Kemendag Impor 29.136 Ton Bawang Putih - Tekan Harga

NERACA

Jakarta - Guna menekan harga bawang putih yang melonjak tajam, Kementerian Perdagangan memberikan Surat Izin Importasi (SIP) kepada 16 perusahaan importir untuk mengimpor bawang putih sebanyak 29.136 ton. \"Kemendag telah menandatangani persutujuan impor untuk 16 perusahaan. Harapan kita bisa mendatangkan pasokan sebesar 29.136 ton,\" ungkap Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Sri Agustina di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut Sri, pemberian izin impor tersebut dilakukan untuk memenuhi pasokan. Hal ini merupakan tindak lanjut dari Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RPIH) Kementerian Pertanian untuk bawang putih. Ia menjelaskan bahwa saat ini, ada 6 daerah selain Jakarta, termasuk Bandung dan Semarang yang harga bumbu masak mengalami kenaikan sebesar 3,6% dari Rp35.000 menjadi Rp38.000. \"Penyebab kenaikan harga ini kan supplier kurang dan ada problem cuaca, tapi khusus bawang putih sebetulnya ini ada hambatan di RIPH,\" akui Sri.

Lebih lanjut lagi, Sri menjelaskan bahwa kuota bawang putih yang bisa didatangkan ke-16 perusahaan itu mencakup 23% alokasi impor tahun ini sebesar 160.000 ton. Dari informasi Kemendag, pihak Kementan saat ini masih mengurus RIPH tambahan untuk 26 perusahaan lain. \"Kalau SPI 26 perusahaan itu ditandatangani Senin (pekan depan) akan ada 64.400 ton bawang putih yang kita pasok ke pasar,\" ungkapnya.

Importasi bawang putih ini rata-rata berasal dari China dan India. Masa pengiriman maksimal dua pekan dari saat SPI dikeluarkan. Meski bawang impor itu baru bisa sampai di Tanah Air paling cepat pertengahan Maret, Sri tidak khawatir, karena cadangan pedagang grosir di Pasar Induk seperti Kramat Jati masih aman. \"Teman-teman (pedagang) mereka stoknya untuk satu minggu masih ada,\" katanya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengakui bahwa pembatasan impor hortikultura yang dilakukan Kementan telah menyebabkan harga sejumlah produk hortikultura, terutama bawang putih, melambung tinggi. \"Kita tahu ada kebijakan untuk mengelola impor (hortikultura), bisa jadi itu penyebab berkurangnya pasokan. Dari sudut Kemendag hanya menunjukan bahwa inflasi akibat impor hortikultura dan kondisi cuaca dan lain-lain dan mempengaruhi produksi dan distribusi,\" jelas Bayu.

Melihat situasi ini, Wamendag mendesak agar Kementan segera mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga dan pasokan hortikultura. \"Fakta tersebut kita sampaikan pada Kementan dan silakan mereka mengambil sikap,\" tandasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Econit, Hendri Saparini justru menilai pencabutan pembatasan impor bawang putih dalam jangka pendek mungkin memang akan menurunkan angka inflasi. Namun, dalam jangka panjang bisa saja malah semakin merugikan Indonesia karena akan memperparah ketergantungan pada pasokan bawang putih impor. \"Inflasi tinggi tidak baik, (tentu saja) iya. Tapi menekan inflasi tidak seperti itu. Tidak se-simple itu, kita harus punya tujuan yang lebih luas,\" jelas Hendri.

Picu Inflasi Tinggi

Seperti diketahui, inflasi pada Februari 2013 telah mencapai 0,75%. Angka inflasi bulan Februari ini merupakan angka tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Salah satu pendorong utamanya adalah naiknya harga bawang putih sehingg berkontribusi sebesar 0,12%. Namun, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan tidak selayaknya bawang putih menjadi penyebab utama tingginya inflasi di Indonesia pada Februari lalu.

Rendahnya produksi bawang putih nasional membuat harga komoditas itu terus naik, dan untuk memenuhi kurangnya pasokan, Indonesia harus mengimpor. Petani dalam negeri hanya menyumbang 5% dari kebutuhan bawang putih nasional, sisanya dipenuhi dari impor. \"Jadi kita harus menjaga stabilitas harga bawang putih. Produksi bawang putih di tingkat petani harus kita dorong, dan jangan sampai kita ganggu,\" kata Hatta.

Selain itu, kata Hatta, pemerintah akan membatasi impor bawang putih, supaya petani menikmati tingginya harga. \"Jangan kita banjiri dengan bawang impor. Sambil kita tetap melindungi petani, tetapi kami tetap menjaga harga stabil, supaya petani tetap menikmati harga bawang,\" kata Hatta.

Ia mengatakan, impor bawang hanya dilakukan sebagai pelengkap saat terjadi kekosongan dalam negeri dan musim paceklik. \"Kita impor bawang itu supaya tidak terjadi inflasi. Kalau terjadi inflasi, pukulannya pada semua. Ya kita akan atasi,\" kata dia.

BERITA TERKAIT

2020, Kemendag Dongkrak Ekspor ke Polandia

NERACA Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan terus bekerja sama dengan seluruh perwakilan Indonesia di negara-negara kawasan Eropa Timur dan…

WEF 2020, Kemendag Siap Tingkatkan Perdagangan Nasional

NERACA Swiss – Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam kunjungan ke Davos, Swiss untuk menghadiri pertemuan tahunan World Economy Forum (WEF) ke-50 siap meningkatkan…

PT Timah gandeng Wijaya Karya Bangun Smelter Berteknologi

NERACA Pangkal Pinang - PT Timah Tbk akan membangun smelter pengolahan dan pemurnian mineral serta timah kadar rendah dengan menggunakan teknologi terbaru…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemendag Menggandeng Swasta dan Masyarakat Hadapi Ekonomi Global

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng seluruh unsur pemerintah, swasta, dan seluruh lapisan masyarakat Indonesia harus diperkuat dalam menghadapi…

Kementan Berharap Gratieks Bisa Mendorong Sektor Ekonomi

NERACA Jakarta‐ Gerakan ekspor tiga kali lipat (Gratieks) yang dilaksanakan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam waktu singkat diharapkan dapat mendorong sektor…

Kemendag Musnahkan 10.430 Regulator Tekanan Darah Tidak Sesuai SNI

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN), memusnahkan 10.430 produk regulator tekanan…