Ada Oknum Perusahaan Efek Rugikan Investor - Praktek Menyalahi Profesi

NERACA

Garut-Direktur Kepatuhan PT Bursa Efek Indonesia(BEI) Uriep Budhi Prasetyo mengatakan, saat ini masih ditemukan praktek penyimpangan agen penjual perusahaan efek terhadap nasabah atau investor, “Dari beberapa kasus ditemukan, ada oknum sales tetapi memiliki prilaku seperti fund manager yang memutuskan jual atau beli saham milik nasabah, “katanya di Garut akhir pekan kemarin.

Menurutnya, praktek seperti ini jelas melanggar aturan pasar modal. Pasalnya, selain merugikan nasabah juga menyalahi peran dan fungsi agen penjual yang hanya mencari nasabah atau investor. Karena bagaimanapun juga, keputusan membeli atau menjual saham adalah peran dari fund manager di perusahaan efek yang dipercayakan mengelola dana nasabah.

Kata Uriep, kasus semacam ini sulit dideteksi dan hanya ditemukan jika ada pengawasan dari BEI atau audit khusus. Kedepan pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada investor untuk mempercayakan dananya kepada fund manager sebagai penaggung jawab dan bukan sales.

Selain itu, BEI juga akan memberikan sanksi tegas jika masih ditemukan praktek penyalahgunaan fungsi agen penjual perusahaan efek berupa mencabut izin operasional. Pasalnya, hal ini jelas diatur dalam aturan pasar modal.

Oleh karena itu, perusahaan efek juga bertanggung jawab terhadap praktek oknum sales hingga direksi perusahaan efek, “Jelas perusahaan efek bertanggung jawab, khususnya direksi ikut mengawasi atau tidak, “tandasnya.

Dia menambahkan, biasanya praktek semacam ini timbul karena kompetisi bisnis perusahaan efek yang tidak sehat dan juga agen penjual yang mencari komisi tambahan. Maka untuk meminimalisir praktek ini, peran investor juga penting untuk tidak mudah menyerahkan dananya kepada agen penjual perusahaan efek, apalagi yang belum memiliki sertifikasi.

Karena bagaimanapun juga, praktek semacam ini jelas akan merugikan nasabah. Karena transaksi yang dilakukan tidak jelas dan nasabah tidak mendapatkan konfirmasi transaks. Sebaliknya, bila dana tersebut di kelola fund manager, nasabah berhak mendapatkan surat laporan transaksi perbulannya, “Oleh sebab itu, investor harus memonitor dananya di pasar modal dengan kartu AkseS untuk pengamanan transaksi,”jelasnya.

Selain itu, Uriep juga mengungkapkan, saham yang masuk dalam pengawasan BEI atau Unusual Market Activity (UMA) atau transaksi di luar kewajaran malah sebaliknya banyak investor yang membeli. Kondisi ini bertolak belakang yang seharusnya, dihindari investor,”Kondisi semacam ini, investor perlu diedukasi tentang saham UMA,”ujarnya.

Sebagai informasi, sepanjang tahun 2012 tren saham yang masuk dalam UMA sepanjang 2012, disebabkan maraknya pelaku pasar berburu atau memilih saham murah pada lapis kedua dan ketiga. (bani)

BERITA TERKAIT

PLN Terbitkan Surat Utang Rp 5,7 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat struktur permodalan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menggalang dana hingga Rp 5,7 triliun dari penerbitan surat…

Bidik Pasar Ekspor Timor Leste - Japfa Targetkan Volume Ekspor 1000 Ton

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan pasar ekspor, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melakukan ekspor perdana produk pakan ternak ke…

Pendapatan Merdeka Copper Naik 66,95%

NERACA Jakarta - Emiten pertambangan logam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengantongi pendapatan US$191,77 juta pada semester I/2019 atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Genjot Pertumbuhan Investor - BEI Gelar Sekolah Pasar Modal HIPWI FKPPI

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus perluas edukasi  manfaat pasar…

Raih Global Islamic Finance Awards - Pasar Modal Syariah Indonesia Terbaik di Dunia

NERACA Jakarta –Kesekian kalinya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapatkan penghargaan internasional Global Islamic Finance Awards (GIFA) 2019 untuk kategori…

WEGE Catatkan Kontrak Baru Rp 5,2 Triliun

NERACA Jakarta – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatatkan kontrak baru hingga pekan pertama September 2019 mencapai Rp5,2…