaan negara dari ekspor udang,\" lanjutnya.

Konsumsi 50%

Sebelumnya, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto mengaatakan dengan seiringnya pertumbuhan produksi udang nasional, pengusaha tidak perlu cemas untuk melempar barang ke pasaran. Pasalnya, saat ini tingkat konsumsi udang masyarakat meningkat hingga 50% sehingga saat ini pemasaran udang tidak lagi bergantung pada ekspor. \"Kenapa demikian, karena konsumsi udang kita ini mencapai 50% dari produksi nasional,\" jelasnya.

Dengan demikian, pihaknya akan terus berupaya untuk menggenjo potensi konsumsi masyarakat tehadap udang. Ditanya mengenai daerah potensial penghasil udang. Slamet mengatakan daerah Pantai Utara Jawa (pantura) mulai jadi Jabar, Jateng hingga Jatim sangat potensial sebagai penghasil udang. \"Untuk yang paling besar pasokannya masih dari Lampung dan Sumatera Selatan. Tapi kita masih punya potensi luas di Indonesia. Jadi tidak perlu khawatir,\" tuturnya.

Sementara itu, terkait dengan kabar bahwa Indonesia dituduh telah melakukan praktek dumping terhadap komoditas udang. Menurut Anggota DPR komisi IV Ma\'mur Hasanudin, hal itu harus dijawab dengan peningkatan kualitas komoditas udang nasional. \"Proses investigasi sah-sah saja dilakukan oleh pihak AS, namun jika proses investigasi tersebut sudah mempengaruhi ketahanan pangan nasional dan mengatur produksi udang dalam negeri maka Pemerintah perlu melakukan pembelaan yang maksimal,\" ujarnya.

Otoritas Anti Dumping Amerika Serikat, US Department of Commerce (US-DOC), pada 18 Januari 2013, memulai penyelidikan anti subsidi produk Certain Frozen Warmwater Shrimp atau udang beku asal Indonesia adapun penyelidikan anti subsidi ini dijadwalkan akan selesai pada 29 Juli 2013. US-ITC akan mengumumkan preliminary determination pada 11 Februari 2013, dan jika pada waktu tersebut tidak ditemukan adanya injury, maka penyelidikan akan dihentikan.

\"Persitiwa ini sebenarnya memberikan paparan bahwa ternyata komoditas perikanan atau udang kita sangat berkualitas serta cukup kompetitif di pasar luar negeri karena memiliki keunggulan komparatif (competitive advantage) dalam sisi harga dan ragam jenisnya. Karenanya pemerintah perlu mendorong pengusaha dan produsen lokal mendapatkan akses seluas-luasnya kepada negara-negara pemasaran non tradisional,\" tukas Ma’mur.

Related posts