2012, DPK Bank BJB Capai Rp50,6 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Bank Jawa Barat dan Banten Tbk atau Bank BJB mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 29,6% atau senilai Rp50,6 triliun di akhir 2012, dari Rp39,04 triliun di periode sama 2011. Kalau dilihat dari mata uangnya, DPK dalam rupiah sebesar Rp47,22 triliun, meningkat 28,7%, dari Rp36,70 triliun di periode sama 2011; sedangkan dalam valuta asing (valas) sebesar Rp320 miliar, naik 4,9% dari 2011 yang sebesar Rp305 miliar.

“Ini tumbuh lebih tinggi daripada pertumbuhan industri yang hanya sebesar 15,6%. Sementara cost of fund kita turun dari 6,8% menjadi 5,2%. Sehingga dengan begitu, kita tidak melakukan price war strategy, melainkan cara-cara lain seperti mengeluarkan program-program untuk meningkatkan loyalti nasabah,” kata Bien Subiantoro, Direktur Utama Bank BJB, ketika ditemui pada Paparan Kinerja Triwulan IV Tahun 2012, di Jakarta, Jumat (8/3).

Bien menambahkan bahwa dirinya sangat impress dengan pertumbuhan dana murah (cash account saving account/CASA) yang diperoleh bank yang dipimpinnya yakni sebesar 49,8%. Secara komposisi, giro sebesar Rp14,52 triliun, naik 32,5% (yoy), dari Rp10,96 triliun; tabungan sebesar Rp8,7 triliun, meningkat 44,2% (yoy), dari Rp6,03 triliun; serta deposito Rp24,32 triliun, tumbuh 28,5% (yoy), dari Rp20 triliun.

“Jumlah tabungan masih bisa dinaikkan menjadi Rp10 triliun lagi sampai akhir tahun ini. Yaitu dengan memperbanyak kantor cabang dan ATM. Untuk menambah nasabah tabungan baru, kita mengadakan misalnya acara BJB nonton bareng, BJB Fun Bike, dan BJB Trail Adventure. Sementara untuk nasabah BJB Precious (prioritas) juga berkembang cukup baik, dengan sekarang ada sekitar 600 nasabah,” jelasnya.

Penyaluran kredit mencapai Rp35,4 triliun, meningkat 31% dari akhir 2011 yang sebesar Rp26,9 triliun. Rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross sebesar 2,1%, dan NPL nett sebesar 0,5%. Sedangkan pembiayaan syariah mencapai Rp3,0 triliun atau tumbuh 67,5% (yoy).

Dilihat dari masing-masing jenisnya, penyaluran kredit konsumer tercatat sebesar Rp22,62 triliun, naik 18% (yoy), kredit mikro sebesar Rp4,54 triliun atau naik 52,8% (yoy), dari Rp2,97 triliun, kredit komersial sebesar Rp6,33 triliun, tumbuh 43,9% (yoy), dari Rp4,4 triliun, kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp1,72 triliun, tumbuh 279,9% (yoy), dari Rp453 miliar.

“Kredit mikro bisa tumbuh sebesar itu karena kita punya infrastruktur Waroeng BJB (per akhir Desember 2012 sudah 467 outlet). Itu baru take off pada Juli 2012, namun sudah bisa tumbuh lebih dari 50%. Tahun ini diharapkan tumbuh cepat supaya bisa memenuhi anjuran BI yaitu kredit UMKM minimal harus 20% dari total portofolio kredit. KPR tumbuh karena kita punya sistem online, lalu banyak developer besar yang kerjasama dengan kita. Source of growth-nya di Jabar, Banten, Jatim, dan Bali,” tuturnya.

Sehingga loan to deposit ratio (LDR) sebesar 74,1%, naik 1,1% dari akhir 2011 yang sebesar 73,0%. Untuk kredit sendiri, selain kepada pegawai Pemda Jabar, juga perseroan ini berikan kepada perusahaan BUMN, multifinance, juga lewat sindikasi dengan bank lain.

“Kinerja BJB di kredit sindikasi baik, NPL tidak ada. Karena kita juga tidak mau berikan kredit ke perusahaan abal-abal, yaitu perusahaan yang mencari kredit sebesar-besarnya tapi tidak memperhatikan debt equity ratio. Untuk multifinance juga kita biayai yang benar-benar baik (kinerjanya) yang juga sudah terpercaya di bank lain,” ucapnya.

Bank BJB, kata Bien, juga sudah mulai membiayai transaksi ekspor-impor melalui layanan trade finance. “Trade finance sudah semakin besar untuk ekspor-impor. Ini sudah mulai take off di beberapa perusahaan besar di Jakarta, Solo (Jawa Tengah), dan tentunya Jawa Barat dan Banten,” imbuhnya.

Laba bersih tercatat Rp1,19 triliun atau naik 24% dari periode sama 2011 yang sebesar Rp962 miliar. Total aset mencapai Rp70,84 triliun atau meningkat 30,1% dari periode sama 2011 yang berjumlah Rp54,45 triliun.

“Kita sangat bersyukur atas pencapaian laba tersebut yang melebihi target. Ini pertama kalinya laba tembus Rp1 triliun. BJB memang setiap tahun membuat milestone misalnya aset di awal tahun lalu ditargetkan Rp50 triliun, tapi sekarang mencapai Rp70,8 triliun. Kemudian laba ditargetkan hanya Rp1 triliun, namun pencapaiannya adalah Rp1,19 triliun,” ungkapnya.

Pertumbuhan di penyaluran kredit maupun penghimpunan DPK tentu saja ikut mendorong naiknya tingkat profitabilitas Bank BJB. Hal ini dapat dilihat dari return on asset (ROA) yang berada di posisi 1,9%, return on equity (ROE) 21,3%, dan net interest margin (NIM) 6,8%.

Lalu, pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar Rp3,65 triliun, naik 19,4% dari Rp3,06 triliun di 2011. Fee based income sebesar Rp247 miliar, meningkat 28% dari jumlah di 2011 yang sebesar Rp193 miliar. Sementara rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 54,4%, naik dari 51,6% di periode sama 2011.

Mengenai permodalan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) per akhir tahun lalu sebesar 18,1%. Namun ini turun dari angka di 2011 yang sebesar 18,4%. Modal tier 1 sudah mencapai Rp4,57 triliun di akhir 2012.

“Tapi di awal 2013 ini, modal kita sudah mencapai Rp5 triliun sehingga sudah masuk BUKU 3. Jadi kami belum ada rencana tambah modal di tahun ini. Tidak juga dengan mengeluarkan obligasi, karena itu biayanya mahal, sehingga nanti malah menyebabkan cost of fund naik,” pungkasnya. [ria]

Related posts