BI: Cadev Turun untuk Jaga Likuiditas Pasar Valas

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk menjaga likuiditas pasar valuta asing (valas) di dalam negeri. Sehingga apabila terjadi kekurangan likuiditas di sana akibat dari besarnya permintaan, maka BI mengeluarkan kebijakan untuk menggunakan cadangan devisa (cadev) RI untuk memenuhinya. Hal ini tentu saja menyebabkan cadev menurun sebesar US$7,58 miliar, dari posisi akhir tahun 2012 sebesar US$112,78, menjadi US$105,2 miliar pada akhir Februari 2013.

“Itu kan dalam rangka menjaga likuiditas di pasar valas. Jadi kita memang melihat dan memantau kalau pasar valas membutuhkan likuiditas, (maka) kita akan masuk,” ujar Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI, saat ditemui wartawan di Jakarta, Jumat (8/3).

Halim menganggap bahwa sampai saat ini kebijakan devisa yang telah dilakukan BI masih dalam batas normal dan tidak menyebabkan masalah. “Tentu saja nanti kita berharap akan ada semakin banyak inflows yang masuk dikaitkan dengan ketersediaan. Suplai valas tentu saja harus kita tambah, jadi kita harap pelan-pelan pasar akan mengisi kekurangan itu (dengan sendirinya),” ucapnya.

Kondisi pasar valas Indonesia sendiri saat ini memang sedang mengalami peningkatan permintaan sejalan dengan kenaikan pertumbuhan perekonomian. Maka itu BI berusaha terus menjaga ketersediaan valas dengan memenuhinya dari cadev RI, namun ini berimbas pula terhadap stabilitas nilai tukar atau kurs rupiah.

“Itu sebabnya mengapa cadangan devisa kita agak sedikit berkurang. Tapi dalam beberapa waktu terakhir kami menilai dengan kebijakan ini sudah cukup berhasil. Pasar cenderung sudah mulai nyaman dengan situasi yang ada karena beberapa waktu ini saya kira capital inflows sudah kembali masuk ke Indonesia,” tuturnya.

Aliran masuk modal asing (capital inflows), lanjut Halim, khususnya untuk dana-dana jangka pendek sudah mencapai US$2,3 miliar pada akhir Februari 2013. “Hal ini menunjukkan pasar sudah yakin terhadap kondisi pasar valas kita akan terkendali. Maka itu, kebijakan kita dalam pasar valas masih akan tetap dilanjutkan dengan beberapa perbaikan,” katanya.

Halim juga mengatakan bahwa jumlah tersebut cukup memberikan optimisme terhadap pasar valas, mengingat selama tahun 2012 lalu, capital inflows jangka pendek hanya sekitar US$6 miliar. Terkait dengan ini, BI siap melakukan intervensi ke pasar valas jika dibutuhkan, serta akan membentuk referensi kurs rupiah di pasar spot domestik.

“Kalau untuk kurs, saya pikir sampai Januari kemarin masih cenderung menguat rupiah kita,” tegasnya.

Soal inflasi, Halim menjelaskan bahwa BI akan menjaganya serendah mungkin ke depannya. “Dalam konteks inflasi memang ada kenaikan bulan lalu, tapi saya kira pemerintah dan BI akan melakukan langkah-langkah ke depannya, yang mana ini kembali masuk dalam target kami yang relatif tolerable untuk perekonomian kita,” ungkapnya.

Halim menambahkan bahwa kenaikan inflasi di Februari 2013 itu lebih disebabkan oleh kenaikan volatile foods. “Jadi (kenaikan itu) bukan terkait dengan fundamental, tapi lebih karena terkait permasalahan di bidang suplai yang sifatnya sementara. Sehingga saya kira (inflasi) masih oke,” imbuhnya.

Sementara untuk perekonomian Indonesia, terang Halim, jika dilihat dari sisi ekspornya sudah mulai meningkat kembali, dan akan semakin membaik pada semester kedua 2013 mendatang. Keoptimisan ini muncul dikarenakan kondisi perekonomian di beberapa negara mitra dagang utama, seperti Cina, Singapura, dan AS, juga sudah mulai pulih.

“Ini juga tercermin dari mengapa investor cukup bullish atau cukup yakin dengan kondisi ekonomi kita (saat ini). Dan itu juga tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),” tandasnya. [ria]

Related posts